Permintaan dan Putusan
“Bantu aku, Dan ... bantu aku mewujudkan keinginan Ayah untuk melihatku menikah dan menyaksikan pernikahanku,” mohon Laras saat bertemu sahabatnya di sebuah restoran cepat saji siang ini.

Alis Dandi bertautan, belum mencerna ucapan Laras yang memintanya untuk membantu mewujudkan pernikahan impian sahabatnya itu.

“Aku tidak punya kandidat calon suami untukmu, Ras. Kamu bahkan menolak beberapa pria yang sempat kukenalkan untuk dijadikan pertimbangan calon suami,” sahut Dandi dengan polosnya, berpikir Laras meminta dirinya mencarikan calon suami untuk wanita yang ia kenal sejak kecil.

Laras menggelengkan kepala, memandang Dandi dengan tatapan penuh harap, “Bukan itu maksudku, Dan.”

“Lalu?” tanya Dandi, bingung.

“Menikahlah denganku, jadikan aku yang kedua pun tak masalah. Tidak ada pria yang kupercaya selain dirimu, Dan,” pinta Laras yang sukses membulatkan mata Dandi dengan tatapan tak percaya.

Bagaimana mungkin ia menikah dengan sahabatnya sendiri? Lalu, bagaimana dengan istrinya—Zelmira? Terlebih rumah tangga mereka baru diberikan ujian kesabaran setelah anak yang dinantikan berpulang.

“Aku tidak bisa, Ras.”

Tangan Laras merambat maju, mengambil tangan Dandi hingga menghadirkan gelenyar aneh dalam dada pria itu. Ini pertama kalinya Laras berani menggenggam tangan seperti ini dan rasanya ada yang berbeda.

“Aku rela dijadikan adik madu untuk Ze, Dan. Aku rela,” katanya penuh keyakinan, “asal kamu mau memenuhi keinginan Ayah, nikahin aku ....”

Dandi terus beristighfar, tidak! Ia tak sampai hati menyakiti Ze yang sedang rapuh saat ini sepeninggal bayi mereka, tetapi satu hal yang mengusik hati Dandi.

“Istri anda tidak diperkenankan hamil, karena jika itu terjadi akan mengancam nyawanya. Jadi, jangan sampai istri anda hamil dalam waktu dekat, kita akan merencanakan kehamilan setelah dua tahun, Pak. Tapi tidak dalam jangka waktu dekat.” Perkataan Dokter yang tiba-tiba terngiang.

Namun, di sisi lain ada tuntutan ibunya yang harus ia lakukan, “Ibu sudah tua, Dan. Kamu satu-satunya harapan Ibu memberikan cucu, ibu ingin menggendong cucu ibu sebelum menyusul mendiang Ayah nantinya.” 

Kini ucapan ibunya berdengung kencang, membisikkan hal lain untuk mengubah keputusannya. Ia ingin membuat ibunya bahagia di usia senja dengan penyakit stroke yang diderita. Pikiran Dandi tiba-tiba menjadi sempit, ia meneliti tampilan Laras yang tampak cantik meskipun tanpa hijab yang wanita itu kenakan.

“Dandi, kumohon ... aku akan melakukan apa pun yang kamu minta. Tak ada pria yang kupercaya selain kamu, Dan. Seandainya kita dipertemukan lebih awal, mungkin aku akan menuntut untuk dinikahi olehmu sejak awal sebelum kamu menikah dengan istrimu,” desak Laras yang pikirannya sudah buntu.

Penyesalan terbesar Laras adalah ia baru dipertemukan oleh sahabatnya dua bulan terakhir, saat tak sengaja menghadiri acara seminar yang sama.

“Ubah penampilanmu menjadi seorang muslimah, itu syarat pertama. Kedua, kamu jangan menuntut banyak tentang waktu dan hal lain karena prioritas kebahagiaanku saat ini adalah Zelmira—istriku. Jika kamu mau mengikuti semua keinginanku, akan kuusahakan membantu mewujudkan keinginan ayahmu,” putus Dandi yang entah keberanian dari mana secepat itu mengambil keputusan.

Siapa yang bisa menolak wanita secantik Laras? Sepintar Laras? Tanpa melepaskan wanita yang ia cintai juga, Zelmira ... istrinya. Sisi lain dalam diri Dandi bersorak bahagia, tetapi di sisi lain merutuki keputusannya saat ini.

“Kamu akan menyesal Dandi! Menyesal!” teriak sisi lain dalam diri Dandi yang diabaikan begitu saja ketika ia lebih memikirkan kebahagiaan dengan istri dua.

Pertemuan yang membuat Dandi tersenyum sepanjang perjalanan pulang, sementara Laras langsung mempersiapkan semua acara akad nikah yang akan dilangsungkan di ruang rawat inap rumah sakit. Terlebih Dandi sudah berbicara langsung dengan ibunya.

Sesampainya ia di rumah, wajah cantik Zelmira menyapa menghampiri Dandi dan mengambil satu tangan suaminya dengan mencium punggung tangan dengan takzim.

