1
[Mei, sudah ada kabar, pulang atau lembur?]

Meisya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas, saat melihat pesan dari Evan, lelaki yang telah menjadi kekasihnya selama tiga tahun terakhir.
Entah kenapa, akhir-akhir ini, Meisya merasa malas menanggapinya. Padahal, dua bulan lagi, Evan berencana membawa keluarganya untuk melamar Meisya.

Perlahan, wanita berusia dua puluh enam tahun itu kembali mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Dia khawatir, kalau tidak dibalas, Evan akan mencari tahu ke teman-temannya yang lain. Ini adalah salah satu alasan yang dipakai Meisya setiap kali Lita bertanya tentang perubahan sikap dia pada Evan. Baginya, Evan terlalu posesif, hingga membuatnya jenuh.

Tanpa berpikir lama lagi, Meisya membalas pesan itu.

[Van, kayanya hari ini aku lembur lagi. Ada ekspor dadakan.] balasnya.

[Berarti kamu nginep di kost-an Lita lagi? Atau kalau kamu mau pulang, hubungi aku aja biar aku jemput oke? Jangan pulang sendiri!]

Meisya kembali meletakkan handphonenya tanpa membalas lagi. Bahkan untuk sekadar basa-basi pun, dia sudah malas. Apapun yang Evan lakukan, kini terlihat salah di mata Meisya.

Hari ini, karyawan pabrik serempak pulang jam empat sore. Banyaknya jumlah karyawan, memaksa Meisya untuk menunda pulang dan memilih menunggu di bangku dekat trotoar. Dia paling tidak nyaman berdesak-desakan. Lebih baik menunggu beberapa saat, sampai sebagian karyawan pergi meninggalkan pabrik.

"Mei, naik angkot lagi?" tanya Lita begitu melihat Meisya sedang menunggu di depan pabrik, tempat mereka bekerja selama lebih dari empat tahun. Biasanya, saat pulang kerja begini, mereka akan menunggu sampai penuh. Meisya yang jarang naik kendaraan itu, merasa tidak nyaman berlama-lama dalam keadaan mobil berhenti. Lebih baik dia menunggu sampai jalanan lengang.

"Iya, Lit. Kalau Evan hubungin, kamu bilang kita lembur, ya!" pinta gadis dengan rambut sebahu itu.

Lita memarkirkan motornya di pinggir trotoar. Setelah melepas helm yang telah dikenakannya, dia duduk di samping Meisya.

"Mau sampai kapan kamu menghindar dari Evan, Mei?" tanya Lita. Meisya yang sejak tadi menundukkan kepalanya, kini menoleh dan menatap Lita.

"Aku harus bagaimana, Lit?" Dia balik bertanya dengan pandangan kosong.

"Kok tanya aku? Perasaan kamu bagaimana sekarang?"

"Aku nggak tahu."

"Evan itu, sudah serius, Mei. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Keluarga kalian sudah saling kenal, Evan juga sudah menetapkan waktu untuk melamar kamu. Apalagi?"

"Itulah, Lit. Aku nggak mau nantinya aku menyesal karena terburu-buru mengambil keputusan."

"Maksud kamu?"

"Apa aku akhiri aja hubungan ini ...?"

"Ya ampun, Mei! jangan gegabah! Aku yakin, saat ini kamu hanya sedang berada di titik jenuh. Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar. Aku yakin, ini hanya godaan yang datang di sela rencana pernikahan kalian!" Mata Lita membulat sempurna menanggapi ucapan Meisya.

"Entahlah ... Aku juga bingung dengan perasaan aku sendiri," ucapnya sambil mengusap bulir bening di sudut matanya.

"Kamu bukan goyah karena sikap Ryan, lelaki yang baru masuk kerja di office itu, kan?"

Meisya membuang nafasnya. 

Ryan, lelaki itu memang menarik perhatiannya belakangan ini. Sikapnya yang terkesan santai dan sering menjahilinya, membuat Meisya secara tak sadar, membandingkannya dengan Evan yang dinilai terlalu kaku.
Tapi Meisya yakin betul, bukan itu alasannya menghindar dari Evan.

"Atau karena pesan dari Firza?"

Meisya kembali bergeming, tak menanggapi lagi ucapan Lita. Begitu melihat angkutan umum yang sepi penumpang berjalan melambat, buru-buru dia menyetopnya.

"Aku duluan Lita, mumpung ada angkot kosong!" pamit Meisya tanpa memedulikan Lita.

"Iya, hati-hati, Mei!"

Lita kembali menaiki motornya. Dia tak habis pikir, bagaimana mungkin teman dekatnya itu bisa kepikiran mengakhiri hubungannya dengan Evan? Padahal di matanya, lelaki itu terlihat sempurna.

Meski terlihat kaku dan perfeksionis, Evan sangat mencintai Meisya.

*** 

Sementara itu di dalam angkot, Meisya menatap kosong jalanan yang macet. Tahu begini, mungkin dia akan lebih memilih naik ojek online. 

Notifikasi pesan masuk dari Firza. Kemarin, lelaki itu memang sempat menyapanya lewat pesan di Instagram, dan berujung bertukar nomor telepon. 

Awalnya, dia tak ingin menanggapi. Namun, saat Firza mengatakan hanya ingin berteman, Meisya pun akhirnya luluh.

[Mei, bisakah kita bertemu nanti malam?]

Meisya kembali menutup aplikasi itu sembari menggigit ujung jarinya. Tak bisa dia pungkiri, masih tersisa sedikit perasaan untuk lelaki itu. Lelaki yang meninggalkannya, karena dituntut untuk menyelesaikan kuliah di luar kota oleh orang tuanya.

Tapi ... haruskah Meisya menemuinya?"