Capek
"Lihat kelakuan istrimu itu. Sejak jadi pengangguran, tingkahnya semakin menjengkelkan."

Aku bergegas turun dari mobil tanpa menanggapi ucapan Mbak Astri. Berjalan tergesa menuju pintu. Ternyata tak dikunci.

"Emmaaa!"

Melangkah masuk, aku mencari saklar lampu. Detik berikutnya, teras rumah dan ruang tamu sudah terang benderang. Kondisi tempat tinggalku ini sudah jauh lebih bersih dan rapi dibanding saat kami tinggalkan. Rupanya Emma sudah membersihkan semuanya. 

Sandra langsung masuk ke kamarnya, demikian pula Mbak Astri. Aku menuju ke ruang keluarga, lalu menyalakan lampunya. Tak tampak sosok Emma di sana. Demikian pula di ruang makan, dapur, dan teras samping. Kosong. 

Kulanjutkan langkah naik ke lantai dua. Menyalakan semua lampu yang ada di sana. Ruangan terakhir yang kumasuki adalah kamar kami. 

Membuka pintunya perlahan, lalu aku meyalakan lampu. Tampak sesosok tubuh yang terbaring di tempat tidur berselimut tebal. Aku mendekat dan menyentuh lengannya. 

"Emma?"

Istriku menggeliat. Perlahan matanya terbuka. Sesaat ia terkejut menatapku. 

"Udah pulang, Mas?"

"Baru aja. Kamu kenapa? Kok selimutan gini?"

Emma melepaskan selimut yang menutupi tubuhnya, lalu bangkit. Sesaat ia duduk di tepi tempat tidur. Menatapku sejenak, lalu berdiri. 

"Ikut aku."

Emma meraih tanganku dan menariknya. Sesaat aku terkejut ketika kulit kami bersentuhan.

"Emma, tanganmu panas banget. Kamu sakit?"

"Sedikit."

"Udah minum obat?"

"Gampang. Ikut aku dulu. Ada yang lebih penting daripada obat."

Emma terus menarikku keluar dari kamar. Dengan langkah terseret aku mengikutinya berjalan ke arah tangga dan turun ke lantai satu. 

"Emma, kamu harus minum obat. Panas badanmu tinggi banget ini. Bahaya kalau keterusan."

Walau belakangan sikapnya sering menjengkelkan, tetap saja aku khawatir kalau ia sakit. Siapa nanti yang akan menyiapkan banyak hal untukku. Bisa kacau semua urusan kalau Emma sakit parah. 

"Udah, kamu harus lihat hal yang lebih penting dulu. Ayo, cepat!"

Aneh sekali. Kenapa Emma sangat terburu-buru? Ia terus menarik tanganku hingga langkah kami sampai di depan kamar Sandra. Emma mengetuk pintu di depannya. Tak lama, adik bungsuku muncul di hadapan kami. Emma mendorong pintu di belakang Sandra yang hanya terbuka sedikit itu. 

"Eh, apa apaan ini? Mbak Emma, kamu nggak bisa asal terobos kamar orang gitu aja, dong!"

Aku yang diseret oleh Emma, terpaksa ikut masuk ke dalam kamar Sandra. Ruangan itu hampir tak pernah kumasuki sebelumnya Hingga kali ini, mataku terbelalak. 

"Lihat, Mas. Adikmu ini, tanpa izin kakaknya, sudah membeli kulkas besar dan televisi. Ini bisa bikin tagihan listrik kita bengkak," ujar Emma sambil menunjuk dua benda yang tampak masih sangat baru itu. 

Sebuah kulkas sebesar lemari baju tampak berdiri megah. Tinggi dan lebarnya hampir tiga kali lipat kulkas milik kami yang ada di dapur. Di dekat Emma berdiri, tampak televisi LCD yang juga jauh lebih besar dari milik kami. Kapan Sandra membeli semua benda-benda itu?

"Sandra, tolong jelaskan, kenapa kamu nggak ngomong dulu kalau mau beli barang-barang ini?" tanyaku sambil melepas tangan Emma, lalu menunjuk ke arah kulkas dan televisi di ruangan itu.

Sandra mendengkus. Ia berjalan ke tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya di sana. Tangannya mengambil bantal besar berbentuk beruang cokelat. 

"Terserah aku, dong. Toh, nggak minta uang sama kalian. Aku beli pakai uang sendiri," ketus Sandra. 

