Dua Tahun kemudian
Dua tahun kemudian ....

“Ya Allah Ze, kamu mabuk lagi?” kata Rahmi untuk kesekian kalinya harus mengelus dada ketika sang anak setiap malam minggu sudah pasti akan mengunjungi klub malam.

“Sedikit Bu, lumayanlah hilangin sedikit bebanku,” sahut Zelmira yang setengah sadar dan melangkah kembali lalu langsung menghempaskan tubuh di kasur kamar miliknya dengan mata terpejam.

“Waktu akan menyembuhkan luka, itu hanya omong kosong belaka! Luka hati tetaplah menganga. Tapi akan kubuktikan, bisa hidup tanpanya,” ucapnya sebelum terbuai oleh mimpi dengan tubuh sudah terasa lelah.

“Kita bisa hidup bersama Ze, izinkan aku menikahi teman kecilku. Kalian bisa hidup rukun dan berbagi banyak hal nantinya, kita akan menjadi keluarga besar dan kupastikan kebahagiaan, Ze.”

Perkataan yang terus terngiang di telinga, menusuk hati, menghancurkan hatinya yang dipenuhi lara hingga berkeping-keping.

Air mata Ze mengalir dari bendungan tanpa bisa dicegah, mata kembali terbuka, “Saat diri ini bisa lega dan mengharuskan untuk menangis, bukankah cukup luapkan? Tanpa berpura pura tegar, karena tak semua air mata berarti sebuah kelemahan,” gumamnya yang selama ini selalu menampilkan ketegaran di depan semua orang termasuk Ibu kandungnya sendiri.

“Seandainya kamu masih hidup, Sayang? Mama pasti akan bahagia, meskipun tanpa sosok papamu di sisi,” kata Ze melihat bingkai foto seorang bayi yang sudah terbungkus kain kafan dan juga foto gundukan tanah yang masih basah menjadi saksi bisu seorang Ibu harus mengikhlaskan kepergian sesuatu yang sudah ia nanti sejak lama dengan kehancuran hidup dan kebahagiaannya.

“Seandainya kamu tak memberikan pilihan, mungkin kita akan tetap bertahan menghadirkannya kembali, Mas,” desis Ze tersenyum getir dengan mata yang ia usahakan terpejam kembali.

**

“Sudah Sempurna, janda menggoda,” kekehnya, “tapi ga akan jadi orang ketiga seperti wanita itu—perawan tua.”

Zelmira bergumam sambil mematut dirinya di depan cermin, memberikan polesan riasan yang membuat wajahnya berkali-kali lipat lebih cantik dengan mata bulat dan lentiknya bulu mata serta kulit bak batu pualam.

“Tugas malam hari ini, Ze?” tanya Rahmi--ibunya saat melihat sang anak sudah kembali bangkit menata hidup dan bertugas lagi dua bulan terakhir setelah dua tahun seperti mati suri dan hanya mengurung diri di kamar.

“Iya, Bu. Aku tidak mungkin mengurung diri terus, iya ‘kan?” sahutnya lalu mengambil satu tangan Rahmi untuk ia cium dengan takzim.

“Kalau kamu masih membutuhkan waktu ya tidak masalah, Ibu akan mendukung apa pun keputusanmu, Sayang,” jawab Rahmi.

Zelmira mencium pipi Rahmi, menampilkan senyuman, “Aku baik-baik saja dan bisa tanpanya, Bu,” jawabnya penuh keyakinan.

Rahmi meneliti penampilan Ze, bekerja di sebuah rumah sakit swasta dan termasuk rumah sakit kalangan elit. Membuat tampilan Zelmira layaknya seorang Sales Promotion Girl dengan tampilan riasan yang fresh. Rahmi mengambil napas dalam melihat penampilan Zee yang begitu seksi dengan lekukan tubuh yang indah.

“Tetapi, bisakah ibu memintamu agar kembali seperti dulu? Menutupi seluruh aurat yang kamu buka sekarang, Ze?” tanya Rahmi dengan sebuah tuntutan.

Zelmira menggelengkan kepala kuat mendengar permintaan ibunya, “Biar Tuhan protes dan marah terus membujuk dan mengabulkan permintaanku,” katanya sejenak terdiam.

“agar Tuhan mengembalikan anakku dan memberikan kesempatan mengandung dan melahirkan lagi supaya ga ada julukan wanita mandul atau wanita tak berguna,” sahutnya terdengar sedang menantang Tuhan.

