Tipu dengan senyummu
Sementara mata Dandi terbuka lebar, perasaan semakin tak karuan melihat seseorang dengan pakaian seksi memasuki toko kue, jantungnya mencelos melihat penampilan mantan istrinya yang kini menatap sengit ke arahnya.

“Ze,” gumamnya tak percaya, wanita saliha yang begitu mengagumkan di masa lalu kini hanya cerita, berganti dengan wanita seksi dengan pakaian mini, rok di atas lutut dan kemeja yang menunjukkan lekuk tubuh serta rambut yang dicat berwarna burgundy dengan model rambut wanita bergaya bob dan potongan layer. Potongan yang cocok di wajah bentuk oval Zelmira dengan mata bulatnya.

Dengan santai Ze melangkah dan mencium punggung tangan Rahmi dan terduduk di seberang posisi Dandi. Lalu, menoleh ke arah Dandi yang menatapnya tak kedip.

“Apa kabar, Mas?” tanya Ze menahan perih di hati, kepingan ingatan pahit terasa menggerogoti kembali hati yang masih rapuh. Namun, tak membuat dirinya tampak lemah di depan pria yang sudah menyakitinya. 

“Ini bukan Zelmira yang kukenal,” sahut Dandi tanpa melepaskan pandangan, ini seperti mimpi, dan ingin rasanya ia menutup semua lekuk tubuh yang tampak dari ketatnya pakaian yang Ze pakai.

Ingin rasanya Dandi menutup rambut bercat burgundy itu dengan hijab, memakaikan gamis, sungguh ia terkejut bukan kepalang setelah melihat tampilan Zelmira saat ini.

“Zelmira-ku wanita saliha, bukan wanita seksi seperti ini. Mempertontonkan aurat tanpa malu,” lanjut Dandi memberikan penilaian.

Ini adalah pertemuan pertama mereka setelah perceraian terjadi, sedangkan Rahmi hanya berkomunikasi tentang perkembangan usaha yang masih dipegang bersama saat Dandi tak bisa mengelola karena kesibukan pria itu.

Ze tertawa kecil mendengar ucapan penilaian Dandi—mantan suaminya yang sama sekali tak membuat dirinya terusik, “Ini hidupku, tetapi kamu bebas menilai,” sahut Ze mengendikkan bahu tak acuh.

“Ke mana hijab yang menutupi mahkotamu? Gamis? Dan semua hal yang melekat pada dirimu, Ze?” cecar Dandi yang ditanggapi kekehan tawa merendahkan dari wanita yang kini menatapnya dengan sinis.

Punya hak apa Dandi atas hidupnya? Siapa dia? Tak sadarkah dirinya bukanlah siapa-siapa lagi? Tak sadarkah apa yang sudah pria itu lakukan terhadapnya? Zelmira membatin, memutar bola mata malas, muak mendengar pria yang dinilai sok alim olehnya.

“Sudah kubakar ... lebih nyaman dengan penampilanku sekarang,” kata Ze, “aku tidak ingin menjadi kaum munafik sepertimu, Mas Dandi. Inilah aku, bukan wanita saliha yang dihadapkan pilihan dimadu atau bercerai karena sebuah obsesi menikahi perawan tua atau bisa juga disebut pelakor,” cibir Ze memantik emosi Dandi dengan kalimat sarkas yang terlontar hingga tangan pria itu terkepal kuat sampai buku jemari memutih.

“Jaga ucapanmu, Ze!” seru Dandi dengan mata saling bersitatap meneliti tampilan Ze dari atas sampai bawah dan beristighfar tanpa henti, sungguh ini tak pernah ada dalam bayangan Dandi kalau Ze akan sehancur ini setelah perceraian mereka.

“Jaga matamu, Mas Dandi. Jangan bilang kamu membayangkan bisa menyentuh tubuhku yang seksi ini,” sahut Ze meledek dengan tawa yang terdengar dan berdiri dari duduknya.

“Melihat wajahmu membuatku mual, begitu memuakkan dengan kelakuan sok alim tapi hati setan dengan nafsu besar,” ucap Zelmira dengan kalimat hinaan dan tawa geli yang terdengar lalu melangkah pergi, mengabaikan Dandi.

“Ze!” panggil Dandi yang ingin menyusul langkah tetapi dicekal oleh Rahmi.

“Jaga batasanmu, Dan. Bagaimana pun kamu hanyalah mantan yang tak berhak secuil pun mencampuri urusan pribadi Zee,” tegur Rahmi dengan satu tangan yang lain mengusap jejak air mata.

Ibu mana yang tak hancur hatinya melihat sosok Ze yang berubah dan meninggalkan semua ajaran agama mendiang sang suami, untuk membentuk anaknya menjadi wanita saliha karena kegagalan berumah tangga dan kehilangan putri yang baru dilahirkan tanpa bisa menyentuhnya setelah ia mengandung 9 bulan.

