MASALALU KU (YULI)

    Aku baru masuk sekolah satu bulan, tetapi aku sudah disukai oleh salah satu gadis yang merupakan kelas tiga SMP dua tingkat diatasku dan tiga tahun lebih tua dibandingkan umurku saat itu. Kisah cintaku dimulai saat aku selalu pada kebiasaan berada di dalam kelas saat jam istirahat. Saat jam istirahat datang aku selalu duduk bermain dengan teman dekat bernama Giyanto di dalam kelas, Aku jarang kekantin karna uang saku yang selalu ku tabung dan ku sisihkan untuk membeli sepatu atau keinginan lain yang positif. aku tak ingin merepotkan nenek yang sudah susah payah menyekolahkan dan menambah beban dengan meminta uang saku. 
Yuli nama gadis kelas tiga itu merubah hari-hariku. Tiba-tiba saja Yuli masuk kelas dan menarik tanganku untuk mengajak kekantin makan bersama. Tanpa bertanya dan  basa-basi Yuli menarik dan menggandeng tanganku. Akupun kaget dan tersipu malu karna aku belum kenal dengan Yuli yang tiba-tiba menggandeng kekantin. Sepanjang jalan kekantin mukaku pun merah puncat dan tersipu malu sambil menunduk. 
”Gi, kenapa nggak lihatin aku malah melihat kebawah?” kata Yuli
”Nggak papa”, sahutku sekenanya.
”Makan yuk bareng aku dan nemenin aku makan”, katanya sambil menggandeng tanganku.
”Eh..ah pelan dong”, jawabku.
Yuli pun memesan soto yang merupakan makanan favorit dimasa itu. Saat itu soto baru seharga seribu rupiah sudah dapat satu mangkuk hamper penuh ditambah lima ratus rupiah dapat gorengan tiga. Es jeruk lima ratus satu gelas besar.   
”Buk, soto dua, es jeruk anget dua”, kata Yuli sambil nyengir.
”Eh, apa ada es jeruk anget, adanya es jeruk panas ndok”, jawab mak penjual soto.
”Eh makin pinter ibuk, yang penting ada jeruknya buk”, sahut Yuli sigab.
”Ni ndok  soto dua dan es jeruk panas dua biar harimu serasa milik berdua”. Kata ibuk penjual soto.
”Trim buk, tak bawa ke kelas ya”, kata Yuli sambil berjalan menuju kelasku.
Yuli pun menggandengku menuju ke kelasku. Aku pun tak kuasa menolak untuk digandeng Yuli gadis berparas sederhana yang tidak cantik dan tidak begitu langsing, tapi bagiku Yuli adalah gadis yang sempurna meski dibilang pecelele (pecinta cewek lemu-lemu).
Tiga menit kami berjalan dan akhirnya tiba juga dikelas, Yuli duduk dikursi dan menyuruh ku duduk disampingnya. 
”Gi sini duduk disampingku”, kata Yuli.
”Iya ”, jawabku sekenanya.
”Kamu pelit banget si jawabnya Gi, ya, ngak, iya, ngak. Kalau kamu nggak mau duduk  disampingku nggak papa si, kamu duduk aku pangku apa kamu mau pangku aku”, kata Yuli penuh ingin.
”Ngak Yul, aku duduk disampingmu saja”, jawabku cepat.
Kami pun akhirnya makan, sambil bercanda dan Yuli banyak bertanya kepada ku. Kami pun sangat mesra, Yuli selalu menyuapi ku saat makan. Aku yang masih lugu dan belum tau dunia percintaan saat itu tak menyuapi balik Yuli. Yuli pun tidak protes, Yuli tetap menyuapi ku penuh dengan senyum dan senang. 
Jam istirahat pertama pun telah berlalu dan berganti jam pelajaran ke empat yaitu ilmu pengetahuan social, pada masa itu diampu oleh ibu Sukamti. Ilmu pengetahuan Sosial adalah pelajaran yang paling ku sukai pada masa Sekolah Menengah Pertama. Aku sangat terkenal paling pandai dalam pelajaran IPS, bahkan ibu Sukamtipun sangat menyukai ku karna selalu aktif dan mudah paham. 
Tidak terasa tiga jam pelajaran sudah berlalu, waktu istirahatpun tiba. Dan ternyata Yuli sudah didepan kelas ku. Teman-teman sekelasku yang sudah tau bahwa Yuli menungguku pun mengejekku.
”Ehm, ehm ada yang nungguin tu Gi” kata teman sekelas ku
”Siapa si”, jawabku pura-pura nggak tahu.
”Ehem pura-pura nggak tau itu, itu kakak kelas pujaan hatimu”. Kata salah satu teman sekelasku.
Belum sempat menjawab, Yuli menggandeng tanganku dan menyuapi ku coklat. Spontan seisi kelas bersorak menyorakiku dan pergi bubar seolah cemburu menyaksikan keromantisan percintaan kami berdua. Yuli saat itu terlihat tulus sekali mencintaiku. Dia pun tak pernah perhitungan dalam membelikanku makanan, dia juga gadis yang sangat romatis atau mungkin karna dia lebih tua dan lebih berpengalaman dalam dunia percintaan dibandingkan dengan ku yang masih polos. 
Tidak terasa waktu istirahat kedua telah berlalu dengan cepat, saat kami lalui di kelas bersama penuh canda tawa lepas dan akupun mulai mempunya perasaan terhadap Yuli. aku telah terbiasa dengan sikap romantis yang selalu diberikan Yuli kepada ku. Tapi kata cinta belum terucap dari salah satu bibir kami berdua.