Bab 6
INDRA

Aku mengucek mataku berkali-kali. Memastikan ini bukan mimpi. Di depanku berdiri seorang Dira? Mantan istriku yang dua minggu yang lalu itu masih dekil, sekarang adalah CEO perusahaan besar?

"Paling-paling dia juga lagi terkena kasus, makanya dipanggil ke ruang CEO. Mungkin ini juga alasan kenapa Dira tidak mengantarkan minuman ke meja kami, dan pelayan lain yang menggantikan tugasnya," batinku. Otakku masih mencoba berpikir waras. Karena enggak mungkin, dalam dua minggu orang bisa kaya mendadak. 

Yah, kecuali kalau ngepet. Ngepet pun masih ada resikonya. Mati digebukin warga misal? Huh!

"Mantan istri kamu tadi, kan Mas? Dih, ngapain dia di sini? Wah, jangan-jangan bener apa yang kamu bilang tadi Mas. Dia itu maling cincin berlian, dan yang dicuri itu cincin milik atasannya. Makanya dia dipanggil ke sini. Parah sekali," cibir Meida. Aku hanya mengangkat bahu. Dalam hati membenarkan asumsi yang Meida ajukan. 

"Heh, Dira. Kamu ngapain di sini? Bener, ya apa yang Meida katakan. Kalau kamu itu maling?" tambahku karena Dira sama sekali tidak bereaksi dengan ucapan Meida.

"Ehem. Kenapa kalian berdua kemari?" Bukannya menjawab pertanyaanku, Meida justru balik mengajukan pertanyaan.

"Jalan-jalan," jawab Meida membuat mataku membulat. 

"Oh, jalan-jalan ya? Bukan untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kalian?" Dira tersenyum manis. Tapi, entah kenapa aku merasa ada rahasia besar dibalik senyuman yang manis itu. 

Perasaanku mendadak tidak enak. Salah, tepatnya perasaanku sudah tidak enak sejak pertama kali menginjakkan kaki di restoran yang katanya elit dan mewah ini. 

Saat kutatap Meida, aku mendadak kesal sekali padanya. Semua ini terjadi karena dia. Untung cantik, kalau enggak. Udah kuceraikan di seperti Dira dulu.

"Maksudmu apa, Dira? Pertanggungjawaban apa, kita ke sini mau ketemu sama CEO. Kita teman owner perusahaan ini," kilahku. "Kamu kali yang ke sini untuk pertanggungjawaban, setau aku kamu itu miskin. Tapi sekarang, pakaian kamu saja terlihat mahal, cincin berlian di jari kamu, bahkan kulitmu juga bening nggak seperti dulu. Jangan-jangan, kamu nggak cuma maling cincin ya? Kamu nyuri uang perusahaan? Makanya Bosmu memanggil kamu ke sini," tambahku percaya diri. 

Aku yakin apa yang aku ucapkan adalah benar. 

"Aku nggak mencuri. Itu sama sekali nggak cocok untukku," katanya sembari mengibaskan rambutnya. 

"Ouuh, angkuh sekali dia sekarang. Nggak nyangka, dua minggu bisa merubahnya sedrastis ini," batinku kesal dan takjub. 

"Kalau bukan mencuri, terus kamu dapat uang dari mana untuk membeli semua barang mewah yang kamu pakai itu," tanyaku menyangsikan pernyataannya.

"Mungkin dia melakukan praktek babi ngepet kali, Mas. Hahaha," sahut Meida membuatku ikut tertawa. 

"Haha. Bener juga kamu, Sayang. Nggak mungkin juga dia kaya mendadak kalau bukan hasil ngepet," kataku membuat wajah Dira sedikit memerah.

"Tuan, kalau Tuan ingin menjebloskan dia ke penjara, saya dan istri saya dukung banget keputusan Tuan. Wanita ini, emang udah nggak baik dari jaman dulu. Saat dia jadi istri saya, uang belanja selalu saja cepat habis. Nggak tau uangnya kemana. Belum akhir bulan sudah habis, padahal dia sangat dekil dan tidak merawat diri." Aku manatap yakin pria tampan yang berdiri di samping Dira. 

"Benar Tuan, yang diucapkan suami saya itu benar sekali," tambah Meida. Nah, gitu dong. Sekali-kali suami didukung. 

Laki-laki yang kuajak bicara itu tidak merespon. Sombong sekali. 

"Kalian berdua lupa ya? Kalau saat ini, kalian sedang berada di ruangan CEO perusahaan ini, karena kalian berniat kabur sebelum membayar tagihan makanan di meja kalian, kemudian ditangkap oleh pihak keamanan?" Ucapan Dira membuat mulutku bungkam, begitu juga dengan Meida. 

Bagaimana bisa aku lupa, kalau saat ini posisiku adalah sebagai tahanan. 

"Meida, gimana ini. Mas lupa kalau kita di sini juga tahanan," bisikku di telinga Meida.

"Aku juga lupa, Mas. Ngapain juga kita ngurusin mantan istri kamu ini. Aduh, ketemu dia bawa sial saja," balas Meida. 

"Gimana dong, Sayang? Kamu punya duit enggak sih. Uang Mas kan tinggal tiga ratus ribu, nanti buat beli bensin juga." 

"Nggak punya, Mas. Kan uang aku abis tadi, buat ke salon." 

"Haduh! Kamu sih, ke salon mulu. Situasi genting kek gini, kacau kan.*

"Kalau aku nggak ke salon, terus aku jadi dekil dan jelek. Memangnya kamu mau?" 

"Ehem!" Deheman dari pria di depan kami menghentikan aksi bisik-bisik antara aku dan Meida. 

"Kalian berdua harus melunasi tagihannya, baru boleh pergi dari ruangan ini. Jika tidak, terpaksa aku akan menyerahkan kalian ke pihak yang berwajib." Dira berkata tegas. Aku dan Meida dibuat melongo oleh ucapannya. 

"Maksud kamu? Memangnya kamu siapa berani berbicara seperti itu!?" teriak Meida kesal. 

"Wanita di depan kalian ini, adalah owner perusahaan ini," laki-laki di samping Dira akhirnya mengeluarkan suaranya. 

"Nggak percaya!" sahutku dan Meida bersamaan. 

"Kalau nggak percaya, lihat ini." Pria itu membalik papan nama di atas meja CEO. Di sana tertulis dengan jelas nama ...

... ANINDIRA GRIZELLE.

"Aduh. Mampus aku, mampus ...." batinku dengan kaki sedikit gemetar.

Next?

Komentar

Login untuk melihat komentar!