8
Meisya melangkah gontai ke dalam kamar. Mendengar keputusan Evan tadi, membuatnya tidak bisa berkutik. Bagaimanapun, dialah yang awalnya memicu terjadinya masalah ini. Dari sekadar merasa jenuh, sampai berani kembali pada masa lalu. Malah, berani bermain api dengan seorang karyawan baru.

Beberapa waktu yang lalu, Meisya selalu terlihat berani. Bahkan menantang Evan agar mengakhiri hubungan mereka. Tapi kenyataannya sekarang lain. Dia sudah membayangkan bagaimana hari-harinya akan kesepian selama tiga bulan ke depan tanpa Evan.

Gengsi. Itulah yang membuat Meisya tidak bisa menolak permintaan Evan. Nasi sudah menjadi bubur. Meisya sudah berjanji akan mengikuti permintaan Evan. Mungkin benar, kalau dia perlu waktu agar bisa berpikir kebih dewasa.

***

Suara alarm yang di stel dengan volume keras, membangunkan Meisya. Biasanya, Evan yang akan meneleponnya sebelum dia berangkat salat ke masjid.

Kini berbeda. Hari ini adalah hari pertama setelah Evan memutuskan break selama tiga bulan kedepan.

Meisya mengusap wajahnya. Kalau saja dia tidak mementingkan gengsi, mungkin semalam bisa menolaknya.

"Sebelum kita pulang, Evan pamit sama Mama sekalian minta maaf. Meisya, apa kalian putus?" tanya Mama ketika Meisya sedang bersiap untuk berangkat kerja.

Meisya tetap melanjutkan aktivitasnya memasang kaos kaki. Berpura-pura tidak mendengar apa yang Mama katakan.

"Mei?" ulang Mama.

"Evan mau, kita nggak saling berhubungan selama tiga bulan, Ma. Supaya Mei bisa lebih yakin sama hubungan kami kedepannya."

Mama menghela nafas berat. Dia tahu, kesalahan terletak pada putrinya. Jika Evan sudah memutuskan begini, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Mama harap, kamu benar-benar menggunakan kesempatan ini dengan baik. Jangan gegabah saat mengambil keputusan nantinya. Ingat, Mei, dia sampai nggak mau menghubungi kita di saat ayahnya meninggal. Itu artinya, dia sudah merasa lelah dengan sikap kamu."

Meisya mendecak kesal. 

"Ma! Meisya kalau diceramahin pagi-pagi suka oleng di tempat kerja! Nanti kalau Mei nggak fokus gimana?" Dia masih berusaha bersikap santai meski pikirannya sudah bercabang kemana-mana.

"Diceramahin aja oleng, apalagi nggak! Tapi, Mei, apa kamu tahu, cewek yang ada di samping Evan saat kita pertama datang?"

Meisya mencoba mengingat-ingat.

"Nggak tahu."

"Kayanya, waktu kalian tunangan, dia nggak datang. Apa saudara jauh, ya?"

"Mei nggak tahu, Ma. Sekarang, Mei harus berangkat, supaya nggak ketinggalan angkot."

"Susah dibikin sendiri kamu. Coba, apa kurangnya Evan yang mau antar jemput kamu tiap hari?"

"Ma!"

***

Meisya melangkah pelan ke dalam pabrik. Sebelum Evan mengambil keputusan ini, dia begitu senang dan merasa bebas ketika bisa berangkat kerja sambil naik angkot. Tapi hari ini lain. Meisya merasa nggak nyaman. Sudah supirnya ugal-ugalan, ditambah banyaknya ibu-ibu yang baru kembali dari pasar dengan belanjaan mereka. Beragam bau bercampur jadi satu membuat Meisya tak kuat dan memilih turun untuk mencari angkot lainnya.

"Mei!"

"Lit!"

"Kamu ke rumah Evan kemarin?"

Meisya mengangguk.

"Aku juga datang sama Abang pas acara tahlilan. Elisa bilang, kamu sudah datang."

"Aku memang nggak lama-lama, di sana, Lit."

"Lho, kenapa?"

"Nggak apa-apa, aku hanya nggak sanggup melihat keluarga itu terus larut dalam kesedihan."

Ditengah percakapan mereka, Ryan melambaikan tangan sambil memanggil.

"Mei!"

Meisya tersenyum simpul sambil membalas lambaian tangan kepada Ryan. Lelaki itu lantas menghampiri mereka berdua.

"Mei, kamu suka music jazz, bukan?"

Meisya mengangguk.

"Aku punya tiketnya. Dua hari lagi, bagaimana?"

"Aku belum bisa mutusin. Kalau misalnya lembur?"

"Aku bisa atur. Santai aja. Lita, kamu mau ikut juga nggak?"

"Aku nggak terlalu suka nonton konser musik, Ryan."

"Oke, lain kali aku akan traktir sesuai keinginanku kamu. Bagaimana?" 

Lita tersenyum. Pandangannya beralih pada Meisya yang terlihat murung.

Begitu Ryan pergi, Lita menarik Meisya ke belakang. Kardus besar berisi tas-tas yang siap di ekspor, tersusun rapi ke atas menyerupai sebuah bangunan. 

Kerjaan sebagian packing transfer, mereka sengaja membuat ruangan kecil di tengah-tengah kardus yang menjulang tinggi untuk tempat istirahat tersembunyi selama jam kerja.

Lita kemudian menarik Meisya ke dalam sana, agar tidak ada yang mendengar percakapan mereka.

"Mei, kamu ini kenapa? Aku membiarkan kamu selama ini, bukan berarti mendukung sikap kamu yang plin-plan itu!" omel Lita.

"Aku hanya jalan sama Ryan sebagai teman, Lita. Bahkan, dia menawarkan supaya kamu ikut juga, kan!"

"Kamu ini kenapa, sih, Mei?"

"Apanya yang kenapa?"

"Seharusnya, kalau punya masalah itu diselesaikan dengan baik. Bukan malah semakin menjadi-jadi! Kamu nggak pikirin bagaiman perasaan Evan kalau lihat kamu jalan sama Ryan di tengah masalah yang sedang terjadi diantara kalian?"

"Evan ... Evan ...." Meisya terbata-bata melanjutkan kalimatnya. "Evan memutuskan supaya kita break dulu selama tiga bulan, Lit!"

"Break?"

Meisya mengangguk pilu.

"Kalau begitu, mestinya kamu mikir, Mei, bukan malah nantangin kaya gini!"

"Aku bukan nantangin, Lit. Justru dengan cara seperti ini, aku bisa benar-benar yakin dengan perasaan aku yang sebenarnya."

"Bagaimana kalau kamu malah nyaman jalan sama Ryan?"

"Simpel, Evan bukan jodohku!" jawab Meisya sambil keluar dan meninggalkan Lita di dalam.