Masih normal?
Semalaman penuh Ze memalingkan wajah dari pria yang masih ia ingat betul, sebisa mungkin memunggungi tubuh agar tak saling bersitatap.

Ruangan senyap, hanya diisi suara rintih sakit Maira yang setia berada di gendongan dan jika tugas lain menanti lalu mengharuskan Ze untuk keluar ruangan. Maira akan digendong dan didekap erat oleh papanya yang begitu kaku dan irit bicara. Semakin mendinginkan suasana ruangan dengan sikap keduanya.

Hingga seorang wanita yang ditaksir berumur 50 tahun, masuk ke ruang rawat inap dengan tergesa-gesa. Di saat itulah Ze berhasil menyelamatkan dirinya.

“Saya permisi, Pak, Bu,” pamit Ze undur diri dengan posisi Maira tertidur pulas.

Senang bukan kepalang terbebas dari tugasnya saat ini, ia tak bisa membayangkan jika pria itu menyadari kalau dirinya wanita yang menabrak mobil dan memberikan kecupan di pipi tanpa malu malam kemarin, “Akhirnya aman,” gumam Ze saat keluar dari ruangan dan tak akan kembali ke ruangan itu lagi.

“Untung aku pakai masker, kalo enggak, duh! Minta tanggung jawab di tempat tugas kan malunya bukan kepalang,” oceh Ze, “untung doi doang yang buka tutup masker, eh! Tapi ganteng juga kalo dipikir-pikir,” ucap Ze sambil melangkah dan terkekeh.

Lalu, Ze menggelengkan kepala, “Laki orang Wei! Masa iya jadi pelakor!” ucapnya dengan tawa kecil hingga salah satu rekannya melihat kelakuan Ze.

“Waras Lo, Ze?” tanyanya di ruang khusus perawat tepat di ujung koridor ruang rawat inap.

“Sedikit ga waras kayaknya,” kelakar Ze disambut tawa rekannya.

Di dalam ruang rawat inap, Papa Maira sedang menebalkan telinga mendengar ocehan ibunya yang menyalahkan pria itu atas kejadian yang menimpa bocah umur dua tahun yang kini tampak memprihatinkan dengan luka yang membuat wanita itu ngilu melihatnya.

“Kamu ini bisa ga sih ngurus anak, Renan? Bisa-bisanya membiarkan cucu Ibu ke Bandung hanya dengan seorang pengasuh dan supir,” omel Santi saat mengunjungi cucu pertamanya—Maira di rumah sakit setelah kejadian kecelakaan semalam di tol dalam kota.

“Rencananya aku akan menyusul, Bu. Bukan benar-benar melepaskan Maira pada pengasuh dan supir, lagi pula ini musibah. Biasanya juga ga masalah Maira dengan mereka,” sahut Renandra Mahadhi sedikit tak terima dengan kejadian ini yang menyalahkan dirinya, tak ada yang menginginkan sebuah musibah, pikir Renandra—Papa Maira.

Santi mendengkus kesal, masih saja berkilah dan memiliki banyak alasan padahal kesulitan mengurus anak sendiri dengan pekerjaannya yang juga menyita waktu seharian, “Kamu itu harus ada pendamping, Renan. Maira membutuhkan sosok ibu untuk bisa mengurus, mendidik dan menemaninya,” kata Santi kembali mengingatkan.

Renandra mengambil alih tubuh Maira, “Aku bisa mengurusnya sendiri tanpa pendamping, selama ada pengasuh kurasa tak masalah,” sahutnya tetap tak mau kalah.

Mendengar jawaban Renandra membuat Santi kembali mengeram kesal, keras kepala sekali anak keduanya yang masih setia pada satu cinta yaitu mendiang menantunya. Apa salahnya menikah lagi? Toh akan memperingan tugas menjadi orang tua tunggal untuk Maira, Santi membatin dengan perasaan kesal ketika mulut rasanya pegal mengingatkan anak keduanya untuk mencari pengganti.

“Susah deh bicara sama kamu yang setia sama satu cinta,” sahut Santi, menyerah memberikan desakan pada Renandra yang keras kepala.

“Padahal masih banyak di luar sana yang lebih cantik dan saliha sama seperti Meriska,” tambah Santi terus saja memborbardir Renandra tanpa bosan untuk mendesaknya mencari pengganti.

Renandra hanya diam, mengatur napas ketika lelah menjelaskan pada ibunya kalau ia sampai saat ini tak bisa berpaling pada wanita lain. Cinta rasanya ikut mati saat jasad mendiang istrinya terkubur dalam tanah, hanya ada Maira dalam hidupnya. Tidak untuk wanita lain, prioritas kebahagiaannya saat ini hanya Maira, Renandra membatin.

