Jangan main-main denganku!
Setelah meninggalkan ruangan, Bunga berjalan dengan cepat. Air mata sudah menganak sungai membasahi wajah cantiknya.

beberapa orang yang berpapasan dengannya, terperangah heran saat melihat kondisi Bunga yang terlihat kacau, mereka bertanya-tanya. Ada apa dengan Bunga.

Bunga menekan tombol lift, tujuannya adalah pergi ke atap. Hanya dia atap, ia bisa menangis sepuasnya.
.

Saat tiba di atas, Bunga menangis sekencang-kencangnya, mengeluarkan amarah yang tertahan.  Ia ingin menghajar, dan memaki bahkan membunuh kedua orang laknat itu. Tapi, ia tak bisa. Akal sehatnya masih berjalan.

Rasanya terlalu menyesakan dada. Bolehkah ia berharap bahwa dua manusia itu lenyap saja dari muka bumi ini, Bungga memukul-mukul dadanya karena rasa sesak tak kunjung mereda.

Tanpa Bunga sadari, sedari tadi, Kevin memerhatikannya. Saat Bunga keluar dari ruangannya. Tanpa sadar langkahnya mengikuti kemana Bunga pergi.

Ia berdiri tak jauh dari Bunga. Ada getaran aneh saat Bunga menangis memanggil ibunya. Ia bisa merasakan betapa tergoresnya hati Bunga.

Kevin mengacak rambut Frustasi saat mengingat kejadian 10 tahun lalu. Saat Bunga berlutut di hadapannya saat ia menyaksikan Bunga meraung memanggil ibunya yang meninggal.

Kenapa sekarang dia yang jadi merasakan perasaan tidak nyaman.

Tak ingin terpergok oleh Bunga, Kevin pun memutuskan untuk turun. Namun, saat dia berbalik, langkahnya terhenti saat mendengar tangisannya Bunga yang semakin terdengar pilu.

Tanpa sadar, Kevin melangkahkan kakinya kearah Bunga. Ia memegang pundak Bunga, setelah Bunga berbalik, ia membawa Bunga kedalam pelukannya.

Bunga yang terkejut langsung meronta-ronta,  Namun, Kevin tak memeluk Bunga begitu erat. Hingga Bunga kelelahan.

"Menangislah! sepuasmu!" ucap kevin.

Bunga yang masih tak tau siapa yang memeluknya, langsung menginjak kaki Kevin, hingga Kevin mengaduh kesakitan dan melepaskan pelukannya.

"Berani sekali kau memelukku!" teriak Bunga pada Kevin, ia belum menyadari bahwa yang memeluknnya adalah Kevin, orang yang juga ia benci.

"Aku hanya ingin menenangkanmu. Apa salahku!" elak Kevin, ia sibuk mengusap-ngusap kakinya karena diinjak oleh Bunga.

Bunga berdecih, lalu ia memandang Kevin, matanya terbelalak saat menyadari bahwa orang yang memeluknya adalah salah satu orang yang paling dia benci.

Tanpa menjawab ucapan Kevin, Bunga menghapus air matanya, lalu meninggalkan Kevin dan turun ke bawah.

Saat Bunga melangkah, Kevin menarik tangan Bunga, membuat Bunga melotot kaget.

"Kau mau kemana?" tanya Kevin spontan.

Bunga menarik tangannya, lalu menatap sinis pada Kevin, "Apa perdulimu," jawab Bunga. Ia pun kembali meneruskan langkahnya untuk turun.

Saat Bunga akan membuka pintu, pintu terbuka lebih dulu dari arah bawah.

Nyessss

Lagi-lagi, ia harus menyaksikan hal yang membuat dadanya berdenyut nyeri.

Ia menyaksikan Albi dan Iren sedang berpegangan tangan.  Sepertinya, mereka akan menikmati waktu berdua di atap. Iren sengaja datang ke rumah sakit lebih cepat dan membawa makanan karena ingin makan siang bersama Albi.

Dada Bunga kembali berdenyut nyeri. Kenapa hari ini hal menyesakan datang secara bersamaan.

Albi yang sedang menggenggam tangan Iren dan bercanda dengan Iren, langsung diam terpaku saat melihat Bunga. Tubuhnya terdiam kaku. Bahkan ia langsung melepaskan pegangan tangannya pada Iren, membuat Iren mendongak ke arahnya.

Albi, menyipitkan matanya saat melihat mata Bunga yang sembab. Belum dia bertanya, Kevin muncul dari belakang Bunga membuat Albi terkejut.

Bunga tersenyum getir, desiran menyakitkan itu terasa sangat menyesakan.

