Melupan Mantan Cari Gebetan
Malam itu gelap, hujan turun disertai dengan badai serta kilat yang menyambar-nyambar. Menemani pria itu yang termangu dalam kamar di depan jendela, ditemani musik dari sebuah music bok di meja belajar. Matanya sayu disertai sedikit air mata yang mengalir seperti air hujan yang turun di luar. Pria memang kuat bukan berarti air mata tak bisa keluar begitu saja saat cinta telah menusuk hati yang tulus menyayangi. Berkali kali ia menghela nafas yang panjang serta menguatkan hatinya agar air matanya tak keluar, dan hatinya berhenti mengingat nama itu.
Sudah tengah malam hujan tak kunjung reda, hanya saja badai sudah berlalu dan petirpun berhenti menghampiri bumi. Music masi setia menemaninya saja tak pernah protes bahkan lelah. Mata malah semakin memerah memberikan isyarat bahwa hatinya semakin meronta tak terima atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Rasa sesak pun malah semakin menggebu-gebu. Seakan ingin mengatakan jika semua tak adil terhadapnya dan mengapa semua harus terjadi pada dirinya.
Tak terasa sudah sepertiga malam terlewati hujanpun telah reda. Namun matanya belum bisa terpejam dan dadanya pun masih terasa sesak meratapi penghianatan yang telah melandanya. Hingga akhirnya ia sadar motto hidupnya yang telah lama ia buang jauh “ cinta yang sempurna hanya cinta kepadaNYa, cinta kepada manusia hanyalah jalan menuju cinta sempurna terhadapNya. 


Mentari tidak terasa menampakan sinarnya, Tidak terasa bahwa aku sudah kelas dua Sekolah Menengah Pertama dan hari ini adalah hari pertamaku masuk dikelas dua. Tiba-tiba suara Giyanto terdengar mendengung ditelinga. 
“Gi, gimana mau masuk sekolah tidak duh udah jam 06.15 ni, kalau nggak cepet tak tinggal lo”, kata Giyanto sambil bercanda.
”Adoh, kox nenek nggak bangunin aku ya, gara-gara semalam nggk bisa tidur aku jadi kesiangan ni, kamu duluan aja gik”, Sahut ku.
”Duh putus cinta emang bikin sakit hati, kepala dan mata, lihat tu matamu merah. Nggk biasanya kamu bangun siang Gi. Aku berangkat duluan ya”, sahut Giyanto yang ketus dan pergi berangkat meninggalkan ku.
Aku pun bergegas mandi dan berangkat kesekolah. Diperjalanan ku berangkat, aku pun berpapasan dengan Kamti teman sekelasku yang paling pandai dan prima dona dikelas dua A. Sebenarnya si nggak cantik orang badannya saja agak gemuk atau pecelele/pecinta cewek lemu-lemu. Dia agak sensi kalau melihatku karna kalau pelajaran bahasa Indonesia dia selalu kalah jika berdebat pelajaran bahasa Indonesia dengan ku, jangankan dia guru bahasa Indonesiaku pun sampai kalah saat berdebat dengan ku dalam bahasa Indonesia. 
Tiga menit aku baru sampai dikelas tiba-tiba lonceng tanda masuk kelaspun sudah berbunyi. Pelajaran pertaama bahasa Indonesiapun dimulai aku dan teman-teman sekelaspun mengikuti pembelajaran dengan serius. Seperti biasa aku duduk satu bangku dengan sahabat karibku Giyanto, dia adalah sahabat terbaikku sejak pertama aku datang di desa Makmur Sari. Aku kelahiran tanah nanjauh sana dan di desa Makmur Sari aku ikut nenekku, karna ibuku tak mampu menyekolahkanku. Ibuku mempunyai lima anak lelaki semua dan aku anak nomor tiga dari lima bersaudara dalam bahasa jawa anak lima lelaki semua disebut pendawa lima. Anak yang pertama adalah Yudistira, anak nomer dua adalah Werkudara, anak nomer tiga adalah Arjuna/Janaka yang mempunyai kelebihan parasnya yang tampan dan pandai memikat hati wanita, anak nomer empat dan lima adalah Nakula dan Sadewa. Aku sedikit meyakini cerita Pandawa lima tersebut. 
