5
"Firza?" Meisya berdecak pelan ketika melihat pria yang pernah mengisi hatinya itu, tengah menunggu di sebuah kafe yang mereka sepakati.

Dari jauh, Firza melambaikan tangannya. Melihat perubahan yang begitu drastis pada mantan pacarnya itu, Meisya sempat tidak mengenali Firza.

Rambutnya yang dulu sering diikat karena terlalu gondrong, kini dipangkasnya hingga terlihat lebih rapi. Kaos oblong yang biasa dipakainya pun tidak terlihat. Firza jauh lebih tampan dengan kemeja lengan pendek.

Melihat perubahan yang begitu besar pada Firza, membuat Meisya sempat minder. Dia yang baru pulang kerja, bahkan tak sempat mengganti seragam pabrik yang dikenakannya. Hanya sebuah sweater tipis berwarna moka yang membalut seragam berwarna biru itu.

Kalau saja Firza belum melihatnya, mungkin Meisya akan memilih kembali pulang ke rumah.

"Mei!" Lagi. Firza memanggil Meisya yang diam mematung.

Dengan terpaksa, Meisya menghampiri Firza ke meja tempat duduknya.

"Kamu sudah berubah, Za. Aku hampir nggak ngenalin kamu tadi." Meisya duduk dan meletakkan tas selempangnya di meja.

"Penampilan spesial, buat kamu."

"Ck, jangan bicara begitu. Kamu bilang, pertemuan kita hanya sebatas hubungan pertemanan. Kamu nggak mau bikin goyah perasaan aku, kan?" kata Meisya mengingatkan. Meskipun hubungannya dengan Evan sedang berada di ujung tanduk. Meisya masih berpikir ribuan kali untuk melepaskannya demi laki-laki lain.

Dia masih berharap, perasaan ya terhadap Evan bisa kembali seperti dulu. Selalu berdebar berada  dekatnya. Bukan malah merasa tidak nyaman..

"Kamu nggak perlu khawatir kalau hubungan kalian memang baik-baik saja. Mendengar kamu bicara begitu, aku malah curiga, apa hubungan kalian sedang ada masalah?" selidik Firza.

Meisya menekuk wajahnya. Seharusnya, pergi menemui Firza adalah untuk melupakan masalahnya dengan Evan, dan bukan malah membahas ketika sedang berdua.

"Kamu nggak banyak berubah, Mei. Tetap cantik seperti dulu!" puji Firza. Sontak wajah Meisya merona menahan malu.

"Za!"

"Aku hanya bicara apa adanya, Mei. Walaupun aku masih berharap mendapat kesempatan, aku nggak akan memaksa kamu untuk kembali sama aku."

Meisya bergeming. Firza memang tidak pernah melukai hatinya. Meisya-lah yang lebih dulu mengakhiri hubungannya. 

"Sekarang, gimana kalau kita nonton dulu?" tanya Firza. 

Meisya melirik jam di tangannya. Baru jam enam kurang. Dia pun menyetujui tawaran Firza.

***

[Meisya, Evan ada di rumah sejak sore. Katanya kamu sudah pulang? Kamu di mana, Mei?] pesan dari Mama. Lagi-lagi karena Evan.

Meisya langsung menonaktifkan ponselnya. Untung saja sudah mode diam. Karena sejak sore, panggilan masuk dari mamanya mencapai ratusan kali. Ditambah lagi, pesan yang mengatakkan kalau Evan ada di rumah sekarang, cukup membuat Meisya semakin kesal.

Firza yang sejak tadi memerhatikan aktivitas Meisya, semakin merasa yakin, kalau sedang ada masalah yang tengah dihadapinya.

***

"Mei, kamu mau beli apapun, ambil aja!" tawar Firza. Meisya menggeleng pelan.

"Nggak perlu, Za." 

Biar bagaimanapun, mereka sudah tak punya hubungan apa-apa. Meisya khawatir dengan menerima pemberian Firza, akan memberikan harapan pada laki-laki itu.

"Kalau begitu, aku anter kamu pulang, ya? Aku bawa mobil!"

"Aku bisa pulang sendiri, Za."

"Kamu takut berpapasan dengan Evan? Dia pencemburu?" tanyanya penuh selidik.

"Apa ada laki-laki yang baik-baik saja kalau melihat pacarnya pergi dengan lelaki lain?" Meisya malah balik bertanya. Firza mengangguk. Mencoba memahami bahwa saat ini Meisya bukan lagi kekasihnya seperti dulu.

"Ya sudah. Aku nggak bisa maksa kamu. Aku cuma mau bilang, selama kamu belum resmi menikah, aku masih berharap kita bisa balikan lagi, Mei!"

Meisya tak begitu mengindahkan ucapan Firza.

"Aku pulang, Za."

Dengan menaiki taksi online yang dipesannya Meisya pulang kerumah. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam.

Begitu tiba di ujung gang, Meisya memilih berhenti di sana.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Pesan dari Firza.

[Mei, selamat istirahat, ya. Mobilku ada di belakang kamu. Aku khawatir karena  ini sudah malam. Jadi aku ikutin kamu dari belakang.]

Pesan dari Firza membuatnya menoleh. Laki-laki itu melambaikan tangannya dari dalam mobil sambil tersenyum.

Bayangan akan beberapa tahun silam kembali terulang. Tentang perhatian Firza dan bagaimana cara lelaki itu memperlakukannya. Kini, Firza kembali dengan perhatian dan sikap yang sama. Membuat jantung Meisya kembali berdebar ...