Tak Nyaman
Haris baru selesai menyiapkan sereal untuk sandy sarapan saat dering ponsel terdengar “Habiskan makannya. Papa angkat telphone dulu."

Sandy menoleh ke Ayahnya “Apa kita jadi berenang?”

“Papa angkat telphone dulu.” Haris yang tak enak untuk mengatakan tidak pada putranya menerima panggilan dari Rania.

“Bagaimana?” Haris menanyakan. Ia ingin tahu apa Ibu Rania bisa mencarikan pengasuh dadakan untuk menemani sandy dirumah sementara ia mengurus persediaan pasokan supermarket.

“Kak radita nanti ke rumah. Dia akan menginap disana, jadi kau tenang saja. Sandy biar diurus kakakku sampai aku kembali.” rania memberitahukan. Ia masih bergelung di ranjang bersama Theo.

“Kakakmu? Kau bilang kau akan minta Ibumu mencarikan orang?” Haris tak berpikir kakak iparnya yang akan ke rumah menjaga Sandy.

“Kau pikir mudah mencari orang yang bisa dipercaya mengurus anak kita. Aku lebih percaya pada kak dita.” Rania memberi alasan.

“Aku tak berpikir merepotkan kakakmu.” Haris tak membayangkan Radita bekas teman sekolahnya yang akan tinggal dirumah untuk mengurus Sandy.

“Tidak akan merepotkan. Tokh selama ini Radita juga tak punya kegiatan di rumah Ibu.” Rania menggampangkan.

“Dia menulis.” Haris tahu pekerjaan Radita.

“Itu bukan pekerjaan. Nyatanya selama ini tagihan listrik. Pam, BPJS dan obat jantung Ibu kita yang menanggung.”

“Rania, ini tidak benar. Kau tak bisa memanfaatkan kakakmu untuk menjadi pengasuh di rumah kita.” Haris meremas rambutnya.

“Aku tak memanfaatkannya. Dia yang menawarkan diri untuk membantu adiknya. Bukankah itu bagus? Kau jadi bisa tenang bekerja tanpa harus khawatir Sandy diurus oleh orang asing.” 

Haris mendesah “Aku berharap kau segera pulang.”

“Aku juga. Sabar ya sayang, besok aku sudah pulang.” klik panggilan di akhiri oleh Rania. Rania merasa sekarang Ia lebih leluasa untuk bersenang-senang. Sudah ada Radita yang Ia serahi tanggung jawab mengurus Sandy. Ia yakin Sandy lebih nyaman bersama kakaknya dibanding pembantu baru. 

“Mama?” Sandy bertanya pada Ayahnya yang duduk bergabung menemani makan.

“Iya.”

“Mama pulang kapan? Mama akan temani Sandy berenang?” Sandy menatap Ayahnya penuh harap.

Haris membalas tatapan anaknya dengan rasa penyesalan “Mama masih terbang. Besok baru pulang.”

“Yah.” Sandy menggumam kecewa.

“Jadi berenangnya hanya berdua sama papa?” 

Haris tak mampu mengatakan tidak. Tapi juga tak bisa mengiyakan karena Ia harus mengurus pasokan supermarketnya.

TING! bunyi bell pintu. Itu pasti Radita.

“Mama?” Sandy bergegas ke pintu depan di ikuti Haris di belakangnya.

Haris membukakan pintu dan melihat kakak iparnya yang sudah datang.

“Tante.” Sandy menggumam kecewa.

“Tunggu mama ya?” Radita sudah bisa menebak penyebab raut kecewa yang tergambar di wajah Sandy.

Sandy terangguk “Mama kata papa nggak pulang. Masih terbang.” 

“Silakan masuk.” Haris menyilakan dengan canggung. Belum pernah Ia berada di situasi hanya berdua dengan Radita. Biasa selalu ada Ibu mertua, Rania atau kerabat lain yang membuatnya tak perlu mengobrol berdua dengan kakak iparnya.

“Tante mau temani Sandy berenang?” Sandy menarik tangan Radita ke sofa.

“Berenang?” Radita duduk sembari menoleh ke Haris.

“Kami janji berenang hari minggu ini. Tapi ada panic buying sejak covid di Wuhan. Dan aku harus bertemu pemasok untuk menghitung ulang berapa kebutuhan supermarket.”

“Jadi kau akan pergi bekerja?” Radita sedikit lega karena kemungkinan haris tidak dirumah dan Ia tak merasa canggung

“Benar. Aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau menemani Sandy berenang.” 

“Akan ku lakukan.” Raita mengiyakan

“Papa tidak menemani?” Sandy yang dari tadi menyimak bertanya.

“Papa harus bekerja. Sandy sama tante Radita dulu.” Haris mengusap kepala putranya.

Sandy tak langsung mengiyakan, Ia menoleh ke kaki palsu tantenya “Tapi kaki tante tak bisa untuk berenang.”

Haris memejamkan mata sekilas, ini pertanyaan yang tak terduga. Anaknya menyinggung cacat tantenya. Sesuatu yang mengirimkan perasaan bersalah “Maaf."

“Tidak pa pa." Radita maklum Sandy masih anak-anak.

“Tante tak bisa berenang. Itu kenapa tante tak akan berada di kolam dalam. Tante hanya akan bermain bola di kolam kecil bersamamu.” Radita menuturkan.

Mata sandy melebar antusias “Aku mau.”

“Papa akan mengantar kalian setelah itu pergi bekerja. Kalau papa bisa selesai lebih cepat papa akan menjemput kalian.”

“Kalau begitu mana kamar Sandy? biar tante ambilkan celana renang dan baju gantinya.”

“Taruh juga tasmu sekalian. Kau bisa tempati kamar tamu atau kamar sandy.” Haris melihat pada tas selempang yang dibawa Radita.

“Iya.” Radita mengikuti Sandy yang menarik tangannya ke kamar. Masih dengan perasaan tak nyaman harus berada dirumah adik iparnya. Kalau bukan karena Rania mengungkit balas budi mungkin Ia akan menolak dengan tegas. Tinggal dengan teman sekolah yang adiknya dulu berboncengan dengannya saat kecelakaan. Ini hal paling tak masuk akal, terutama setelah Ia menjadi kakak ipar dan Haris adik iparnya. Rania memang tak pernah berpikir, tak pernah sedikitpun berempati pada kesulitanya menjadi orang cacat. Rania selalu hanya memikirkan dirinya. Kalaupun Ia punya andil di rumah, itu bukan dari uang pribadinya. Itu kemurahan hati Haris yang merasa memiliki tanggung jawab membantu Ibu dan Radita setelah Ayah meninggal.