Tidak terasa jam istirahat pertama telah tiba. Aku dan Giyanto pergi bersama kekantin. Hari pertama aku berani jajan. Karna semasa liburan aku sudah mengumpulkan uang dari membantu nenekku mencangkul atau mengupas kacang tanah agar mendapatkan uang saku serta akan aku tabung untuk karya wisata saat pertengahan semester kelas dua. Dikatin aku bertemu dengan adik kelas ku yang merupakan kelas satu. Sebenarnya dia tidak terlalu cantik si, tapi kata Giyanto bodynya sangat aduhai menarik. Sebenarnya yang ingin kenal awalnya Giyanto, akupun iseng untuk menggoda dan mengajaknya berkenalan agar tau namanya karna Giyanto yang sangat penasaran ingin tau namanya.
”Ehm kenalan dong neng”, kata ku sambil bercanda. 
”Ehm juga om, oh pengen kenalan dengan aku to om”, sahut Rina Puji Lestari anak kelas satu B dengan bercanda tapi jengkel
”Iya neng, siapa lagi orang yang terdekat cuma kamu neng”, kata ku sambil cengar-cengir.
”Rina, kelas satu B, alamat rumah Jarah dua. Namamu Yogikan kelas dua A “, sambil tersenyum manis.
”Kok tau, ehm pasti bapakmu detektif ya kok tau namaku atau aku sepesial ya sampai terkenal”, jawab ku penuh dengan gaya sok ganteng.
”Lumayan terkenal dimataku si”, sambil menatap ku dengan serius.
”Em…., makan bareng yuk. Oh ya kenalin ini Giyanto temen dekatku”, sambil menepuk pundak Giyanto dan memegang tangan Giyanto untuk ku perkenalkan dengan Rina.
”Aku sudah tau dia teman dekatmu karna kalian selalu bersama-sama dimana pun dan kapanpun bagai pinang dibelah golok”. kata Rina dengan senyum.    
Lonceng tanda berakhir istirahatpun berbunyi, dan kami masuk kekelas masing-masing untuk melanjutkan pelajaran. Tidak tau Rina membuntutiku dari belakang dan memegang tangan kananku serta menarik dan mengajakku kebelang didekat kamar mandi. Saat itu aku biasa saja dan tidak ada rasa gugup atau pun getaran cinta. Sesampainya didekat kamar mandi belakang sekolah, tiba-tiba dia memeluk dan mencium pipiku dengan penuh rasa cinta. Dia tidak mengucapkan apapun tentang ciumannya, dia hanya berkata nanti jam istirahat kedua makan bareng lagi ya, dia berkata sambil berjalan meninggalkanku menuju kekelasnya kelas satu B.
Aku pun berlari masuk menuju kelas ku, untung saja guru mata pelajaran berikutnya belum masuk kelas duluan. Saat itu pelajaran ke empat Agama Islam yang diampu oleh pak Sukijadi, beliau adalah salah satu guru kesukaanku karna beliau saaat mengajar selalu memotivasi dan sangat bagus. Pelajaran dimulai dengan cerita perjuangan pak sukijadi saat dibangku SD sampai Pendidikan Guru Agama (PGA). Kisah hidupnya hampir mirip kisah hidupku saat itu yang selalu berjalan dan membantu nenek untuk bersekolah dan meringankan beban hidup nenek. Beliau pak Sukijadi tidak pernah jajan saat sekolah dan uangnya selalu ditabung untuk membantu nenek serta adik-adiknya yang juga masih sekolah. Beliau tak pernah membayar/ mengeluarkan uang saat sekolah dari SD sampai PGA tetapi mendapatkan bantuan atau gratis karna dibantu/beasiswa dari negara. Dan akhirnya segala perjuangan bapak Sukijadi pun tak pernah menghianati hasil jerih payah beliau. Setelah lulus PGA beliau honor disekolah swasta pertama dan masuk tanpa tes ataupun campur tangan keluarga yang membawanya untuk masuk kesekolah tersebut.
Tak terasa pelajaran agama selesai, tapi dalam kepalaku berkecamuk tentang cerita yang telah disampaikan oleh beliau bapak Sukijadi. Sampailah pada suatu titik kesimpulan dikepala bahwa aku ingin menjadi guru seperti guru agamaku Pak Sukijadi. Itulah cita-cita keduaku yang kelak harus kugapai dan kuperjuangkan.. 
