Bertemu
Renan tak habis pikir ibunya begitu usil hingga berniat melamar wanita yang entah siapa, bukan kriteria dan jauh dibandingkan mendiang istrinya. Paling tidak harus berhijab seperti mendiang istrinya, bukan wanita seksi berprofesi perawat, pikir Renan.

“Bukan tipe-ku, Bu. Jangan aneh-aneh, aku hanya ingin fokus pada Maira,” sahut Renandra yang mengalihkan perhatian dengan mengambil alih tubuh anaknya dalam gendongan.

Dokter anak masuk ke dalam ruangan, memeriksa kondisi Maira pagi ini.

“Berdasarkan hasil laboratorium tidak ada hal serius yang perlu ditakuti, kondisi ananda dalam keadaan baik, hanya saja kami akan tetap melakukan observasi ke depannya hingga semua bisa dipastikan dalam keadaan baik,” terang Dokter dengan hasil laboratorium yang berada di genggaman.

“Terima kasih, Dok,” sahut Santi sementara pikiran Renandra yang tertuju pada ingatan malam itu saat ia benar-benar  dibuat kalang kabut oleh seorang wanita.

“Apa benar itu dia?” gumam Renandra ketika pikirannya kini benar-benar terusik, “seandainya benar kenapa bisa berubah lebih lembut? Maira pun begitu nyaman dengannya, ah! Mungkin aku salah orang, walaupun rasanya aku sangat yakin,” lanjutnya bertanya-tanya dalam hati.

**

Rahmi mulai membuka toko roti dan kue di sebuah ruko yang sudah berkembang, keuntungan terus meningkat setiap tahunnya. Bahkan, beliau sudah membuka dua cabang lainnya. 

Tak hanya mengelola sendiri, usahanya atas campur tangan mantan suami anaknya yang sampai saat ini masih berhubungan baik dengan beliau. 

Pagi ini beliau kedatangan tamu spesial, sosok pria dengan penampilan rapi memasuki toko kue milik Rahmi tanpa melepas senyum ramah.

“Assalamu’alaikum, Bu,” sapanya mengulurkan tangan pada Rahmi yang sedang disibukkan menata keuangan sebagai model awal di meja kasir.

“Wa’alaikumsalam, Dandi! Kapan balik ke Jakarta?” tanya Rahmi semringah melihat kedatangan mantan suami anaknya yang sudah memberikan usaha toko kue yang kini beliau kelola.

Dandi membungkukkan tubuh, mencium punggung tangan Rahmi dengan takzim.

“Ini langsung dari Bandara, Bu,” jawabnya dengan lengan yang dilingkari tangan keriput Rahmi seraya menuntun ke sebuah bangku untuk berbicara.

“Langsung ke sini?” tanya Rahmi yang dijawab dengan anggukan Dandi.

“Kangen sama Ibu,” jawab Dandi terdengar penuh ketulusan.

“Benarkah? Kenapa rasanya Ibu tidak percaya?” ledek Rahmi yang ditanggapi kekehan tawa Dandi, mana mungkin ia jujur akan perasaan hatinya yang bukan hanya merindukan mantan Ibu mertua yang begitu dekat dengannya saat mereka berstatus menantu dan mertua, melainkan merindukan mantan istrinya—Zelmira, Dandi membatin.

Obrolan ringan mengalir begitu saja, komunikasi yang sangat baik dan sikap Rahmi yang memang penuh kelembutan membuat Dandi begitu nyaman dan menganggap mantan ibu mertuanya itu sebagai Ibu untuknya.

Guratan keriput begitu tampak di wajah Rahmi, sahabat mendiang ibunya yang kini telah menghadap-Nya.

“Ini istri Dandi yang kedua, Bu,” ucap Dandi membawa Laras ke rumah untuk diperkenalkan pada ibunya.

Mata ibunya membulat, syok luar biasa dengan apa yang dikatakan anak semata wayangnya.

Kini dihadapan ibunya, sosok Laras yang memakai hijab dengan ekspresi dan sikap yang penuh kelembutan, mengulurkan tangan. Namun, Ibunya menepis tangan dengan jemari lentik Laras dan bukan hanya itu beliau pun menyemburkan amarah.

“Menantu saya cuma Zelmira! Tidak dengan kamu! Paham!” teriak ibunya, lalu menatap ke arah Dandi kembali, “dunia akhirat Ibu tidak merestui pernikahanmu, Dandi. Tega kamu sama Ze, demi Allah Ibu tidak Ridha atas pernikahanmu!” tegas ibunya di luar perkiraan Dandi.

“Laras yang akan memberikan cucu untuk Ibu, Ze tidak bisa memberikan itu, Bu,” bela Dandi, sedangkan nyali Laras menciut dengan berpegang kuat di lengan suaminya.

“Pergi!” teriak ibunya dengan wajah merah padam dan napas naik turun menahan emosi hingga beberapa saat kemudian mengalir darah dari lubang daun telinga dan hidung ibunya ketika hipertensi sang ibu melonjak mendengar kabar yang begitu mengejutkan.

Dandi pikir ibunya akan menerima Laras, dirinya pikir sang Ibu melakukan segala cara apa pun untuk mendapatkan cucu. Namun, perkiraan Dandi salah, sang Ibu sangat menyayangi Zelmira dan tak akan bisa digantikan oleh wanita mana pun.