“Ze ....”

“Lebih baik bukan menjadi wanita saliha, Bu. Dibandingkan dengan jilbab yang kupakai, aku dituntut menjadi istri saliha dan berbakti dengan menyakiti hati ketika suami ingin menikah lagi,” sahut Zelmira yang menyimpan luka menganga dalam hati.

“Kamu salah besar, Ze. Saat Allah menimpakan ujian, maka bersabarlah karena ketika kamu bisa melewatinya maka kebahagiaanmu akan menyapa dengan semua nikmat-Nya,” sanggah Rahmi, jelas anaknya salah, tetapi Zelmira sudah putus asa atas takdir-Nya, mengutuk Tuhan karena sebuah lara yang begitu menyiksa.

Rahmi menoleh ke arah bingkai foto, di mana ada mendiang suaminya dan juga foto Zelmira memakai hijab panjang menampilkan senyum bahagia dan keteduhan di wajah. Namun, sekarang semua sudah sirna.

“Ibu ingin Zelmira yang dulu kembali,” kata Rahmi lirih, tetapi hanya ditanggapi senyum tipis Zelmira sebelum akhirnya pamit, mencium punggung tangan ibunya dengan takzim.

Memasuki mobil, Ze memejamkan mata mengingat seseorang yang sudah memberikan semua yang ia miliki saat ini pasca perceraian mereka.

“Aku tetap akan memberikan hak yang memang seharusnya kamu miliki, Ze,” kata seorang pria yang tak lain adalah mantan suaminya sekarang.

“Mantan istriku akan tetap menikmati harta gono-gini selama pernikahan kita, aku tidak akan menahan hak yang memang seharusnya kamu dapatkan. Terserah jika memang semua harta ini nanti kamu jual kembali.”

Perkataan yang berdengung kencang di telinga hingga Zelmira mengeratkan genggaman tangan di stir mobil miliknya.

“Aku akan tetap menikmati semua pemberianmu, Mas. Meskipun masih terasa perih, tetapi aku tak akan membunuh semua kenangan sekaligus rasa sakit yang kamu torehkan,” gumam Ze sebelum melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit, di mana dirinya berprofesi sebagai perawat.

Sesampainya di rumah sakit, tugas pertama Zelmira menyapa. Perawat dan Dokter IGD disibukkan dengan penanganan korban kecelakaan mobil, 4 korban yang masuk bersamaan ke ruang IGD dalam kondisi bersimbah darah.

“Ze! Tangani bayi ini!” titah rekannya memberikan anak berusia 2 tahun yang menangis ke gendongan Ze dan dengan cepat membaringkan tubuh anak perempuan itu ke brankar tirai terujung ruangan.

“Pa-pa, Pa-pa,” panggil anak korban kecelakaan yang ditangani Ze.

“Iya Sayang, nanti Papa datang, sekarang sama Tante dulu ya. Kita obati lukanya.”

Zelmira dengan telaten mengamati kondisi fisik, kesadaran dan mengobati luka goresan di hampir sekujur tubuh anak itu. Terparah di bagian pelipis dengan jahitan yang sudah diberikan untuk menutup luka.

Lalu sejam kemudian saat masih terus menenangkan bayi dalam gendongan, tirai terbuka, menampilkan sosok pria yang tampak panik.

“Maira,” panggilnya pada anak yang sudah nyaman digendongan Ze.

Tubuh anak perempuan berusia 2 tahun itu diambil alih oleh pria yang merupakan papanya, tangan kecil melingkari leher pria yang membuat Ze memundurkan langkah setelah memberikan tubuh anak tersebut.

“Sayang ... maafin Papa, seharusnya Papa yang mengantar kamu ke rumah Eyang,” kata pria dari pasien yang ditangani Ze.

“Duh .. duh,” keluh anak itu dengan gumaman tak jelas menunjuk luka di kepala.

“Enggak apa-apa kok Sayang, semua akan baik-baik saja. Maira anak Papa paling pintar,” bujuknya lembut dengan mendekap putri kecilnya yang sedang terluka.

Mata Zelmira mengembun melihat pemandangan itu, mungkin kalau anaknya hidup sudah seumuran anak kecil bernama Maira yang baru saja ia rawat.

Pria yang sedang menggendong Maira menoleh ke arah Zelmira, dahinya mengkerut melihat sosok Zelmira lalu ia menggelengkan kepala pelan, “Tidak mungkin,” ucapnya dalam hati.


~Bersambung~