5
Oleh : Nia Fii




"Kebetulan sekali ya kita bertemu disini, ada yang pengen aku sampaikan sama kamu." Ucapnya lagi.

"Aku turut berdukacita ya Sha atas meninggalnya kakak kamu, aku benar-benar gak percaya Lukman secepat ini meninggalkan kita semua." Imbuhnya dengan wajah yang berubah sendu.

"Iya Mas, aku juga gak percaya dengan semua ini."

"Oh ya Sha, kamu merasa gak kalau meninggalnya Lukman itu terasa janggal. Ketika aku membuka jenazahnya aku gak menemukan bekas ikatan dilehernya dan aku melihat ada lebam di bagian dada sebelah kiri." 

Alisha menatap Rizal dengan seksama. Ternyata Rizal juga merasakan hal yang sama, bukan hanya dirinya yang merasakan kejanggalan pada kematian Kakaknya. Dan dia semakin yakin kalau ada orang yang sudah sengaja menghilangkan nyawa Kakaknya, tapi siapa dan apa motifnya sehingga sampai tega melakukan hal sekeji itu. Seingat Alisha, Lukman Kakaknya tak punya musuh dan di perusahaannya Lukman juga sangat loyal kepada karyawan-karyawannya.

"Hei, kok ngelamun." Rizal melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Alisha sambil tersenyum.

"Mm maaf Mas." Alisha tergagap. "Aku juga merasakan kejanggalan itu Mas. Tapi aku bingung bagaimana kita bisa mengungkap kasus ini untuk mengetahui siapa pelaku yang sudah tega menghabisi nyawa Mas Lukman." Imbuh Alisha.

"Oh ya, Mas ada lihat luka lebam juga ya?" Tanya Alisha memastikan.

"Iya aku melihat ketika orang memandikan jenazah, aku sengaja mengintip di celah dinding, itu karena aku tak melihat ada jeratan dileher Lukman jadi aku merasa curiga."

"Kamu harus yakin pasti akan bisa membuka kasus ini seterang-terangnya, dan aku juga bersedia untuk bantu kamu. Juga kamu harus ingat untuk menyelidiki ini semua kita tak boleh gegabah karena kita ini sedang berurusan dengan orang yang sangat berbahaya dan kalau kita salah perhitungan bisa-bisa nyawa kita juga terancam." Terang Mas Rizal.

"Aku ngerti Mas, aku akan lebih berhati-hati." Ucap Alisha sambil mengangguk.

"Kamu jangan cerita kepada siapapun tentang rencana kita ini baik kepada suamimu ataupun kepada Luna istri Lukman dan juga orang-orang yang dekat dengan Lukman."

"Iya Mas aku gak akan cerita pada siapapun. Aku barusan tadi dari rumah Mas Lukman tapi Mbak Luna gak ada dirumah. Yang ada Mang Udin tukang kebun dan Mpok Minah dirumah itu. Ketika aku mengajak Mang Udin ngobrol tiba-tiba saja dia beralasan dan dengan cepat meninggalkan aku, aku merasa aneh dengan sikap Mang Udin itu gak seperti biasanya, aku menduga dia ada kaitannya dengan kematian Mas Lukman, kalau menurut Mas bagaimana?" 

"Kalau dari sikapnya bisa jadi dia terlibat tapi kita tak bisa hanya menduga-duga, karena itu ada dua kemungkinan dia termasuk pelaku tapi bisa juga dia itu saksi dari pembunuhan itu tapi diancam untuk tutup mulut."

Alisha mengangguk tanda mengerti dengan penjelasan Rizal.

Alisha juga menceritakan perihal mimpi yang dialaminya pada Rizal.

"Mendengar cerita tentang mimpi kamu itu aku menjadi semakin yakin, kalau Lukman dibunuh.
"Dan aku ingatkan sekali lagi, kamu jangan gegabah aku takut kalau keselamatan kamu terancam karena kita sedang menghadapi orang yang berbahaya."

"Iya, aku akan berhati-hati Mas."

"Oh ya Sha, boleh aku minta nomor handphone kamu, supaya nanti kita bisa berhubungan lewat telepon dan juga kalau ada bukti baru yang berkaitan kamu bisa hubungin aku. Kamu juga jangan menyelediki kasus ini sendiri, aku akan siap membantu hingga semuanya terungkap dan Lukman tenang di alam sana."

Alisha dan Rizal saling bertukar nomor telepon.

"Terimakasih banyak Mas atas bantuannya, aku akan lebih berhati-hati lagi."

"Iya sama-sama, dan pastikan orang-orang disekitar kamu tak ada yang tahu kalau kamu sedang menyelidiki kasus ini, karena bisa-bisa nantinya akan menyulitkan kita." Rizal terus mengingatkan Alisha.

"Iya siap Mas." Ucap Alisha sambil tersenyum.

"Nanti akan kita bicarakan untuk langkah selanjutnya."

Hampir satu jam mereka berbincang dan kini Alisha pamit untuk segera pulang, sedangkan Rizal juga ingin kembali ke kantor.


*******

Sesampai dirumah Alisha langsung kekamar untuk merebahkan diri karena sudah terasa sangat lelah. Dia memijit-mijit dahinya, pikirannya terus terbayang pada ibu dan juga Kakaknya. Dia masih belum percaya secepat ini mereka berdua meninggalkannya.

Ketika ia memiringkan badannya, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kertas putih yang tergeletak dilantai.

"Hmm apa itu." Pikir Alisha.

Alisha pun bangun dari tempat tidurnya dan berniat untuk mengambilnya.



Bersambung


Makasih buat teman-teman yang sudah mampir, jangan lupa like n komen juga ya.. biar tambah semangat nulisnya🤗🤗🤗
Happy reading 😊😊