Radita
Dari jendela dapur Radita bisa memandang ke taman belakang yang dihias bangku taman dan lampu temaram. Rumah Rania seperti gambaran rumah dalam buku dongeng. Harusnya Rania betah dan enggan terbang. 

Manusia memang kadang tak pernah puas.” Radita menggumam dalam hati. Ia mengangkat nugget yang telah matang dan meletakkannya dipiring. Menambahkan nasi dan menyuapi keponakannya. 

Sandy makan dengan lahap, setelah tandas Ia mengajak Radita ke kamar. Anak itu kembali menatap ponsel ditangannya. Radita yang melihat mulai tak nyaman. Ia menutup layar ponsel dengan tangannya. 

Sandy mendongak “Tante, aku mau main."

“Sandy udah lama main hapenya.”

“Tapi biasa sama mama boleh main hape kelamaan.”

“Kalau sama tante nggak. Mata sandy nanti jadi rusak kalau terlalu lama di layar.” Radita melepaskan buku jari Sandy dari mengenggam ponsel.

“Tante.” Sandy manyun. Tak rela ponselnya di letakkan Radita ke meja.

“Tante mau bacain cerita buat Sandy.” Radita membuka aplikasi Ipusnas dan memilih cerita bergambar untuk dibacakan ke Sandy.

“Tante boleh main hape.” Sandy memprotes.

“Tante nggak main hape. Tante bacain cerita. Lagian mata tante udah tua, kalau mata Sandy masih bertumbuh. Sayang kalau dipakai main hape mulu, nanti matanya jadi gini.” Radita menatap batang hidung sehingga bola matanya menempel ke sudut.

Sandy menyeringai lebar melihat mata tantenya, Ia menguap beberapa kali dan duduk bersandar di lengan tantenya.

“Kura-kura paman Rully
Saat libur lebaran, Rara dan Rizki mengunjungi Kakek Nenek.” Radita mulai membaca salah satu cerita dalam Buku Hewan Bukan Mainan.

Sandy mendengarkan sembari memperhatikan gambar kura-kura di halaman buku. Kura-kura berwarna hijau yang menggendong rumahnya.

“Mereka dikenali karena batok rumahnya yang keras yang selalu dibawa kemana-mana.” 

Sandy menyimak cerita tantenya yang seperti alunan musik pengantar tidur. Tanpa terasa, Sandy terlelap dalam usapan lembut tangan Radita dikepalanya.

“Mereka juga dikenal sebagai hewan yang jalannya lambat seperti siput.
Sandy pernah lihat nggak kura-kura?” Radita menanyakan. Ia tak menyadari kalau Sandy sudah terlelap.

Radita juga tak menyadari kalau Haris sudah pulang dan melihat dari celah pintu Radita yang mendongeng untuk putranya.

“Ternyata sudah bobo.” Radita menggumam. Ia menurunkan pelan-pelan kepala Sandy ke atas bantal. Tak ingin mengusik tidur keponakannya yang mungkin letih setelah berenang tadi siang.

Setelah menyelimutinya, Radita duduk ditepi ranjang dan menurunkan kakinya. Ia  melepas kaki palsunya dan menyandarkannya di nakas. Rasanya bebas setelah letih mengenakan kaki palsu seharian. Ini waktu terlama Ia menggunakan kaki palsunya.

Radita juga ingin segera memejamkan mata. Ia juga sama mengantuknya dengan Sandy dan ingin segera tidur. Ia ingin lekas pagi dan pulang ke rumah Ibu. Radita membaringkan tubuhnya dan meluruskan kakinya. Kaki yang tak sama, yang kanan sampai setapak sementara yang sebelahnya menghilang dibalik rok panjangnya. 


Haris untuk pertama kalinya melihat bekas yang ditinggalkan setelah kecelakaan waktu itu. Kaki radita yang tak sempurna. Kaki yang tak lagi sama. Ia bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Radita yang terlahir sempurna dan mendadak cacat.

Haris beranjak dari depan kamar putranya, ia melangkah pelan ke kamarnya sendiri. sama sekali tak ingin menimbulkan suara dan membuat Radita menyadari kehadirannya. 

Radita pribadi yang baik, Sekar sering bercerita tentangnya. Dulu saat SMA Sekar tak berhenti membanggakan Radta tiap kali pulang sekolah.

“Kak Dita bilang aku harus baca buku Andrias Harefa. Dia bilang di buku itu dijelaskan menulis awalnya 'niteni, niroke, nambahi.' Kalau sudah berlatih dengan formula itu baru bisa mencari identitas tulisan sendiri.” Sekar waktu itu masih kelas satu SMA dan ingin mengirim karyanya ke mading sekolah. Sekar yang belum percaya diri dengan tulisannya berkenalan dengan Radita yang puisinya sering dibacakan di radio sekolah.

Ia yang waktu itu sudah di bangku kelas tiga awalnya tak tahu yang mana Radita. Haris malah lebih mengenal Rania yang anggota cheerleader basket. Rania waktu itu duduk di kelas dua dan cukup populer.

Ia baru ingin tahu sosoknya setelah membaca puisi-puisi Radita yang terserak dimeja adiknya.

Jangan bertanya pada senja
Kenapa sepasang kekasih jatuh cinta padanya

Jangan bertanya pada angin
Kenapa Ia selalu bercengkrama dengan dandelion

Tanya saja padaku
Kenapa tanya yang aneh selalu menyelinap di benak kita.’