“Ibu!” teriak panik Dandi yang langsung mengangkat tubuh ibunya dan membawa ke rumah sakit.

“Ze ... Ze ....” Ibunya terus memanggil Ze saat masih tersisa kesadarannya selama dalam perjalanan.

Kejadian dua tahun yang lalu kembali teringat dengan jelas, keputusan besar yang membuat sang Ibu syok hingga mengembuskan napas terakhir. Dandi mengusap wajah, lalu beristighfar dan kembali ke masa sekarang yang hanya dihadapkan dengan mantan ibu mertuanya.

“Bagaimana kabar istrimu, Dandi?” tanya Rahmi, memecah lamunan dan ingatan Dandi dua tahun yang lalu.

“Sangat baik, Bu. Dia ikut bersama saya ke Indonesia, kuliah S3-nya di Malaysia baru saja selesai awal tahun ini. Tapi, tiga hari lagi baru menyusul ke sini karena ada yang belum diselesaikan,” terang Dandi, walaupun keterangannya pun tak penting untuk Rahmi. Bagaimana pun istri Dandi sekarang adalah sumber kehancuran putrinya.

Rahmi manggut-manggut sebagai respon, menghargai ucapan penjelasan dari mantan menantunya-- Dandi.

“Jadi kamu akan menetap di Indonesia lagi?” tanya Rahmi, penasaran dengan kehidupan mantan menantunya. 

“Iya, Bu. Istri Dandi sekarang sudah diterima menjadi salah satu dosen di sebuah perguruan tinggi.”

“Usaha lembaga kursusmu tetap lancar ‘kan?” tanya Rahmi kemudian.

“Alhamdullilah,” jawabnya lalu menyesap kopi yang beberapa saat lalu disajikan ke meja oleh salah satu karyawan toko.

“Bagaimana kabar Zelmira, Bu?” tanya Dandi yang memudarkan senyum Rahmi.

“Apakah itu penting untukmu, Nak?” tanya Rahmi tersenyum getir, seandainya bisa ia ingin membenci Dandi seumur hidup, seandainya bukan karena sahabat yang sudah menitipkan Dandi padanya, mungkin ia tak akan bisa membesarkan hati untuk ikhlas sampai saat ini.

“Maafkan Dandi anakku, jangan benci dia. Titip Dandi, anggap anakku adalah anakmu juga. Maafkan kesalahan anakku yang sudah menyakiti putrimu—Ze, entah apa yang ada dalam pikiran anakku hingga ia mengambil keputusan besar hingga menyakiti kita semua. Maafkan anakku, maafkan aku yang gagal mendidiknya agar aku tenang, Rahmi.” 


Perkataan sahabatnya yang tak lain Ibu kandung Dandi dengan suara lemah kembali terngiang, ketika amarah menelusup dalam hati hanya sahabatnya yang ia kenang untuk bisa menerima kenyataan ini.


“Saya hanya ingin mengetahui kabar Ze, Bu. Bagaimana pun ia adalah wanita yang pernah singgah di hati dan kehidupan Dandi,” jawabnya dengan hati kecil berteriak, bukan hanya singgah tetapi menetap sampai saat ini dengan perasaan bersalah dirinya yang sudah menduakan Zelmira demi wanita masa kecilnya.

“Hancur tanpamu,” desis Rahmi tersenyum getir dan menghadirkan rasa bersalah dalam diri Dandi.

“Maaf,” gumam Dandi menggenggam tangan mantan ibu mertuanya.

“Sudah terjadi Dan, apa yang harus Ibu lakukan? Mencegah perceraian kalian, tidak mungkin ‘kan? Kami hanya dari keluarga sederhana, dan lihat! Apa yang ibu miliki saat ini, semua atas kerja keras kamu juga,” kata Rahmi tangannya bertautan, mata sudah mengembun. Hati seorang Ibu sebenarnya luluh lantak oleh sebuah kegagalan dan kehancuran anak perempuannya.

“Setiap Ibu menikmati hasil usaha ini, rasanya Ibu sedang berjalan di atas bara karena di saat yang bersamaan bahagia dilimpahkan materi, ada hati anak Ibu yang tersakiti dan hancur tanpamu,” kata Rahmi dengan bibir yang bergetar.

Bulir kaca menetes kala kata-kata tak bisa jua mengungkapkan betapa sedih dirinya selama ini, sepeninggal pria yang sudah ia anggap anak kandung dengan status mantan menantu.

Zelmira pulang bertugas langsung menuju toko, mencari kesibukan hingga tubuh nantinya benar-benar lelah dan ia bisa tertidur dengan lelap tanpa luka atas cinta yang selalu menyelimuti hati hingga rasanya hancur berkeping-keping.

“Mas Dandi,” desis Ze, bersikap santai melihat pria yang masih berhubungan baik dengan ibunya hanya sebatas bisnis toko roti yang dikelola bersama karena bagian dari gono-gini setelah perceraian mereka.

Dandi menoleh ke sosok yang kini berjalan semakin dekat ke arahnya dengan perasaan tak karuan ....

~Bersambung~