4
"Mei, kenapa kamu bisa bicara begitu?" tanya Lita dengan mata berembun. Segala bentuk perhatian untuk sahabatnya, ditanggapi lain oleh Meisya.

"Kamu yang kenapa, Lita. Aku itu butuh dukungan. Bukan terus dipojokkan seperti ini. Kamu pikir, aku nggak tersiksa dengan perasaan seperti ini?"

Meisya duduk di kursi tempat dia biasa menghabiskan waktunya seharian ketika sedang bekerja. Ditelungkupkan kedua tanganya di wajah, agar karyawan lain tidak melihat dia menitikkan air mata.

Lita tak tahu harus berkata apa lagi. Dia takut, salah-salah akan membuat Meisya kembali salah paham.

"Aku capek Lita. Aku nggak tahu perasaan aku sendiri. Setiap berada di dekat Evan, bawaannya benci terus!"

Lita merangkul tubuh sahabatnya. Membiarkan Meisya melepaskan tangisannya.

"Mei, ini ujian sebelum kalian menikah. Kamu dan Evan harus bisa melewati ini. Aku hanya nggak mau hubungan kalian berakhir!"

"Aku nggak mau bahas ini dulu. Mood aku udah rusak dari pagi!" sahut Meisya ketus. Gadis itu lalu beranjak meninggalkan Lita.

Sementara itu, Lita tak bisa lagi menahan Meisya. Terus memaksakkan kehendaknya hanya akan membuat gadis berambut sebahu itu semakin kesal padanya.

***

[Mei, jadi ketemu hari ini.] Pesan dari Firza membuat senyum Meisya yang sejak pagi hilang, muncul kembali.

[Aku belum tahu pulang jam berapa. Hari Minggu aja ya.]

Meisya sengaja membatalkan rencananya untuk bertemu Firza hari ini. Dia khawatir, Evan akan menunggu di depan pabrik seperti kemarin. Kalau hari minggu, biasanya jadwal Evan untuk mengunjungi orangtuanya yang tinggal di Jakarta. Akan aman kalau dia menemui Firza hari itu. Begitu pikir Meisya.

"Mei!" Ryan setengah berlari mengejar Meisya. Sejak awal bekerja di pabrik ini, laki-laki berkulit cokelat itu memang sudah tertarik dengan Meisya. Bukannya dia tidak tahu, kalau perempuan yang memiliki gigi kelinci itu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan dilamar.

Menurutnya, selama undangan belum disebar, dia masih punya kesempatan.

Laki-laki itu memang sudah dibuat buta karena perasaannya pada Meisya. Baginya, wanita itu terlihat seksi karena kepintarannya dan selalu kelihatan energik.
Sebagai pengawas line, Meisya memang  tidak pernah ragu untuk membantu bawahannya. Dia akan ikut bekerja membantu anak buahnya.

"Ryan? Ngapain?"

"Kamu bawa bekal?"

"Enggak! Makanya aku mau cari makanan di luar pabrik."

"Kalau begitu, saya ikut!"

"Mmm ... Gimana ya?"

"Saya yang traktir! Kamu mau makan apa aja, saya ikut selera kamu!"

"Oke, itu baru tawaran yang bagus!"

Keduanya pun, beralih ke parkiran, untuk mengambil motor. Wajah Meisya yang sejak tadi terus murung, kini kelihatan lebih ceria.

***

Jam pulang kerja tiba. Sesuai dugaan Meisya, Evan sudah menunggunya di depan gerbang pabrik.

Seolah tahu akan ada keributan, Meisya memilih keluar pabrik belakangan.

"Mei, jam istirahat tadi, aku nunggu kamu di depan gerbang, dan kamu malah naik motor sama orang lain. Siapa dia? Apa dia yang sudah buat kamu berubah seperti ini?" cecar Evan begitu Meisya keluar pabrik.

"Van, aku lama-lama ngerasa kaya buronan tahu nggak? Kamu kenapa ngikutin aku terus? Jam istirahat, jam pulang kerja. Aku ngerasa nggak nyaman!"

"Aku lihat kamu bercanda di atas motor tadi. Apa itu nggak bikin aku semakin kesal? Lihat sekarang, kamu ngomong sama aku aja nggak bisa menatap mata aku! Seolah aku ini nggak ada artinya di hadapan kami!"

"Terserah. Aku capek, dicurigain terus!"

"Kalau sikap kamu nggak berubah, aku nggak akan curiga, Meisya!"

"Terus kamu mau apa? Mau hubungan kita berakhir?" tantang Meisya. Sontak, mata Evan membulat karenanya.

"Mei!"

Meisya diam. Kelihatan sekali kalau Evan marah besar.

"Semudah itu kamu mengucap begitu, Mei? Aku yang terluka, tapi sedikitpun aku nggak pernah berpikir untuk mengakhiri hubungan kita. Pikirin bagaimana perasaan orangtua aku dan orangtua kamu. Apa hubungan selama tiga tahun ini benar-benar nggak ada artinya, Mei?"

"Nggak usah lebay, Van! Orang yang sudah bertahun-tahun menikah saja masih bisa bercerai!"

Tanpa banyak berpikir lagi, Meisya menyetop angkot yang lewat, dan masuk ke dalamnya.

Sementara Evan mulai menyerah. Memaksa Meisya untuk bicara dari ke hati rasanya sulit untuk saat ini. 

Di dalam angkot, Meisya belum turun juga meski perumahan tempat dia tinggal sudah kelewat jauh. Dia malas kalau sampai Evan menunggu di rumah dan mengulang perdebatan yang sama.

Diraihnya ponsel di tas, dan mengirimkan pesan untuk Firza. Terlanjur kelewat jauh, dia memilih bertemu Firza hari ini.