2
Meisya terbangun ketika azan Subuh berkumandang. Sebelum membuka matanya lebar-lebar dia sempatkan meraih ponsel di atas meja.

Panggilan tidak terjawab dari Evan, masuk berkali-kali di ponselnya. Meisya mengucek matanya dan membaca belasan pesan yang yang ada di sana.

Tanpa diduga, Evan mengatakan kalau dia datang ke pabrik semalam dan membawa makanan untuknya.

[Mei, kamu dimana? Jangan buat aku khawatir! Satpam bilang, pabrik sudah kosong.] Pesan terakhir yang masuk, membuat wanita itu menggigit ujung kukunya.

Dan satu pesan lagi setelahnya.

[Mei, kamu udah buat aku khawatir. Aku telepon teman-teman, ternyata kamu sudah pulang.]

Tanpa perasaan bersalah, lagi-lagi dia malah menyalahkan sikap Evan yang dinilainya terlalu berlebihan.

[Aku nggak minta jemput kan, Van? Salah sendiri kenapa kamu malah kesana!] balas Meisya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Membuat Evan menunggu berjam-jam sampai tengah malam.

[Mei, aku telepon sekarang, angkat!]

[Aku mau mandi!]

Meisya segera menyambar handuk, tanpa memedulikan panggilan telepon dari Evan yang terus berdering.

Mengguyur wajah dengan siraman air, mungkin akan membuat pikirannya merasa jauh lebih segar.

Begitu keluar dari kamar mandi, wajahnya semakin muram ketika melihat puluhan panggilan tidak terjawab Evan.
Meisya menghempaskan bobot tubuhnya di kasur sembari menungkupkan kedua tangannya di wajah.

Meredakan sedikit pikiran yang kacau akhir-akhir ini.

Lima menit setelahnya, ponsel Meisya kembali berdering. Namun, kali ini bukan dari Evan, melainkan dari Firza.  Senyum tersungging di bibirnya begitu membaca pesan. Lelaki yang pernah mengisi hatinya itu, lagi-lagi mengirim ajakan untuk bertemu.

Dulu, Meisya memutuskan hubungan, karena tak ingin menjalani hubungan jarak jauh. Firza yang saat itu mendapat tugas di Kalimantan, akhirnya memilih untuk menerima keputusan wanita yang dicintainya. Empat tahun berlalu, kini, Firza kembali dengan cinta yang dulu pernah dia berikan.

"Mei, nggak sarapan dulu?" tanya Bu Isti ketika melihat anak gadis satu-satunya keluar dari kamar dan langsung menuju ruang tamu untuk memakai kaus kaki.

"Masih kenyang, Ma. Semalam, Mei bikin mie jam sebelas!" kata Mei, tanpa menoleh. Bu Isti duduk di samping Meisya dan meletakkan secangkir teh manis hangat untuk putrinya.

"Sedang bertengkar dengan Evan?" selidiknya.

"Nggak."

"Evan telepon Mama semalam. Mama bilang, kamu sudah di rumah dan sudah tidur."

"Mei cuma lagi kesel aja sama Evan, Ma!"

"Kesal?"

Meisya mengangguk.

"Kesal kenapa?"

"Nggak tahu kesel aja!"

Setelah berucap begitu, suara salam terdengar dari luar.

"Assalamualaikum ...."

"Waalaikumusalam ...," jawab Bu Isti. Sementara Meisya tetap bergeming.

Suara khas milik Evan, terdengar dari balik pintu. Gegas, Bu Isti beranjak untuk membukakan pintu. Meisya, tak bisa lagi berkutik. Kedatangan Evan yang tiba-tiba, tak memberi waktu untuk menghindar sama sekali.

Begitu, Evan masuk, Bu Isti meninggalkan mereka. Alih-alih ingin membuat minuman, wanita yang sudah lama menjanda itu, ingin memberikan ruang agar mereka bisa leluasa berbicara.

Namun, tidak dengan Meisya. Dia justru merasa, kepergian mamanya ke belakang, membuatnya tidak nyaman.

"Mei, aku antar kamu kerja, ya!"

"Aku bisa sendiri, mending kamu berangkat kerja!" jawab Meisya ketus.

Evan menghela nafas. Selama empat tahun dekat dengan Meisya, dia mengenal betul perangai wanita yang sangat dicintainya itu.

"Mei, apa aku punya salah sama kamu?"

Meisya ingin menjawab 'banyak'. Berbagai kesalahan Evan, tiba-tiba memenuhi isi kepalanya. Kesalahan kecil, kesalahan besar, bahkan semua kesalahan yang awalnya telah dimaafkan, kini berkumpul kembali. 

Ingin rasanya dia melampiaskan semua pada Evan, hingga membuat laki-laki itu mengerti kalau saat ini, Meisya sedang tidak nyaman berada di dekatnya. Tapi ... kalimat demi kalimat yang telah dia rangkai di kepalanya, hanya tertahan di dalam hati.

Tanpa menjawab pertanyaan Evan, Meisya melanjutkan aktivitasnya.

Evan beranjak dari tempat duduknya semula, lalu duduk di samping Meisya. Sedikit bergeser, Meisya semakin membuat Evan tak mengerti dengan sikapnya.

"Mei, aku salah apa sama kamu? Bicara, Mei. Jangan seperti ini!"