“Mas ... aku sudah memasak makanan kesukaanmu hari ini, ada gurame asam manis dan capcay, kamu harus makan banyak,” kata Zelmira bergelayut manja di lengan suaminya yang satu tangan mengelus puncak kepalanya dengan sayang.

“Sudah lebih baik hari ini?” tanya Dandi, meneliti wajah sang istri yang kini mengangguk dan tersenyum semringah.

“Sudah ... kamu kan selalu menyemangati, hari ini aku berusaha untuk mengikhlaskan semuanya. Insyaallah kita akan dipertemukan di surga-Nya,” jawab Ze dengan penuh keyakinan. 

“Istri saliha,” puji Dandi, mengubah posisi tubuh sang istri hingga saling berhadapan lalu mendaratkan kecupan di kening seraya tersenyum hangat penuh kelegaan ketika wajah sang istri berbinar bahagia.

Mereka akhirnya makan dengan suasana hangat keluarga hanya berdua, membicarakan banyak hal tentang pekerjaan dan hal lain dengan canda tawa.

Keesokan hari, Zelmira seperti biasa melakukan aktivitas harian pagi ini, mempersiapkan semua keperluan Dandi untuk bekerja dan menyiapkan sarapan mereka.

Suara kran air terdengar berisik dalam kamar mandi saat Ze ingin memanggil suaminya untuk sarapan pagi ini, lalu ia menyiapkan baju yang akan dikenakan sang suami, lalu gerakannya berhenti saat mendengar dering ponsel suaminya dengan latar tak terkunci.

Pesan masuk ke dalam ponsel yang sudah berada dalam genggaman, tangan Zelmira bergetar ketika membaca pesan demi pesan yang menampilkan sebuah kebaya dan juga jas akad nikah.

[Semoga pas ditubuhmu, Dan.]

“Apa maksud ini semua?” gumam Zelmira.

[Aku sudah menggunakan hijab, menutup semua auratku untuk memenuhi syarat darimu.]

Mata Zelmira sudah mulai mengembun, perasaan sudah tak karuan membaca pesan yang dikirimkan. Hingga pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Dandi dengan tampilan yang sudah lebih segar.

“Apa maksud ini semua, Mas?” tanya Zelmira membulatkan mata Dandi saat gambar Laras memakai hijab memenuhi layar ponsel.

“Tenang, Ze. Biar Mas jelaskan,” kata Dandi memegang kedua pundak Ze yang tubuhnya sudah kaku.

Wanita 26 tahun itu pun meneteskan air mata, ada sesak yang dirasa dan sudah menduga akan satu hal yaitu suaminya akan menduakan.

“Dengarkan Mas, Sayang,” kata Dandi mulai memberikan penjelasan dan berharap bisa meyakinkan istrinya.

“Ayah Laras sedang sakit keras dan ingin sekali menyaksikan pernikahan anak perempuan pertamanya, Laras hanya mengenalku karena kami adalah teman sejak kecil, kebetulan dipertemukan dua bulan terakhir dan menggarap pekerjaan bersama,” kata Dandi.

Ze mendongakkan wajah, menghapus jejak air mata, “Alasan klise,” sahut Ze.

“Istri saliha adalah istri yang mendukung apa pun keputusan suaminya, termasuk menikah untuk kedua kalinya. Mas akan berlaku adil, Laras pun tak menuntut banyak hal, Ze. Kamu akan tetap menjadi pertama dan utama,” kata Dandi mulai meyakinkan sang istri berharap Ze mau menerima keputusan yang sudah ia ambil.

Zelmira tertawa kecil di balik air mata yang berduyun-duyun turun membasahi pipi. Lalu, ia mengusap kembali air mata itu, mendongakkan wajah menatap berani sang suami dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping.

“Jika kamu ingin menjadikanku wanita sekuat dan sesabar Hafshah Putri Umar bin Khatab kamu salah besar Mas, aku tak sekuat itu setelah apa yang terjadi dalam hidupku kehilangan anak kita, aku pun bukan termasuk ke dalam istri yang sabar terbukti masih lemah dan frustrasi. Aku hanyalah wanita akhir zaman, wanita egois yang hanya ingin satu-satunya dicintai,” ujar Zelmira dengan suara bergetar.

“Ze ... aku tidak bisa membatalkan pernikahan itu, aku sudah berjanji dengan Laras,” sahut Dandi.

“Ceraikan aku saat ini juga, ucapkan talak, dan silakan menikah dengan wanita teman masa kecilmu,” tegas Zelmira yang menolak pernikahan kedua suaminya.

Dandi menggelengkan kepala tak percaya, Zelmira termasuk istri penurut, bagaimana mungkin bisa menentang keputusannya? 






~Bersambung~

Karya on going

Terjerat Sesal dan Cinta Masa Lalu


17 Karya yang sudah Tamat



#Mengejar Cinta Mantan Istri

#Goresan Cinta dan Luka

# Love You Sersan

#Terpaksa Menikahi Duda

#Desain Cinta Sang Arsitek

#Kejutan Diamnya Istriku

#Ketika Kesetiaan dibalas luka

#Rahasia di Gawai Suamiku

#Pasca Cerai

#dll

Kunjungi akun, follow, rate dan subscribe ceritanya ... terima kasih ❤️