Permintaan Gus Hafidz
Judul : RENJANA 

Bagian 2
"Permintaan Gus Hafidz"

Sejak tiga bulan yang lalu sampai detik ini, Kak Hafidz  belum ada menghubungiku, aku pun tidak mau terlalu memikirkannya. Mungkin sekarang dia sedang sibuk, biar sajalah, toh aku juga bingung mau bersikap gimana kalau Kak Hafidz menghubungiku.

Beruntung hari-hariku semakin disibukkan dengan mengajar para santriwati, sekarang sudah memasuki bulan Shofar para santri harus lebih dipantau. Karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian madrasah.

Aku dan para Ustadzah yang lain berusaha semaksimal mungkin ingin memberikan yang terbaik dan berjuang bersama dengan mereka. Bagi kami pesantren itu layaknya ibu yang memberikan anak-anaknya benih padi untuk tumbuh dan berkembang menjadi padi yang berisi.

Sepulang mengajar, seperti biasa aku melanjutkan nderres Al-Qur'an. Namun kali ini rasanya ingin sekali stalking akun Instagram milik Kak Hafidz. Siapa tahu ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tapi.. kalau mengingat dia begitu jarang memposting sesuatu di akun miliknya, rasanya nggak mungkin deh.

Eh.. tunggu dulu, sepertinya dugaanku salah. Dua jam yang lalu Kak Hafidz memposting sebuah foto usang yang memperlihatkan anak lelaki berkisar usia sembilan tahun duduk bersama  balita perempuan memakai rok motif bunga-bunga dan rambut yang dikuncir kuda sambil menangis. Tidak salah lagi, itu kan foto kami. Ya ampuun.. aku malu sekali, kenapa Kak Hafidz bisa menyimpan foto usang itu sih! 

                         "Adik kecil♡."

Begitulah caption di bawah foto yang diposting Kak Hafidz. "Loh, kok ada gambar hatinya?" batinku.

Melihatnya terasa ada kupu-kupu beterbangan di perutku, aku terkekeh dalam hati menyadari sikapku yang gampang sekali terbuai. Padahal captionnya wajar-wajar saja, boleh nggak sih aku geer? 

Saking asiknya stalking akun Kak Hafidz, sampai membuatku lupa waktu. Jam pun sudah menunjukkan pukul dua siang, sebentar lagi waktunya aku kembali mengajar. Namun saat hendak bersiap-siap membersihkan diri ke kamar mandi, kudengar suara Abah mengetuk pintu.

"Nduk, Abah masuk ya?" Izinya padaku

Lekas aku berjalan membuka pintu kamar.

"Nggeh, Bah." sahutku dari dalam sambil berlari kecil membuka pintu.

"Enten nopo, Bah?" tanyaku kemudian mempersilahkan Abah masuk.

Abah duduk di pinggir ranjang, kuambil kursi rias untuk kududuki menghadap  Abah. Kulihat beliau menarik napas panjang sebelum membuka suara. 

"Kamu sudah besar ya nduk, sudah dua puluh tahun umurmu. Rasanya baru kemarin Abah mengajarimu naik sepeda." ucap Abah sambil mengelus kepalaku. 

"Abah minta maaf ya kalau selama ini selalu mengatur kehidupanmu, menerima lamaran Hafidz tanpa meminta persetujuanmu. Memintamu untuk masuk pesantren padahal kamu pengin jadi dokter. Dan masih banyak lagi keinginan Abah yang harus kamu turuti, Abah selalu memaksamu sejak dulu ya nduk." Kutangkap suara yang bergetar saat Abah mengatakan itu semua, sontak saja aku menggeleng tanda tak setuju dengan ucapan beliau barusan.

Kuraih kedua tangan Abah yang mulai berkeriput, menciuminya dengan penuh sayang sebelum aku membuka suara.

"Ziva boten nopo-nopo Bah, Ziva selalu percaya di setiap permintaan Abah dan Ummi untuk Ziva pasti akan ada keberkahan di dalam hidup Ziva, entah saat ini atau di kemudian hari. Abah boten paring dawuh ngoten maleh geh." 
ujarku dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Rasanya aku tidak rela mendengar beliau mensesali dirinya sendiri, karena aku yakin pilihan orang tua itu tidak pernah keliru.

"Sudah.. sudah, acara sedih-sedihannya dilanjut nanti lagi." ujar Ummi dari luar sambil berjalan memasuki kamarku.

Aku dan Abah menoleh ke arah Ummi, kami terkekeh bersama mendengar ucapan beliau, pasti Ummi dari tadi nguping di depan pintu deh.

"Ummi ini merusak suasana saja." ucap Abah sambil mengisyaratkan tangannya agar Ummi duduk disamping Abah.

"Nduk, sebenarnya kemarin Abah mu dapat telfon dari Hafidz." ucap Ummi sambil menatapku 

"Hafidz minta izin sama Abah dan Ummi, dia ingin menikahimu secara sirri dulu." lanjutnya kemudian.

Deg! 

Mendengar kata menikah sirri sontak saja membuatku melototkan mata kaget.

Aku masih diam tidak menyela ucapan Ummi.

"Apa kamu bersedia nduk? Kali ini Abah ingin kamu menjawab atas kesiapanmu sendiri." 
tanya Abah padaku.

