Main HP terus
Klik berlangganan /subscribe dulu, yuk
Biar dapat info saat cerita ini update

"Istrimu itu main HP terus sejak berhenti kerja. Kamu nasihatin, dong!" 

"Iya, Mbak. Nanti pas pulang kerja, Fai akan nasihatin."

"Nggak usah nunggu nanti! Kalau perlu pulang sekarang! Kamu pasti sama denganku, kesel kalau lihat kelakuannya. Dia nggak mau masak. Di dalam kamar terus kayak pengantin baru."

"Fai nggak bisa pulang sekarang, Mbak. Masih ada rapat di kantor."

"Terserah kamu, deh. Yang jelas, jangan sampai kamu menyesal kalau istrimu berbuat semakin brutal."

Aku mengacak rambut dengan kesal. Setelah mengucap salam, kusudahi percakapan dengan Mbak Astri dan menutup telepon.

"Kenapa, Fai?" Bima rekan seruanganku bertanya sambil menatap dengan pandangan heran.

"Pusing. Setiap hari dapat laporan dari Mbak Astri tentang kelakuan istriku yang tambah aneh."

"Aneh gimana?"

"Ya, contohnya aja hari ini. Mbak Astri barusan telepon, katanya Emma main HP terus."

"Istrimu mungkin sedang butuh hiburan, Fai."

"Hiburan masa iya setiap hari dan setiap saat?"

"Lho, kamu baru dapat laporan dari Mbak Astri aja, kan? Coba lihat langsung atau tanya ke Emma."

"Sandra juga mengeluhkan hal yang sama, Bim," ucapku sebal.

"Sandra dan kakakmu itu sama saja. Ada di posisi yang mungkin berbeda dengan Emma. Belum tentu kenyataannya istrimu yang salah."

"Ah, kau ini, selalu belain Emma. Aku tahu dia sahabatmu. Makanya kau bela mati-matian."

"Justru karena aku kenal Emma dengan baik. Dia nggak mungkin melalaikan kewajibannya sebagai istri, kecuali ada hal yang sangat mendesaknya untuk melakukan itu."

"Udahlah, Bim. Aku pusing. Sejak berhenti bekerja, Emma selalu saja bikin masalah dengan kakak dan adikku."

"Terserah kamu, deh. Kalau aku boleh kasih saran, kamu harus objektif, jangan sampai kasih sayangmu ke saudara bikin nggak bisa berlaku adil."

Aku hanya diam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Bima. Dia ada benarnya, tapi tak mungkin Mbak Astri atau Sandra yang berbohong, kan?

Mungkinkah Emma sedang butuh hiburan? Kalau iya, kenapa? Bukankah dia yang sekarang berstatus pengangguran adalah karena keputusannya sendiri? 

Emma adalah wanita karir yang sukses, bahkan sejak belum berkenalan denganku. Karirnya terus melesat hingga menduduki posisi manajer di kantornya. Entah kenapa, satu bulan yang lalu ia memilih resign dan di rumah saja. Sejak itu pula keluhan demi keluhan disampaikan Mbak Astri dan Sandra padaku setiap hari.

Hari ini, keluhan itu kembali terdengar. Tentang Emma yang malas beres-beres rumah, tidak mau memasak makanan untuk kami semua, dan terus menerus bermain ponsel. 

Mungkin sebaiknya aku menuruti saran Bima. Menanyakan kebenaran dan sebabnya langsung pada Emma. Lebih baik aku pulang sekarang dan menyaksikan sendiri seperti apa kenyataannya.

Gegas aku keluar kantor dan memacu mobil ke arah rumah. Hanya butuh waktu tiga puluh menit, halaman rumah besar dengan desain ala Eropa yang begitu kubanggakan sudah terlihat.

Setelah memarkir mobil dengan baik di garasi, aku masuk ke dalam rumah. Tak ada siapapun di ruang tamu. Hanya ada kemasan es krim yang berantakan di meja, juga kulit kacang yang bertebaran di lantai. Emma ini di rumah pekerjaannya apa? Kenapa ruang tamu dibiarkan berantakan seperti ini? Bagaimana kalau ada tamu? Sebagai petinggi di sebuah perusahaan ekspor impor, pasti malu sekali kalau ada rekan kerja yang tahu rumahku seperti ini penampakannya.