"Bukan masalah uangnya, Sandra. Ini soal etika. Kamu tinggal di rumah saudara. Harusnya izin dulu kalau mau nambah barang elektronik. Bagaimanapun dua benda itu akan menambah pengeluaran listrik di rumah ini," tukas Emma cepat. 

"O, jadi Mbak Emma nggak rela aku tinggal di sini? Aku ngabisin duit kalian, gitu?"

"Ini bukan perkara rela atau enggak, Sandra. Sejak awal Mas Fai bilang kalau kamu dan Mbak Astri minta tinggal di sini, aku langsung setuju. Dengan senang hati aku menyambut kalian, karena rumah ini jadi tak lagi sepi. Aku ikhlas, tapi kalian juga harusnya mengedepankan adab. Nggak berbuat sesuka hati kayak gini."

"Halah, sombong sekali kamu, Mbak. Bicara adab, kayak dirinya sendiri sudah bertingkah laku sangat bagus. Istri yang ngelawan terus sama suami, apa itu disebut beradab?"

Mata Emma membulat. Ia menatap seakan tak percaya Sandra akan bicara seperti itu. 

"Jaga bicaramu, Sandra. Kemarin-kemarin aku masih diam melihat tingkah kalian berdua. Sayangnya, semakin lama kamu dan Mbak Astri ngelunjak. Aku mau tahu, apa reaksi Mas Fai lihat satu fakta lagi."

Emma kembali menarik tanganku. Langkahnya menuju kulkas besar milik Sandra dan membukanya. 

"Hei, jangan lancang! Itu kulkasku! Kamu nggak berhak buka pintunya tanpa izin!" Sandra berteriak histeris. 

Emma tak peduli. Ia tetap membuka pintu kulkas itu lebar-lebar. Detik berikutnya, pemandangan yang terlihat di depanku sangat mengejutkan. Kulkas itu penuh dengan bahan makanan. 

"Lihat, Mas. Rendang yang aku masak kemarin ternyata masih banyak dan disembunyikan di kulkas ini. Lalu apel, mangga, jeruk, anggur, dan semua buah yang belum lama kita beli, kupikir memang sudah habis. Ternyata diambil Sandra semua. Ini juga, semua stok susu murni, ternyata masih ada lima kardus ukuran dua liter. Kupikir habis. Ternyata diembat adikmu semua."

Aku terpana. Tak menyangka Sandra bertingkah seperti itu. 

"Kamu apa apaan, sih, San? Pantesan kulkas di ruang makan kosong. Ternyata kamu pindahin semua?"

"Halah, gitu aja marah-marah. Kalau nggak ikhlas, bilang, Mbak."

Sandra tak mau menatapku. Pandangannya tajam diarahkan ke Emma. 

"Bukan masalah ikhlas atau nggak. Kamu tanya ke diri sendiri, dong. Apa pernah aku ngelarang kalian makan semua makanan di rumah ini? Sekarang, apa yang kamu lakuin ini, beda nggak sama rampok? Siapa yang sebenarnya berhak atas semua makanan itu?"

"Tuh, lihat, Mas. Istrimu tambah pelit dan kurang ajar sekarang."

Aku mengacak rambut dengan kesal. Dua perempuan ini ternyata benar-benar membuat pusing kepala. 

"Ah, udah, deh. Capek aku. Ayo, Emma. Kamu harus minum obat. Biar aja semua di kulkasnya Sandra. Nanti kalau mau makan, kita bisa minta sama dia."

"Ya, nggak bisa gitu, Mas. Aku yang beli semuanya. Aku juga yang masak rendang itu. Kenapa harus aku yang ngemis saat mau makan? Padahal aku taruh semua gitu aja, dan siapapun boleh makan tanpa harus izin. Kenapa sekarang semua disembunyikan oleh orang yang nggak punya andil sama sekali?"

"Huh, sombong sekali kamu sekarang, Emma!" teriak Mbak Astri yang tiba-tiba muncul di pintu kamar Sandra. "Pengangguran tapi tinggi hati. Kalau Sandra nggak punya andil atas hadirnya makanan itu, memangnya kamu berperan apa? Toh, kamu cuma masak rendangnya doang. Uang yang dipakai buat beli juga dari Fai. Adikku."

Emma terkesiap. Ia menatap mbak Astri dengan pandangan menusuk. 