Hening. Aku masih berkutat dengan rangkaian pertanyaan yang masih memenuhi kepalaku.
Hingga akhirnya aku memilih menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan Abah.

"Kulo manut mawon, nopo terose Abah kaleh Ummi." Lirihku pelan.

"Tapi kenapa dipercepat mi, bukannya kemarin Bude Zakiyah bilang akad nikah sekalian dengan resepsinya tahun depan?" tanyaku.

"Iya, ini keinginan Kakakmu itu nduk. Dia yang minta akad nikahnya dipercepat, tapi setelah Ummi dan Abah pikir-pikir memang bertunangan terlalu lama itu kurang baik. Khawatir menimbulkan fitnah." ujar Ummi.

"Lagipula mumpung Hafidz masih di Hadhramaut, lebih baik kalian diakadkan saja di sana. Supaya pernikahan kalian mendapat barokah dari para Ulama' Hadhramaut." sahut Abah dan langsung disetujui oleh Ummi.

Aku memang sering mendengar, banyak pencari ilmu dari Indonesia maupun dari negara-negara  lain yang melangsungkan akad nikah kepada Syaikh di sana. Karena sebagai murid, tentu mereka ingin tabarrukan kepada gurunya.

"Kalau memang kamu sudah setuju, Abah mau telfon Hafidz  biar dia segera mempersiapkan semuanya." 

"Nggeh, Bah." sahutku pelan.

"Ya sudah nduk, kamu ke kelas dulu sana." titah Ummi padaku. 

Setelah pembicaraan barusan Abah dan Ummi beranjak keluar kamar, aku pun lekas bersiap untuk mengajar.

Tiba di kelas, kuucapkan salam pada para siswi yang sudah menunggu. Dan sebelum memulai pelajaran kubuka dengan membaca doa serta bertawasul kepada Rosulullah SAW dan Mushannif kitab terlebih dahulu. Berharap dibukakan pintu ilmu untuk kami serta mendapat keberkahan dari ilmu tersebut.

"Silakan maju ke depan, Setor hafalan dari bait nomer seratus dua puluh sampai bait nomer seratus empat puluh." 

Ujarku kepada para siswi. Sontak saja mereka berjengit kaget karena sebelumnya aku memang tidak memberi tahu kalau hari ini ada setoran, sengaja aku beri tahu dadakan. Supaya mereka lebih menghargai waktu luang tidak harus menunggu ada pemberitahuan baru dihafalkan.

Salah satu siswi maju ke depan menyetor hafalan Nadzom Imrithi. Sedang siswi yang lain sibuk dengan hafalannya, mendadak mengingatkanku pada masa-masa di pesantren dulu. Aku juga pernah berada di posisi seperti mereka, kasihan sih melihatnya. Tapi sesekali mereka harus dikasih kejutan, Iya kan?

Kudengarkan dengan seksama setiap bait-bait yang dibacakan oleh mbak-mbak, karena kalau ada satu bait saja yang salah bisa mengurangi nilai mereka. 

"Tuk.. tuk.. tuk." kuketuk meja dengan bulpen menandakan ada yang salah dari bait yang tengah dibacanya.

" Wa ghoiruhu fii 'arba'in mashuuru." kuulangi lagi bait yang dibaca oleh siswi di depanku untuk menekankan letak kesalahannya. 

"Belum hafal?" tanyaku, siswi tersebut mengangguk mengiyakan.

"Yasudah. Dibenahi dulu hafalannya." ucapku.

"Karena sudah bel, saya akhiri pertemuan kali ini. Dan untuk siswi yang belum setor, saya tunggu di kantor Ustadzah nanti malam." 

"Nggeh, Niiing." jawab mereka kompak.
Kemudian dengan semangat membaca doa sesudah belajar.

Oh.. ya, aku baru ingat setelah ini Ummi memintaku untuk menemani beliau takziyah ke sanak saudara. Harus cepet-cepet nih jangan sampai Ummi menunggu, bisa gawat.

Sampai di pintu ndalem kulihat ummi sudah siap, lekas aku masuk menyalami beliau.

"Ngapunten Mi, kulo telat." ucapku seraya menyengir lebar.

"Wes, ayo cepet ndang shalat Ashar dulu. Ummi tunggu di depan." 

"Nggeh." sahutku kemudian segera beranjak untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang hamba kepada Tuhannya.

usai mengerjakan shalat Ashar. Kulipat mukenah dan sajadah dengan tergesa-gesa, khawatir Ummi semakin lama menunggu.

Ting!

Bunyi denting pesan masuk mengalihkan fokusku saat hendak memakai jam tangan. Lalu segera kuambil gawai untuk mengeceknya, sontak aku terperangah menatap layar gawaiku. Ternyata sebuah pesan dari seseorang yang belakangan ini berhasil membuat tidurku tidak nyenyak.



Selamat membaca, Mohon maaf bila masih banyak kekurangan.

Ini lanjutan cerita kemarin ya, cuma saya ganti judulnya. Kalau pakai judul yang kemarin kesannya kayak kurang greget gitu hihihi.

NF Ab.
Pekalongan, September 2020

Komentar

Login untuk melihat komentar!