Melangkah ke ruang keluarga, dapur dan juga teras samping, tak kutemukan sosok Emma. Kamar Mbak Astri dan Sandra tampak terkunci rapat. Mungkin mereka sedang keluar rumah.

Aku langsung masuk ke ruang makan. Tak ada satupun masakan di meja. Hanya dua piring bekas makan yang dibiarkan tergeletak dengan sendok dan garpu berjatuhan mengotori taplak. Ada dua mangkuk besar seperti bekas wadah opor ayam dan rendang, tapi sudah kosong.

Segera aku berlari menaiki tangga menuju ke lantai dua. 

"Emmaaa!"

Tak ada jawaban. Kamar kami juga tertutup rapat. Dengan sekali dorong, pintunya langsung terbuka dan menampakkan seluruh isi di dalam ruangan. Seperti biasa, kamar tidurku selalu harum, tampak rapi dengan hiasan bunga segar yang berganti setiap hari.

Aku tersenyum bahagia. Emma memang selalu bisa memanjakan mata untuk tempat peraduan kami.

Tiba-tiba ingatanku kembali ke ruang tamu yang berantakan dan juga meja makan yang mengenaskan kondisinya. Senyum yang baru saja terkembang kini pudar. Berganti amarah memuncak di ubun-ubun.

"Emma! Kenapa rumah ini berantakan sekali, hah?"

Pintu toilet di dalam kamar kami terbuka. Emma yang baru saja mandi tampak segar dengan balutan handuk di tubuhnya. Istriku itu memang selalu tampak cantik dan memesona. Ia melangkah keluar dan menatapku dengan pandangan heran.

"Ada apa, Mas? Kok, pulang kerja langsung marah-marah nggak jelas gitu?"

"Gimana aku nggak marah? Ruang tamu berantakan penuh sampah. Meja makan lebih parah lagi. Kotor, nggak ada makanan. Kerjaan kamu apa aja, sih?"

Mata Emma membulat. Ia mendengkus kasar.

"Tolong jaga bicaramu, Mas. Aku udah capek mengerjakan semua kerjaan rumah, tiba-tiba kamu datang dan menghardik kasar seperti ini. Aku udah kayak babu seharian ini, tapi apa balasannya?"

"Lho, kenapa kamu jadi balik marah? Coba lihat di ruang makan! Kamu nggak masak hari ini? Kenapa di meja makan nggak ada apa-apa? Itu ruang tamu penuh sampah, memangnya kamu nggak nyapu? Nggak beres-beres?"

"Hei, tunggu dulu! Kamu jangan nuduh sembarangan. Sebelum berangkat kerja kamu lihat sendiri apa saja yang kuperbuat, kan? Bangun tidur aku langsung masak opor ayam. Kamu sarapan pakai itu, kan?"

Aku mengangguk.

"Nah, setelah kamu pergi, Mbak Astri dan Sandra ngabisin semua opor dan nasinya. Lalu mereka marah-marah minta dimasakin rendang padahal nggak ngasih uang. Untung masih ada daging di kulkas. Aku masak rendang berjam-jam, tapi dalam sekejap mereka habiskan. Entah dibuat dari apa perut mereka. Hanya tinggal nasi di magic jar."

"Memangnya kamu masak rendang berapa kilo?"

"Dagingnya dua kilo, Mas. Itu masih kucampur kentang kecil-kecil sekilo."

"Masa mereka berdua sanggup ngabisin segitu banyak, sih?"

"Lihat aja buktinya. Di meja makan kosong, tinggal bekasnya aja, kan?"

Aku menghela napas kesal. Pulang kerja sudah lelah, terbayang ingin makan masakan Emma yang lezat, ternyata zonk.

"Terus, kenapa ruang tamu kayak kapal pecah?"

