3
"Mei, aku salah apa?" Evan mengulang pertanyaan yang sama, karena tidak juga mendapat jawaban dari Meisya

"Aku udah telat. Kamu pergi aja. Nanti kalau kamu juga kesiangan bagaimana?"

"Aku nggak peduli, Mei. Saat ini, kamu dan hubungan kita jauh lebih penting. Aku nggak bisa tenang kerja kalau sikap kamu masih kaya gini!".

Meisya beranjak dari tempat duduknya.

"Sikap kamu yang berlebihan kaya gini yang buat aku nggak nyaman, Van. Aku jenuh. Aku ngerasa nggak nyaman ada di dekat kamu!" Tanpa memikirkan perasaan Evan, Meisya berkata sambil meraih tasnya, lalu berjalan cepat menuju gerbang perumahan.

Evan tak bisa berbuat apa-apa. Mengejar Meisya, hanya akan membuat wanita itu semakin menghindarinya.

"Minum dulu, Van!" Bu Isti menyodorkan segelas tah manis hangat.

"Iya, Ma terima kasih."
Evan memang telah lama memanggil Bu Isti dengan sebutan Mama.

"Menjelang pernikahan, biasanya memang selalu ada ujian. Mama yakin, Meisya itu hanya sedang jenuh seperti yang dia katakan. Mama tidak membela Meisya yang sikapnya terlalu kekanak-kanakan. Mama hanya berharap Evan mau mengerti. Tolong, jangan menyerah. Mama percaya kamu bisa mempertahankan hubungan kalian."

Ucapan Bu Isti, sempat membuat Evan menitikkan air mata.

Akan tetapi, dia masih tak mengerti maksud dari perkataan Meisya dan Bu Isti. Selama menjalani hubungan dengan Meisya, Evan selalu merasa bahagia. Jadi, kenapa Meisya harus merasa jenuh?

***

Sementara itu, Meisya telah sampai di dalam pabrik. Mengingat Evan yang dinilai telah merusak paginya, Meisya menekuk wajahnya.

"Mei!" Ryan, seorang karyawan baru yang selalu menaruh perhatian pada Meisya, menepuk bahu perempuan yang berjalan sambil melamun itu.

"Eh," jawab Meisya sekenanya.

"Saya lihat, dari tadi kamu ngelamun, ada apa? Udah kaya dompet akhir bulan ditekuk begitu."
Meisya mengulas senyum. Meski baru mengenalnya, Ryan selalu bisa mencairkan suasana hatinya.

"Ryan, boleh nggak aku tanya sesuatu sama kamu?"

"Apa?" Ryan menghentikan langkahnya. Berbalik badan, lalu menatap Meisya dengan serius.

"Nggak usah serius gitu, ah! Orang pertanyaan aku juga nggak penting-penting amat! Aku cuma mau minta pendapat."

"Iya, apa?"

"Kalau menurut kamu, mending pilih masa lalu atau sekarang?"

"Kayanya ada yang lagi galau, nih!"

"Serius aku tanya!"

"Pilih masa depan aja, tapi sama aku. Gimana?"

"Astaga, Ryan!" Meisya menepuk bahu Ryan dengan keras. Beberapa pasang mata melihat keakraban mereka berdua. Tak terkecuali Lita.

"Aku serius lho, Mei! Kalau semuanya udah jadi masa lalu, bilang sama aku, biar kamu nggak bingung!"

"Ryan!!!"

***

Perlahan, Lita mengikuti keduanya dari belakang. Begitu melihat Ryan sudah masuk ke dalam office, Lita menarik tangan sahabatnya.

"Mei, kamu kemana semalam?" selidik Lita ingin tahu. Kedekatan yang terjalin lama diantara keduanya, membuat Lita mengenal persis hubungan Meisya dan Evan.

Lita bukan hanya jadi tempat curhat Meisya, tapi juga Evan.

'Pasti mau bahas Evan lagi!" Meisya bermonolog di dalam hati. Dengan wajah malas, dia berbalik badan dan menatap wajah Lita dengan kesal.

"Tidur," jawab Meisya dengan entengnya.

"Kamu tahu, kalau dia nunggu di depan pabrik sampai tengah malam? Mei, kali ini kamu udah keterlaluan!"

Meisya berbalik badan lagi dan meneruskan langkahnya sambil berdecak kesal. Saat ini, siapapun yang mencampuri urusannya dengan Evan, siap-siap jadi sasaran empuknya!

"Meisya, jangan bersikap seperti anak kecil begini. Apa kamu nggak kasihan sama dia?"

Kali ini, Meisya yang sedang emosional, tak bisa lagi membendung kekesalannya. Dia menilai, Lita telah banyak ikut campur.

"Lita, kamu itu sahabat aku atau bukan, sih?" tanya Meisya dengan nada suara yang keras.

"Justru karena aku sahabat kamu, aku ingin mengingatkan kalau apa yang kamu lalukan terhadap Evan itu salah!"

"Evan lagi, Evan lagi! Kamu suka sama Evan?" Pertanyaan Meisya membuat Lita terperangah tak percaya.

"Mei!"

"Kalau kamu suka sama Evan, silahkan! Aku udah nggak peduli! Itu, kan, yang kamu mau?"