"Kalian akan naik? ... Silahkan!" ucap Bunga setelah 4 orang itu sama sama terdiam dalam waktu yang lama. Ia menggeser tubuhnya, memberikan akses untuk Albi dan Iren naik, karena Albi dan Iren menghalangi jalan turun.

Kevin yang sedari tadi berada di belakang Bunga, menganalisa apa yang sedang terjadi di depannya. Ia merasakan lelaki di depan Bunga memandang Bunga dengan tatapan yang berbeda.

Rupanya, Bunga sadar dengan tatapan Kevin,  Tiba-tiba, Bunga terpikir sesuatu. Ia menghela napas sejenak. Lalu mendekat ke arah Kevin dan menggengam tangan Kevin, membuat Kevin terperangah.

"Kalau begitu kami turun duluan," ucap Bunga. Ia menekankan kata-katanya agar Albi dan Iren menyingkir.

Bunga menggengam tangan Kevin dengan keras, setelah Albi dan Iren menyingkir. Bunga menarik tangan Kevin dengan keras.

Sekarang Kevin mengerti dengan apa yang terjadi diantara ke 3 orang tersebut.

Saat di depan lift, Bunga langsung menghempaskan tangan Kevin dengan keras.

"Apa-apaan, kau!" bentak Kevin saat Bunga menghempaskan tangannya, hingga tangannya terbentur ke dinding.

Bunga tak mempunyai tenaga untuk berdebat dengan Kevin. Ia pun menekan tombol lift dan berniat turun, sebelum Bunga menutup pintu, Kevin terlebih dulu masuk menyusul Bunga.

Saat pintu lift sudah tertutup. Bunga memejamkan matanya, ia menyenderkan kepalanya.

Sedangkan Kevin yang berada di sebelah Bunga, meliriik Bungan dengan ekor matanya. Ia merasa bukan hal yang tepat untuk berbicara pada Bunga.

Tak lama, ponsel Bunga berdering. Ia pun merogoh sakunya dan mengambil ponsel. Keningnya mengerut heran saat melihat Id  pemaggil yang menelponnya, ternyata bagian manajemen rumah sakit yang menelponnya.

Ia pun langsung mengangkatnya. Ia memejamkan matanya, dan mengepalkan tangannya saat ia di adukan oleh seseorang, siapa lagi kalau bukan Nindia yang mengadukannya atas insiden yang terjadi di ruangannya.

Sesudah pintu lift terbuka, Bunga langsung menghadap keruangan manajemen. Ia menghela napas beberapa kali setelah berada di depan ruangan.

Tangannya mengetuk pintu, dan membukanya ketika ada sahutan dari dalam.

"Anda memanggil saya, Pak?" tanya Bunga pada orang di depannya.

Orang itu menatap tajam pada Bunga, lalu membalikan laptop dan memerlihatkan rekaman cctv saat ia mencekik Nindia.

"Anda bisa jelaskan ini, Dokter Bunga," ucap si pria tersebut. Ia memandang Bunga dengan tajam dan kentara sekali jika ia tak menyukai Bunga.

Bunga yang tak terima dengan tatapan tajam orang di depannya. Langsung mengeluarkan ponselnya. Jarinya menari-nari mencari nomer seseorang, seseorang kepercayaan kakeknya yang menempati jabatan yang cukup penting di rumah sakit. Hanya orang itu yang tau siapa Bunga yang sebenarnya.

"Aku sedang di sidang di ruang manajemen. Bisakah kau menjelaskan siapa aku kepadanya," ucap Bunga. Setelah itu, ia mematikan telponnya.

Lelaki di depan Bunga terperangah melihat reaksi Bunga, baru saja ia akan menghardik Bunga. Telpon di sampingnya berdering.

Saat mendengar orang yang menelponnya di sebrang sana. Tiba-tiba, wajahnya menjadi pias.

Lelaki itu menelan saliva, lalu menatap Bunga dengan tatapan takut dan malu.

Bunga berdecih. Lalu ia maju ke arah lelaki tersebut. "Jabatanmu tidak terlalu tinggi di sini. Jaga pandanganmu dan jangan menatap tajam pada orang lain, hanya karena kau bertengger di posisi ini ... Kau mengerti," ucap Bunga. Ia menekankan suaranya.

Lelaki itu bangkit dari duduknya, ia menunduk  tak berani menatap Bunga. "Ma-maafkan, saya, Dok."

"Sekarang, panggil orang yang meloporkanku kemari,  aku yakin, dia meninggalakan nomer ponselnya di sini!"

Dengan cepat, lelaki itu mengambil kartu nama milik Abdan dan menelponnya.

Sedangkan Bunga langsung duduk kembali, menunggu kedua orang itu.