"Ya, perbuatan siapa lagi kalau bukan kakak dan adikmu yang nggak punya adab itu?"

"Eh, jaga bicaramu, Emma! Bagaimanapun mereka saudaraku. Mbak Astri sudah mengurus aku dan semua adik-adik sejak kami kecil. Sejak ayah dan ibu wafat dalam kecelakaan."

"Aku ngerti. Aku paham. Hal itu sudah sering sekali kamu jelaskan. Bukan karena Mbak Astri sangat berjasa dalam hidupmu, lalu dia bisa semena-mena terhadapku. Aku istrimu, Mas. Aku berusaha menghormati dia, tapi apa balasannya?"

"Jadi, kamu nggak ikhlas mengerjakan pekerjaan rumah? Kamu butuh imbalan karena melayani kakak dan adikku?"

"Bukan begitu, tapi paling tidak, mereka juga menghargai jerih payahku masak, nyapu, ngepel, nyuci baju dan piring, serta setumpuk pekerjaan lainnya dengan tidak membuat berantakan. Mbak Astri makan kacang kulitnya dibuang gitu aja di lantai. Sandra juga sama. Ganti baju dilempar sembarangan dan habis makan nggak dicuci piringnya. Minimal cucilah bekas makannya sendiri. Apalagi mereka berdua itu pakaiannya aku yang cuci dan setrikain juga. Bahkan sampai ke pakaian dalamnya."

"Ya, kamu harus ngertiin dia, lah. Sandra itu nggak biasa megang kerjaan. Sejak kecil selalu dilayani Mbak Astri. Apa salahnya sekarang kamu yang melayani dia?" 

"Ya, nggak bisa gitu, dong, Mas. Dia udah dua puluh satu tahun. Kapan dewasanya kalau dilayani terus?"

"Ah, udahlah. Aku pusing. Laper. Sekarang cepat kamu siapin makanan!"

"Di kulkas udah nggak ada bahan makanan."

"Ya, kamu beli yang mateng aja sana!"

Bukan beranjak membeli makanan, Emma malah mendekat ke arahku dan menadahkan dua tangannya.

"Apa?" tanyaku kesal dan tak mengerti. 

"Mana uangnya yang untuk beli?"

"Lho, aku udah kasih kamu uang bulan ini, kan?"

Emma mendengkus kesal. 

"Uang tiga ratus ribu sebulan, cukup untuk apa, Mas? Listrik rumah ini aja empat ratus ribu."

"Ya, kamu pakai aja uangmu sendiri."

"Mas lupa? Aku udah nggak kerja, lho. Kemarin-kemarin, semua kebutuhan di rumah ini terpenuhi dari gajiku. Beras, sabun, sayuran, lauk pauk dan semuanya. Sekarang, aku udah resign. Dari mana dapat uangnya?"

"Lho, kok bisa? Setiap bulan aku hanya pegang satu juta dari gaji. Yang sembilan juta diminta Mbak Astri. Dia bilang itu semua buat beli semua kebutuhan kita di rumah ini dari mulai beras, sabun, sayur dan lauk pauk. Termasuk listrik. Kenapa kamu harus keluar uang juga?"

"Faktanya begitu. Tanyakan saja ke kakak tersayangmu, untuk apa saja dia habiskan uang sembilan juta dari gajimu itu?"

Emma berlalu melangkah menuju lemari pakaian. Diambil dan dikenakannya sebuah mini dress berwarna biru muda yang semakin memperlihatkan keindahan tubuhnya. Aku membuang pandang. Bukan saat yang tepat untuk mengagumi kecantikan istriku itu. Saat ini ingin marah, tapi entah pada siapa.

"Kenapa kamu pakai resign, sih? Karir bagus dan gaji besar, kenapa kamu milih jadi pengangguran? Kalau masih kerja, kamu jadi masih bisa bantu keuangan rumah tangga kita, kan?"

Emma menoleh dan menatapku tajam. Mulutnya setengah terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu. 

***
Enak banget ya, Fairuz
Main nyalahin istrinya aja
Sikap Emma selanjutnya gimana ya?