Jam istirahat tiba, dan tidak kusangka ternyata Rina telah menunggu didepan kelas ku. Setelah semua anak dalam kelasku keluar Rina pun masuk kekelas dan menghampiriku. Beruntung sekali Giyanto sangat paham situasi dan kondisi, iapun pergi meninggalkan kami berdua. 
”Mau wafer Gi”, sambil membukan wafer yang dipegangnya.
”Mau”, kata ku.
”tak suapin ya”, sambil sudah menyuapi ku tanpa meminta ijin.
Aku terdiam lama, sambil teringat tragedi kelas satu saat bersama Yuli kakak kelas yang merupakan mantanku. Yuli meninggalkan pas saat kelulusan dan sakitnya lagi dia memutuskanku dengan membawa surat undangan pernikahan serta mengundang agar aku datang dipesta pernikahannya. Ternyata dugaanku dulu benar cincin yang melekat dijari manis sebelah kanan itu adalah cincin tunangannya. Dan ternyata selama setahun aku bersamanya hanyalah dijadikan seorang pelampiasan dan kekasih gelap. Memang sakit pas ditinggal saat sayang-sayangnya.
Jujur aku masih sangat troma dan sakit hati untuk menerima perempuan, tapi tidak tahu kenapa separuh hatiku menerima Rina untuk mengisi kekosongan dan pengobat luka hatiku karna Yuli. 
“Cup” tiba-tiba bibir Rina menancap kedua kali dipipiku, coba jika ada lipstick pasti tidak aku hapus deh sampai tujuh hari tujuh malam. Bahkan mungkin sampai nggak mandi biar bekas kecupannya tetap utuh membekas. Aku pun sadar bahwa ternyata aku bengong dan belum menjawab pertanyaannya. Makanya Rina mengunakan kesempatan dalam kesempatan hingga bisa menciumku. 
”Ijin kok sudah nyuapin, itu si maksa namanya Rin”, Sahut ku. 
”Oh nggak mau, tapi sudah dimakan. Mau nambah lagi nggak kecupannya”, kata Rina sambil tersenyum dengan penuh ingin.
”Nggak boleh Rin, besok kalau mau menciumku jangan ditempat umum ya”, kataku agak jengkel.
”Oh kalau nggak ditempat umum boleh ya”, sahut Rina sambil ketawa dan rasa penuh inginnya.
”Rin,…”, sahutku dengan gemas.
”Aku suka kamu Yogi, sejak pertama kali aku bertemu”, kamu peka nggak si kata Rina.
“Aku peka kox nggak pekok”, seruku.

 
Aku berpikir lama sekali mencari tau, kapan aku pernah bertemu dengannya. Oh ternyata saat libur sekolah aku belajar montir dengan guru sejarahku sekaligus guru montir terkenal didesanya. Dia tidak sengaja melihatku saat itu dia sedang melakukan pendaftaran di SMP ku. Saat itulah ternyata dia mulai menyukaiku dan mengambil fotoku. Dan dia tau namaku dari teman sekelasku yang merupakan teman satu desanya dan teman satu kelas dengan ku.
Satu minggu hubungan ku dan Rina berjalan seperti biasa, romantis, penuh canda, dan tawa, meski hubungan ku dan Rina menggantung karn ku belum memberikan jawaban. Ku pikir Rina juga tak mempersoalkan setatus hubungan dan jawaban itu. semua mata pun tertuju padaku dan Rina karna Rina setiap jam istirahat selalu menghampiriku ke kelas atau saat ku makan bersama dikantin, menyuapiku saat makan, menggandeng tanganku, membelikan minum. Sering sekali ku menegur Rina tapi dia tak pernah menghiraukan, jawabannya sangat simple, “Aku sayang kamu”, kata Rina.
Saat pulang sekolah, tidak sengaja siang itu entah angin apa yang menerpaku. Aku tiba-tiba naik bus, padahal biasanya aku jalan kaki saat pulang. Jamanku dulu anak laki-laki jika menaiki bus mereka disuruh naik diatas bus, bukan didalam bus. Seperti umumnya aku pun nauk diatas bus paling belakang dan dekat jendela bus paling belakang. Kakipun menjulur didekat jendela tak sengaja dipegang oleh anak cewek kelas satu D. Akupun menengoknya dan meraih sebuah jepet yang terlihat didekat kaki ku. Tiba-tiba cewek tersebut muncul.