“Meriska tak akan pernah tergantikan, Bu. Tak akan pernah,” ucap Renandra penuh keyakinan sambil melihat wajah Maira yang tergores di beberapa bagian sisi dengan rasa bersalah. 

Santi hanya bisa pasrah, siapa yang menginginkan cinta berakhir ketika salah satu pasangan menghadap-Nya lebih dulu? Tetapi, Renan harus menghadapi sesuatu yang sama sekali tak diharapkan oleh siapa pun.

Terpisah oleh maut ....

Pintu ruangan terbuka, menampilkan perawat yang tersenyum ramah dengan obat-obatan di meja Stainles dorong memasuki ruangan.

“Perawatnya berbeda ya, Sus?” tanya Renandra ketika tak mendapati perawat yang dari malam hingga pagi membantu menenangkan Maira, bukanlah yang datang saat ini.

Dari bentuk mata, tatanan rambut dan bentuk tubuh jelas bukan perawat yang menemani Maira semalaman penuh. Masker tak menghalangi Renan untuk mengetahui kalau yang datang kali ini perawat yang berbeda dari sebelumnya.

“Sudah pertukaran sift, Pak,” jawab perawat yang merupakan teman Ze.

Renandra terdiam, semalaman mengurus Maira ketika sang anak lebih nyaman dengan perawat yang tak ia kenali. Tak ada obrolan berarti, bahkan ia tak mengetahui nama perawat tersebut agar Maira tidak terusik oleh suara obrolan membuat ia enggan bertanya dan juga sikap perawat yang hanya ramah pada Maira, tetapi abai dengannya.

“Argh! Aku bahkan lupa menanyakan nama perawat semalam,” ucap Renandra dalam hati, “bertanya nama perawat semalam, bisa habis diledek Ibu dengan pikiran macam-macam,” lanjutnya yang memilih diam tak bertanya.

Melihat perawat yang sedang mengganti cairan infus memiliki name tag, Renandra kembali mendesah ketika ia pun tak menyadari ada bordir nama di seragam perawat.

Maira kembali merintih dengan tangisan, terbangun dari tidur pulas  yang baru anak kecil itu rasakan pukul 4 pagi.

“Ada Eyang, Sayang. Sini sama Eyang,” kata Santi menggendong Maira guna memberikan ketenangan dan kenyamanan bayi berusia 2 tahun itu.

Namun, Maira meneliti ruangan dan kembali menangis histeris dengan rasa sakit yang membuat anak itu tak nyaman dan merasa ada sesuatu yang hilang dalam diri anak itu.

“Suster tolong gendong sebentar boleh? Saya mau buatkan susu,” sela Santi saat susu UHT ditolak oleh Maira.

Tubuh Maira diambil alih perawat, tetapi tak menghentikan tangisan anaknya padahal perawat sama-sama memperlakukan baik dan ramah mengajak anaknya berbicara.

“Haduh sakit ya, Sayang. Nanti yang nabrak Maira akan Eyang pastikan mendapatkan hukuman yang setimpal,” ujar Santi merutuki kelalaian supir truk yang menyerempet badan mobil yang ditumpangi Maira, pengasuh dan supirnya.

“Permisi,” sapa seorang wanita dengan tampilan pakaian bebas tugas dengan rok mini dan juga atasan yang cukup ketat dikenakan kini tersenyum dan melangkah masuk.

“Maaf mengganggu,” sapa perawat yang sudah bebas tugas hari ini.

Melihat tampilan perawat yang bersamanya merawat Maira semalam, Renandra mengalihkan tatapan ke arah lain sambil beristighfar dalam hati.

“Kenapa Ze?”

Zelmira membisikkan sesuatu pada rekannya, sebelum undur diri dari ruangan itu. 

“Permisi Bu, Pak,” pamit Zelmira ramah sebelum kembali melangkah ke luar ruangan.

“Ze,” ucap Renandra dalam hati, menggelengkan kepala ketika keseksian tubuh wanita berprofesi perawat itu tak terbantahkan.

“Astaghfirullahaladzim,” desis Renandra, Santi menoleh dan tersenyum simpul lalu mendekati anaknya dan membisikkan sesuatu.

“Syukurlah masih normal, cantik ya Ren?” goda Santi pada anaknya yang menggelengkan kepala menatap ke arah ibunya.

“Nanti Ibu lamarin khusus untuk kamu,” ucap Santi yang mengundang decak kesal Renandra.


~Bersambung~
Masih