Hati Rahmi hancur, paham dengan kesedihan anaknya yang berusaha ditutupi di balik sikap abai dan santai yang Ze tunjukkan, di balik senyum yang selalu ia tampilkan hanya untuk membahagiakan dirinya.

“Kamu di sini hanya sebatas kerjasama mengenai bisnis yang Ibu kelola, tidak untuk menilai dan mengatur Ze atau menghakimi dia,” tegas Rahmi lalu menaikkan tatapan ke arah Dandi yang juga sedang menatap wajah sendu yang ditampilkan sahabat ibunya.

“Ze bukan siapa-siapa lagi untukmu, tidak ada tanggungjawab atau hal apa pun yang membebanimu agar mengembalikan Ze yang dulu. Urus rumah tanggamu, biar Ze menjadi urusan Ibu—wanita yang melahirkannya, bukan pria yang menghancurkan hidup putrinya,” ucap Rahmi dengan kalimat menohok untuk Dandi.

Naik ke lantai atas Ze menuju kamar yang berada di ujung ruangan, lalu menghempaskan tubuh dengan posisi tertelungkup dan tangisan yang tumpah di atas bantal.

“Kenapa kamu hadir lagi, Mas? Untuk menunjukkan kamu sudah bahagia dengan dia—istri barumu—perebut kebahagiaanku, iya?” gumam lirih Ze dengan air mata yang tumpah dari bendungan dan seolah-olah tak akan pernah berhenti dan siap ditumpahkan untuk melegakan hati.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Larasati Hendarsyah binti Abi Hendarsyah dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

“Sah.”

“Sah.”

“Sah.”

Kabul yang diucapkan Dandi terngiang di telinga Zelmira, kejadian di masa lalu saat ia dengan sekeping kekuatan datang untuk menyaksikan akad nikah Dandi di sebuah ruangan rawat inap rumah sakit dari celah daun pintu yang terbuka.

Kepingan kekuatan itu benar-benar hancur, Ze memundurkan langkah saat mengintip Dandi memberikan kecupan di kening Laras—istri kedua pria yang sudah mengucapkan talak beberapa jam sebelumnya.

Kini, Ze menepuk dada yang rasanya dipenuhi sesak kembali mengingat kenangan pahit ketika pria yang  bisa membahagiakannya, menjadikan dirinya wanita paling beruntung sedunia kini berbanding terbalik. Nyatanya, pria yang menghancurkan kebahagiaannya adalah pria yang selama ini menjadi sandaran untuknya sepeninggal sang Ayah.

“Kenapa masih terasa sesak, kenapa?” rutuk Ze memukuli dadanya dengan tangisan yang tumpah dan tubuh yang bergetar hebat karena tangisan.

Rahmi menyusul langkah putrinya ke dalam kamar setelah beliau meminta Dandi untuk pergi dari toko roti, kembali menguatkan sang anak yang hanya terlihat kuat di luar dan sesungguhnya rapuh di dalam hatinya.

“Ze,” panggil Rahmi dengan suara lembut setelah membuka pintu ruangan tempat istirahat disela aktivitas mengurus toko.

Merasa namanya dipanggil, Ze langsung menghapus jejak air mata dengan kasar lalu bersikap tegar dengan menampilkan senyuman.

Melihat putrinya, hati Rahmi kembali gerimis oleh kesedihan ... lara sang anak kapan usai? Harapan Rahmi agar Ze menemukan kebahagiaan bukan pura-pura bahagia dan tegar seperti sekarang.

“Teruskanlah tangisanmu, Nak. Ada Ibu yang meskipun sudah tua bisa menjadi tempat ternyaman untukmu mengeluarkan keluh kesah, bahkan menumpahkan air mata,” kata Rahmi terduduk di sisi ranjang.

Ze diam, meremas sprei dan masih berusaha menahan tangisan yang masih ingin ia tumpahkan.

“Namanya hidup, ada manis ada pahit, ada bahagia ada lara. Tersenyumlah Ze untuk semua orang, tipu mereka dengan senyumanmu, tetapi tidak dengan ibu yang sudah melahirkanmu,” kata Rahmi yang suaranya terdengar bergetar lalu beliau menepuk dada, “dada Ibu masih cukup lapang untuk sekadar menampung sebuah tangisan lara anaknya,” lanjut Rahmi yang membuat hati Ze semakin teriris perih.

“Hidupku layaknya sebuah kuburan sempurna untukku menguburkan semua harapan kebahagiaan, Bu. Aku hancur, aku lelah, aku—“ tangisan Ze pecah tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

Rahmi mendekap erat tubuh putrinya, air mata luruh juga pada akhirnya, “Kecewa karena dirimu menaruh harapan lebih dari kepada selain Allah, kembalilah pada-Nya Ze,” tutur Rahmi begitu lembut, berharap bisa mengetuk hati putrinya.

~Bersambung~