“Eh jepetku”, sahutnya dengan keras. 
“Eh cewek, boleh kenalan dong”, sahut ku.
“Tolong dong… balikkan jepetku”, sahut Rina Wati cewek kelas satu D tersebut.
“Siapa dulu namamu, nanti tak balikin kalau sudah kamu jawab?” 
“Namaku Rina Wati”, sahutnya agak jengkel.
Akupun memberikan jepetnya dan meminta maaf. Tak lama kemudian bus jalan. Selang tak berapa lama lama ia memeng kakiku dan menggelitiki kaki. Aku tau karna tadi saat aku menengok dan mengambil jepetnya yang ada dibelakang hanya dia dan Etik teman satu kelas ku yang merupakan sainganku saat mata pelajaran bahasa Ingris. Saat SMP aku terkenal lumayan Pandai bahasa Indonesia Dan Ingris. Makanya jika ada anak yang pandai dua mata pelajaran tersebut terkadang aku sebel saja termasuk kepada Etik yang pandai juga bahasa Ingrisnya. 
Baru setengah jalan tiba-tiba bus mogok karna habis bensin, wasalam sudah beberapa lama tak pernah naik bus, giliran naik bus eh malah mogok, akhirnya separuh dari kami pulang jalan kaki dan ada yang tetap menunggu bus sampai selesai. Setelah selesai kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan pulang dan semua penumpang masuk dalam bus tak ada yang diatas bus. Seperti dewi fortuna sedang berpihak kepadaku. Saat aku duduk ternyata disampingku adalah Rina Wati. Aku pun duduk dan kami mengobrol penuh dengan canda. Tak nampak lagi muka sadis dan jengkel yang terlihat diwajahnya, malah beberapa kali dia mencubitku karna candaan dan ejekanku. 
“Jarah…Jarah”, suara kernet bus mengingatkan bahwa sudah sampai didesa Jarah. Rinapun berdiri bersiap keluar dari bus, namun sebelum dia keluar pintu dia menoleh kepadaku dan melambaikan tangan kepadaku. Eh rasanya seperti tersambar uang seratus ribu dan diberi minuman soda gembira hatiku ini. Tanganku spontan membalas dengan lambaian tangan dengan penuh senyuman. Tidak sampai disitu saja sampainya didekat jendalaku ia memberiku secarik kertas. Saat ku buka tulisannya “ternya kamu tu nyebelin dan lucu, besok setelah rapat OSIS makan bareng ya, nggak boleh nolak”. Ya ampun entah mimpi apa aku semalam, niatku jahilin dia ambil jepet malah mencuri perhatian dan hatinya. Emang seperti kata pepatah menyelam sambil minum air, bakar ikan, bikin minuman rumput laut, dan tomis udang. Beh udah mujur bangat hari ini. 
Adzan makhrib sudah berkumandang. Hari ini kamis, aku biasa di masjid mengajari anak-anak Sekolah Dasar untuk belajar membaca iqro’ dan surat-surat pendek. Sejak kelas satu SMP aku sudah menjadi salah satu pengajar mengaji anak-anak yang ada di desaku. Sejak kecil cita-cita ada dua, satu menjadi montir dan yang kedua menjadi guru. Alasan yang sederhana adalah aku suka melihat orang yang bisa membenarkan dan mengotak-atik sepeda sepedamotor. Untuk guru karna aku sangat ingin seperti pak Sukijadi guru agamaku. Beliau pernah berkata orang mati itu yang dibawa Cuma tiga satu amal jariyah, yang kedua ilmu yang bermanfaat dan yang ketiga adalah anak soleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Menjadi guru berarti menebarkan ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu tersebut bisa terus dikenang dan ditularkan serta memberikan balasannya kepada yang telah memberinya dan yang mengamalkannya. 
Seperti biasa pagi itu aku berangkat lari pagi dari rumahku menuju sekolah kurang lebih enam kilo meter. Lima belas menit sebelum jam masuk kelas aku dan Giyanto sudah sampai di sekolah. Belum sampai masuk di kelas Rina Puji Lestari menghampiriku dan memberikan minum.
