Istri Pelit


"Kenapa kamu pakai resign, sih? Karir bagus dan gaji besar, kenapa kamu milih jadi pengangguran? Kalau tetap kerja, kamu jadi masih bisa bantu keuangan rumah tangga kita, kan?"

Emma menoleh dan menatapku tajam. Mulutnya setengah terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, belum sampai satu kalimat pun ia ucapkan, Mbak Astri tiba-tiba muncul di pintu kamar yang belum dikunci.

"Fai, gimana, sih? Makanan nggak ada. Kita mau makan apa malam ini?" teriak Mbak Astri sambil melirik ke arah Emma.

"Iya, Mas. Sandra udah laper banget, nih," timpal adik bungsuku yang muncul di belakang Mbak Astri.

"Kamu beli lauk aja di luar, sana," perintahku pada Sandra. 

"Ah! Males, Mas. Mbak Emma aja, deh."

"Iya. Dia kan kerjaannya cuma main handphone terus. Pemalas!"

Aku melirik Emma. Ada kemarahan yang ingin terlontar, tapi urung terucap. Istriku yang sudah selesai menyisir rambutnya dan memoleskan bedak tipis di wajah, hanya melirik ke arah Mbak Astri dan Sandra.

"Hei, Mbak Emma! Kamu nggak denger, ya? Kami ini udah kelaparan. Sana cepat beli makanan!"

"Mana uangnya?" tanya Emma sambil mengulurkan tangan ke arah Sandra.

"Kenapa minta aku? Pakai uang Mbak Emma sendiri, lah!"

"Kamu lupa kalau sekarang aku udah nggak kerja?"

"Salah sendiri nggak kerja. Pengangguran nggak guna! Kerjanya cuma numpang dan jadi benalu di rumah ini. Nggak tahu malu!"

"Hei! Jaga mulut kamu Sandra! Siapa yang nyuci dan nyetrika baju kamu, hah? Bahkan pakaian dalam milikmu pun, yang nyuci aku. Siapa yang masakin makanan buat kamu setiap hari? Bahkan saat masih ngantor, aku selalu masak dulu buat kalian semua di rumah ini. Ngaca dulu kalau ngomong! Siapa yang benalu? Kerjamu di rumah ini cuma ongkang-ongkang kaki!"

"Hei, Mbak Emma dengar, ya. Aku ini mahasiswi. Tugasku adalah belajar. Bukan jadi babu di rumah ini!"

"Lalu, dengan seenak udelmu sendiri jadiin aku babu, hah?"

"Ah! Sudah! Kalian ini berisik aja. Kepalaku pusing karena lapar ditambah mulut tajam kamu, Emma! Lihat istrimu ini, Fai! Tugasnya itu harusnya melayani suami dan keluarga suaminya. Bukan malah songong kayak gini!"

"Maaf, yang aku tahu saat masih ngaji dulu, tugas istri adalah melayani suaminya, tapi bukan berarti jadi babu untuk kakak dan adik iparnya."

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Pusing dengan tiga perempuan di rumah ini. Tak ada yang mau mengalah. 

"Udah, Emma. Kamu ngalah sedikit, dong. Perkara kecil aja dibesar-besarkan. Sekarang aku lapar, kalian malah berantem."

"Kita makan di luar aja, Mas. Bosen aku makan masakan istrimu itu," Sandra berkata sambil menggelayut manja di lenganku.

"Bosen, tapi rendang dua kilo dihabisin berdua," sungut Emma.

"Hei, Emma! Kalau masak itu harus ikhlas. Makanan udah masuk perut masih diungkit juga.

"Siapa yang ungkit? Aku hanya menanggapi ucapan Sandra. Dia bilang bosan, tapi semua hasil masakanku dihabiskan. Bahkan Mas Fai aja nggak kebagian."

"Ah! Udah, lah. Ayo kita makan di luar aja. Lama-lama aku mati kelaparan di sini, tapi kalian tetap aja ribut!"

