Pudarnya Rasa
“Selamat sore para penumpang yang terhormat, selamat datang dalam pesawat Merpati Air Airbus  E 321 dengan tujuan Bandara International Ngurah Rai, Bali. Perjalanan menuju Bali akan kita tempuh dalam waktu 50 menit dengan ketinggian jelajah 36000 kaki di atas permukaan laut. Sesuai dengan peraturan keselamatan penerbangan sipil kami sampaikan bahwa merokok dilarang selama anda berada di dalam pesawat, dan dilarang untuk mengaktifkan telphone genggam atau merusak alat keselamatan penerbangan.
Sebelum lepas landas silakan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, menurunkan sandaraan tangan, melipat meja di depan anda dan membuka penutup jendela. Jika anda membutuhkan bantuan selama penerbangan silakan untuk menghubungi salah seorang awak kabin. Pimpinan penerbangan Captain Theo Samudera, Flight Manager Service Rania Hapsari dan seluruh awak pesawat mengucapkan selamat menikmati penerbangan anda.” selesai menyampaikan annoucement Rania membuka pintu cockpit dan memberi isyarat jempol pada Theo.
Theo mengangguki dan bersiap untuk lepas landas.

Rania sendiri kembali ke seat khusus pramugari dan mengenakan sabuk pengamannya. Ia tak sabar untuk segera tiba di Bali dan berkencan dengan Theo. Rasanya tak pernah ada kata cukup untuk berduaan dengan Captain Theo. Theo yang supel, suka menggoda, pintar diranjang dan tahu bagaimana menciptakan kesenangan untuknya. Theo berbeda dengan Haris, Haris terlalu family man dan lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga besarnya atau anak mereka. Haris mungkin memiliki materi yang lebih dari Theo, tapi suaminya sama sekali tak tahu bagaimana cara menyenangkannya dan menghidupkan sisi liarnya. Sisi Rania yang masih ingin dimanjakan dan haus mencoba hal baru yang berbau kenikmatan.


“Biasa sandy makan apa?” Radita membuka pintu kulkas dan melihat pada stok makanan kemasan yang menumpuk di dalamnya.

Ia dan sandy sudah pulang berenang sejak sore tadi. Dan malam ini Radita kebingungan memberi makan ponakannya. Ia tak tahu menu apa yang biasa diberikan Rania untuk anaknya.

“Makan mie es teler 77, pizza, ayam MC D.” Sandy menyebutkan makanan yang sering Ia santap.

Radita mengernyit “Mama pesen tiap hari?”

Sandy mengangguk “Kadang mama rajin manasin pau atau kalau nggak nyiapin koko crunch. Tapi tadi pagi papa sudah kasih sarapan coco crunch.” 

Radita manyun “Tidak enak semua. Itu junkfood yang bisa bikin sakit.”

“Jadi sandy makan apa?”

Radita juga bingung. Ia membuka freezer dan hanya menemukan sosis serta nugget. Ia melirik ke meja, ada roti tawar. Tapi tak mungkin ia memberi makan roti gulung sosis untuk makan malam.

“Ya udah makan nasi pake nugget. Tante goreng dulu.” Radita menyerah. Tak ada sayuran atau ikan mentah yang bisa diolah untuk Sandy.  Rania sudah membiasakan anaknya makan yang itu-itu saja.

“Tante nggak pesenin gofood?”

“Tante nggak ngerti pakai aplikasi gofood.” Radita hanya tahu menggunakan gojek atau gocar bukan gofood. Ia tak menggunakannya karena memang penghasilannya pas-pasan dan tak ingin memboroskannya untuk membeli makanan online. Ia tak ingin menjadi tuna wisma yang mengemis terus-terusan pada Rania hanya karena Ia tak bijak menggunakan uang.

“Yah.”

“Nugget aja ya?” Radita membujuk.

“Ya udah deh.” Sandy akhirnya mengiyakan.

“Kamu duduk disini. Tante gorengin dulu.” Radita mengangkat tubuh Sandy ke kursi dan membiarkan anak itu bermain smartphone yang dipegangnya.

Sembari memanaskan minyak Radita menyapukan pandang ke sekeliling pantry yang ditata dengan apik. Kitchen setnya berwarna putih susu, meja atasnya terbuat dari marmer yang tampak berkilau. Radita menyapukan jemarinya sembari berpikir apa yang dimasak Rania selama di dapur. apa hanya makanan kemasan saja?

Tante sudah mateng?” Sandy memecah lamunan Radita.

“Sebentar." Radita menceburkan beberapa potong nugget ke dalam minyak panas. Ia menatap ke dalam wajan. Wajan itu tampak seperti baru. Padahal lima tahun sudah adiknya menikah. Apa wajan ini baru dibeli? 

Radita iseng membuka satu per satu laci lemari dapur dan menemukan semua peralatan dapur tampak masih baru.

Radita mendesah, masih tak habis pikir kenapa Rania masih mempertahankan pekerjaannya. Apa yang dikejar sementara rumahnya begitu nyaman?