“Campek ya Gi, kenapa si nggak ikut naik bus”, tanya Rina Puji Lestari.
“Akukan atlit lari, masak naik bus. Apa kata dunia”, sahutku dengan canda dan ketawa ketiwi.
Belum sempat aku meletakkan tas ke dalam kelas atau bahkan dimejaku, Rina Puji Lestari sudah menarik dan mengajakku kebelakang kelas dekat kamarmandi. Waktu itu dibelakang kelas didekat kamar mandi bisa dikatan markas buat para anak-anak yang sedang bermesraan atau kasmaran. Salah satu aku dan Rina Puji Lestari. Belum sempat aku berkata tiba-tiba ciuman mendarat di pipiku. Aku belum berkata apa-apa. Bunyi bel tanda masuk ke kelas dan pelajaran sudah berbunyi. Belum sempat aku bergerak dari tempatku semula dia sudah mendaratkan ciumannya lagi dan berkata “sampai ketemu jam istirahat pertama ya”. Sambil berjalan  meninggalkanku dan menuju kekelasnya.
Jam pertama adalah pelajaran Sejarah, aku termasuk anak yang pandai pelajaran Sejarah diantara anak-anak lain dikelasku. Karena kata anak-anak kelasku pelajaran sejarah membosankan hanya peta buta, tanya jawab dan menghafal angka-angka tahun kejadian. Sebenarnya saya juga bosan tapi aku anak yang aktif menjawab dan nilai ulanganku sering masuk tiga besar nilai yang paling bagus dikelasku. Ditambah lagi guru sejarahku ini guru montirku saat hari libur. Jadi beliau sangat hafal denganku. Bahkan terkadang jika tidak ada yang menjawab saat beliau mengajukan pertanyaan, wasalam pasti pertanyaan tersebut tertuju kepadaku. Mau tak mau akulah yang menjawab pertanyaan tersebut. 
Waktu pergantian pelajaran tiba, dan salah satu anggota OSIS tiba-tiba mengetuk pintu dan meminta ijin kepada guru kelas yang sedang mengajar. Memberi tahukan untuk para anggota OSIS agar hadir pada rapat OSIS di ruang OSIS, untuk membahas kegiatan susur pantai yang rutin diadakan setiap tengah semester. Aku adalah salah satu anggota OSIS di bidang keagamaan jadi saya ijin kepada pak Guru Sejarah untuk keluar mengikuti rapat OSIS. 
Belum selesai rapat, bel jam istirahat pertama berbunyi. Aku belum sempat berdiri dari tempat dudukku tiba-tiba Rina Wati sudah didepan ruang rapat OSIS menungguku sambil melambaikan tangan kepadaku. Akupun berdiri menghampirinya dan berjalan menuju kantin, duh saat melewati kelasku tiba-tiba Rina Puji Lestari ada di kelasku. Hem jika tau pasti perang dunia ketiga pecah dalam hatiku. Aku akhirnya mengajak Rina Wati makan dikantin diluar sekolah, tapi jaraknya dekat sekolah.
Rina Wati memang tak seagresif Rina Puji Lestari, dia agak pendiam dan pemalu. Saat makan dikantin lebih banyak aku yang selalu banyak bertanya dan bercanda, dia hanya ketawa-ketiwi sekenanya sambil memandangku. Tak lama sebelum bel masuk berbunyi rina memegang tanganku dan sambil berkata, 
”Gi besok minggu main kerumahku ya, ada acara Rasulan atau bersih dusun”. 
“Ok, tapi berdua ya”, sahutku sepontan.
“Lo kok berdua, emangnya dengan siapa”, kata rina sambil mengerutkan dahinya.
“Sama Soibku Giyanto”, sahutku.
“Aku pikir dengan pacarmu”,dia pun tertawa sambil memegang tanganku.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan bel tanda masuk kelaspun berbunyi. Kami berdua kembali kekelas masing-masing, diapun tak lupa melambaikan tangan padaku saat aku sampai di depan pintu kelas ku. Senyumnya merona lambang kebahagian yang tiada tara terpancar diwajahnya. Akupun tersenyum padanya tanpa kusadari.