Aku melangkah keluar kamar, diikuti Mbak Astri dan Sandra yang bergegas di belakang. Saat tak kulihat ada pergerakan dari Emma, aku mundur ke arah pintu. 

"Kamu nggak ikut?"

"Nggak usah. Ngabisin uang aja."

Aku geleng-geleng kepala. Entah kenapa sifat Emma semakin hari bertambah keras. Sering tak bisa dimengerti oleh orang sekelilingnya. Kubiarkan saja ia tak ikut makan di luar kali ini. Lumayan juga, bisa mengurangi pengeluaranku. 

***

Suasana resto yang baru dibuka di bilangan Mampang ini cukup ramai. Tampak karangan bunga memenuhi bagian terasnya. Sepertinya tempat ini memang benar-benar baru launching.

"Menu di restoran ini kabarnya enak, Mas. Yang punya seorang wanita muda. Dia pengusaha kuliner yang sukses," tutur Sandra dengan antusias.

"Kamu tahu dari mana?"

"Di Instagram banyak yang posting, Mas. Penasaran juga aku sama pemiliknya, tapi belum ada yang berhasil dapet foto wajahnya. Katanya cantik."

Aku hanya mendengarkan penjelasan Sandra dengan terkesima. Jadi ikut penasaran dengan wanita pengusaha yang ia ceritakan itu. Siapa tahu aku bisa menjalin kerjasama dengannya.

"Nah, kamu harus cari istri yang seperti itu, Fai. Cantik, tapi juga banyak duit," tukas Mbak Astri sambil mengambil posisi duduk di sudut ruangan. 

"Apaan, sih, Mbak? Aku ini udah nikah. Masa disuruh cari istri lagi?"

"Ya, nggak apa, dong? Islam membolehkan lelaki punya istri lebih dari satu. Apalagi kalau istri pertamanya udah ngelawan mulu kayak Emma. Udah nggak cantik, pelit, pengangguran pula."

"Emma nggak kayak gitu, Mbak. Selama ini dia rela memenuhi kebutuhan rumah dengan gajinya. Katanya, uang yang aku kasih ke Mbak Astri selama ini sama sekali nggak dipakai untuk belanja dapur. Dipakai untuk apa aja uang itu, Mbak?"

Mbak Astri langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Ia menatapku tajam.

"O, jadi si Emma itu sekarang udah mulai memfitnah aku? Kamu percaya semua omongan perempuan pengangguran itu?"

"Bu-bukan gitu, Mbak. Aku hanya ingin mendapat penjelasan. Selama ini aku selalu memberikan uang sembilan juta setiap bulan ke Mbak Astri. Kenapa baru tanggal segini, dapur kita kosong nggak ada bahan makanan?"

Mbak Astri menarik napas dalam-dalam. Aku mengamati perubahan wajahnya, ingin mencari kebenaran di sana. 

"Dengar, ya, Fai. Aku bukan tipe perempuan yang suka menghamburkan uang. Aku juga nggak suka belanja bulanan. Kebutuhan dapur kita itu dibelinya setiap hari. Biar fresh. Bukan sebulan sekali. Jadi kamu tenang aja, selama ini buktinya selalu ada yang bisa dimasak Emma kalau pagi, kan?"

Aku mengangguk. Iya juga, tapi kenapa Emma mengeluhkan uang miliknya yang habis untuk belanja. Siapa sebenarnya yang berbohong? Aku belum mendapat jawaban atas pertanyaan itu ketika tiba-tiba terdengar suara Mbak Astri memanggil seseorang.

"Hai, Ratri! Nova! Sini!"

Dua orang perempuan yang baru saja memasuki ruangan resto, menoleh ke arah kami. Mereka kemudian berjalan mendekat. 

"Kamu lihat, perempuan yang bergaun merah itu?" bisik Mbak Astri di telingaku. "Cantik, kan? Aku mau kamu menikah dengannya. Jadikan dia istri keduamu!"

Apa? Bagaimana ini? Kenapa Mbak Astri malah memintaku untuk poligami?

***

Kira-kira Fai mau menerima usulan Mbak Astri atau tidak, ya?