9
"Simpel, Lit. Evan bukan jodoh aku!" jawab Meisya asal.

Dengan cekatan, Lita kembali menarik tangan Meisya. Dia tahu, sahabatnya itu hanya pura-pura terlihat baik-baik saja.

"Kamu baru akan merasa kehilangan, setelah semuanya sudah berakhir, Mei. Pikirkan lagi kata-kata aku."

Meisya terdiam menatap Lita. Gengsi yang begitu besar, bahkan membuat Meisya enggan mengakui perasaan yang sebenarnya di hadapan Lita.

***

Jam pulang kerja tiba. Meisya melangkah gontai keluar gerbang. Dia bahkan hampir terjatuh ketika suara klakson motor Lita yang baru keluar dari parkiran, membuatnya terkejut.

"Mei, mau bareng? Aku anter kamu pulang!" tawar Lita yang khawatir dengan kondisi sahabatnya. Sejak pagi, beberapa kali Lita mendapati Meisya sedang melamun.

"Nggak usah Lit, aku mau mampir dulu ke supermarket."

Lita tak mau memaksa. Dia yakin, supermarket bukanlah satu-satunya alasan Meisya menolak tumpangannya.

"Hati-hati ya, telepon aku kalau sudah sampai di rumah!"

Meisya tersenyum. Dengan memintanya menelepon ketika tiba di rumah, apakah Lita masih menganggapnya seperti anak kecil?

***

Setelah Lita pergi, Meisya duduk di halte sambil menunggu angkot yang tidak terlalu ramai penumpang. Biasanya kalau sebagian besar karyawan sudah pulang, tak banyak penumpang yang mengisi angkot terakhir.

Meisya menatap nanar sebuah warung kopi di seberang jalan. Biasanya, Evan sudah siap menunggu Meisya di sana setelah dia pulang kerja.

Tak peduli Meisya lembur atau tidak dia tetap akan menunggu.

Kemarin, Meisya selalu kesal melihat Evan sudah menunggunya. Akan tetapi, berbeda dengan kali ini. Dia begitu berharap Evan ada di sana dan menjemputnya.

"Mei, nunggu siapa?"

"Ryan? Aku nunggu angkot sepi dulu!"

"Mau aku anter?"

"Nggak usah, naik angkot saja."

"Kalau nggak mau sampai rumah, aku bisa antar kamu hanya sampai gang depan aja!" 

"Nggak usah, beneran, deh! Aku lagi pengen naik angkot!"

"Ya sudah, hati-hati ya, Mei. Kalau sudah sampai, kabarin aku!"

Lagi-lagi. Tak jauh berbeda dengan Lita, Ryan pun berpesan sama. Meminta Meisya mengabari kalau sudah tiba di rumah.

'Sudah ada dua orang yang khawatir karena aku pulang naik angkot. Kamu, Van ... Apa kamu nggak khawatir seperti biasanya?' gumam Meisya lirih.

Sambil menunggu angkot berlalu lalang. Sesekali Meisya memeriksa handphonenya. Evan benar-benar menepati janji. Tidak ada satupun panggilan masuk dan pesan yang dari lelaki itu.

Sementara perasaan Meisya dibuat campur aduk. Dia tidak mungkin menghubungi Evan lebih dulu. Mereka sudah sepakat untuk tidak saling berhubungan selama tiga bulan ini.

Matanya lalu tertuju pada story WA yang baru saja dibuat Elisa, adik Evan. Ada foto bocah SMP itu bersama seorang wanita yang berada di dekat Evan ketika Meisya dan Mama melayat.

[Terima kasih kakak cantik, sudah menghiburku hari ini.]

Meisya menggigit ujung bibirn ya. Caption yang dibuat Elisa semakin membuatnya bertanya-tanya, siapa sebenarnya wanita itu?

Baru saja Meisya akan mengomentari foto itu. Status yang dibuat Elisa sudah dihapus. Tidak sampai lima menit. Ada apa dengan Elisa?

[Cha, foto siapa tadi? Kok kayanya Kak Meisya belum pernah lihat?]

Lama, Meisya menunggu balasan dari bocah SMP itu.

[Namanya Kak Freya.]

[Maksud Kak Meisya, dia saudara jauh kah? Kok Kak Meisya belum pernah lihat?]

[Ini temennya Abang Evan, Kak.]

Teman?

Meisya mengernyitkan keningnya.

Sejak pertama menjalin hubungan dengan Evan, Meisya tahu siapa saja teman Evan. Teman kantor pun, hampir semua dikenalnya. Tentu saja karena Evan sering mengajaknya pergi setiap kali ada acara kantor.

Tapi wanita bernama Freya ini, kenapa Meisya baru melihatnya?

Kalau memang teman baru, apakah mungkin bisa seakrab itu dengan Elisa?

Tiba-tiba saja hatinya bergemuruh. Dia yakin, Freya bukan hanya sekedar teman.

Tak banyak berpikir, Meisya kembali menghubungi Dion dan menanyakan, siapa wanita bernama Freya itu.

"Freya? Kenapa kamu nggak langsung tanya sama Evan? Kalian lagi ada masalah?" Dion malah balik bertanya.

"Nggak, kok. Aku cuma tanya aja dia itu siapa?"

"Hanya masa lalu, Mei. Kamu nggak usah pikirin!"

"Masa lalu?" 

Apakah yang Evan maksud, kalau Freya adalah mantan pacar Evan dulu?

Kalau tidak salah, mereka berpisah karena berbeda keyakinan. Lalu, apakah saat ini Freya kembali hanya untuk menghibur Evan, atau karena ingin kembali padanya?