"Sekarang aku memang pengangguran, tapi semua makanan itu dibeli dari uangku. Mas Fai ngasih uang hanya tiga ratus ribu setiap bulan. Sementara listrik rumah ini saja empat ratus ribu. Nggak cukup. Lalu setiap hari aku yang beli bahan makanan untuk dimasak. Semua pakai gajiku selama ini, karena Mbak Astri megang sembilan juta uang dari Mas Fai tanpa pernah mengeluarkannya untuk kepentingan makan atau yang lain."

Mata Mbak Astri membulat tak percaya mendengar penuturan Emma. 

"Kenapa?" tanya Emma pada kakakku. "Apa perlu aku panggil Mbak Minah, tukang sayur komplek yang setiap pagi buta mengantarkan belanjaan pesananku? Tanya sama dia, siapa yang bayar semuanya."

Aku semakin bingung dengan ucapan Emma yang panjang kali lebar itu.

"Apa benar itu semua, Mbak? Bukankah dulu Mbak Astri bilang akan mengatur uang gajiku untuk semua keperluan di rumah ini? Sembilan juta setiap bulan itu, untuk apa aja?"

Mbak Astri diam. Tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Detik berikutnya, kakak pertamaku itu melangkah pergi meninggalkan kami bertiga. Ya, Tuhan. Apa sebenarnya yang sedang kuhadapi?

"Lihat, Mas. Sekarang kamu percaya, kan?"

Aku menatap Emma dengan pikiran tak menentu. Meraih bahu perempuan itu, aku mengajaknya keluar dari kamar Sandra. Ia harus segera minum obat. Aku tak mau Emma sakit. 

***

Hari masih pagi saat aku dengar keributan di teras samping. Rasa penasaran membuat aku ingin tahu apa yang sedang terjadi di sana. 

"Hei, pemalas! Kenapa kamu malah ongkang-ongkang kaki? Mana sarapan untuk kita semua?" teriak Mbak Astri sambil berkacak pinggang di depan Emma. 

Istriku itu tampak duduk di kursi rotan yang menghadap ke kolam renang. Apakah ia sudah sehat? Tangannya menggenggam secangkir cokelat yang aku yakin masih panas. Tampak dari asap tipis yang mengepul. Di samping Emma, ada meja kecil dengan piring putih di atasnya berisi potongan melon. 

Emma membuang pandang, tak mau menatap Mbak Astri yang semakin kesal melihatnya. 

"Hei, Emma! Kamu tuli, ya? Cepat buatkan sarapan untuk kami!"

"Maaf, tak ada uang lagi untuk beli makanan. Jadi tak ada yang bisa dimasak."

"O, gitu. Semakin ngelunjak kamu, ya? Butuh berapa? Ini aku kasih uang. Kamu belanja sekarang dan masak yang enak!"

Mbak Astri mengeluarkan seratus ribu dari sakunya. Ia mengulurkan kertas berharga itu pada Emma. 

"Maaf, aku bukan babu yang harus melayani kalian," ujar Emma yang kemudian menyeruput cokelat dari cangkirnya. 

"Kurang ajar! Kamu itu istrinya Fai. Harus melayani dia setiap hari."

Emma selesai meminum cokelatnya. Ia meletakkan cangkir putih itu di samping piring berisi melon yang tampaknya belum tersentuh. 

"Maaf. Mungkin sebaiknya mulai hari ini, Mbak Astri saja yang melayani Mas Fai. Bukankah gaji suamiku itu ada di tanganmu semua? Aku lelah diperlakukan bukan seperti layaknya seorang istri di rumah ini."

Emma melangkah meninggalkan kami berdua. Bahunya hampir bersentuhan denganku. Segera aku cekal tangannya. Tak lagi panas seperti semalam.

"Mau kemana kamu?"

"Maaf, Mas. Aku capek. Sebaiknya cari istri lain saja yang bisa melayani kamu sekaligus kakak dan adik yang seperti ratu itu."

Aku menatapnya tak percaya. Apa maksud Emma? Ia memintaku poligami, atau ingin bercerai? Tidak. Aku tak bisa pisah dari Emma. 

"Bagus. Ceraikan saja perempuan itu, Fai!" teriak Mbak Astri sambil telunjuknya mengarah ke wajah Emma.

***

Apa sebaiknya Emma menggugat cerai saja, ya? Komen yuk di bawah dan pencet love. Yang belum subscribe, pencet berlangganan ya di halaman cover novel ini. Makasih readerku sayang.
Jaga kesehatan, ya