Dilema Radita
Dering ponsel menghentikan kegiatan Bu Ning yang tengah menata bunga ke vas. Itu hobby-nya saat mawar di pekarangan rumah tengah mekar. Memotong beberapa tangkai dan memindahkannya ke dalam vas ruang tamu.

“Iya Rania.” Bu Ning yang sudah membaca nama di layar menerima dengan sukacita panggilan ponsel dari bungsunya.

“Bu, Rania mau minta tolong.” Rania tanpa basa basi langsung membicarakan tujuannya menghubungi Ibu.

“Kalau ada yang bisa Ibu bantu pasti Ibu bantu.” Ibu seperti biasa selalu penuh cinta dan perhatian pada bungsu kesayangannya.

Sama sekali tak menyadari Radita yang duduk di sofa ruang tengah dan tengah mengetik naskah di laptop melirik sekilas padanya. Radita menyadari, sejak Ayah meninggal Ibu tak lagi bersabar padanya. mungkin karena Ia perawan tua dengan satu kaki yang dianggap beban bagi Ibu.

“Bisa tolong suruh Kak Radita ke rumah?” Rania memohon di seberang ponsel.

Ibu menyapukan pandang dan menemukan Radita yang tengah menekuri laptop “Untuk?”

“Baby sitter yang Rania ambil dari agen mendadak berhenti. Rania butuh kak Radita untuk menjaga Sandy selama Rania belum pulang.”

“Kau masih terbang? Kapan pulang? Ibu tak yakin Radita bisa.” Bu Ning ragu. Dengan kondisi sulungnya yang hanya punya satu kaki Ia tak yakin Radita bisa menjaga Sandy yang sekarang berusia empat tahun dan tengah senang berlarian kesana kemari.

“Tolong Ibu berikan ponselnya pada kak dita. Biar rania yang bicara.” Rania mencengkram rambut Theo. Mencoba menahan erangan agar tak keluar saat Ia tengah bicara dengan Ibu dan kakaknya.

“Dita, adikmu.” Bu Ning memanggil sulungnya.

Radita meletakkan laptop, menyeret kaki palsunya menghampiri Ibu. Ia meraih ponsel dan menempelkan ke telinga “Ya ini aku.”

“Kak bisa tolong ke rumah?”

“Ada apa?” 

“Baby sitter Sandy berhenti dan tak ada yang menjaga Sandy di rumah. Tolong kau menginap dirumah sampai aku pulang.”

“Rania, apa tidak sebaiknya Sandy saja yang di antar papanya ke tempat Ibu?” Radita merasa permintaan Rania tak masuk akal. Mana mungkin Ia tinggal serumah dengan adik ipar sementara Rania tidak ada. 

“Itu hanya akan merepotkanku. Aku jadi harus menjemputnya!” Rania memekik.

Pekik yang bagi Radita kemarahan sehingga Ia menyalakan speaker daripada menempelkan ponsel ke telinga. 

Radita dan Bu Ning tak menyadari bahwa pekikan Rania untuk kenikmatan yang baru Ia terima dari Theo.

“Dengar Rania, aku mau saja mengurus Sandy asal suamimu mengantarnya ke rumah ibu.” Radita akan sukacita mengurusnya karena Ia tahu sampai tua pun Ia tak mungkin punya anak. Ia tak mungkin menikah dengan kondisinya yang cacat. Ia sudah cukup bersyukur bisa diberi kesempatan mengurus Sandy keponakannya.

“Kak, apa kau benar benar tak tahu balas budi? Apa kau tak ingat siapa yang membelikanmu kaki palsu sehingga tak ada lagi orang yang menatapmu kasihan.” Rania sengaja mengingatkan kakaknya akan jasa-jasanya agar Radita tak lagi mendebatnya.

Bu Ning melotot ke Radita “Dia akan pergi sebentar lagi. Ibu yang akan meyakinkan kakakmu."

“Terima kasih bu.” Rania mengakhiri panggilan dan kembali bergumul dengan Theo. Sama sekali tak peduli dengan perasaan kakaknya. Baginya kebahagiaannya sekarang lebih penting dari apapun.

“Ibu tak mungkin mengiyakan usul Rania." Radita mengembalikan ponsel ke pangkuan Ibu.

“Dia benar. Dia banyak berjasa pada kita. Sejak Ayahmu meninggal dia yang membantu keuangan kita.”

“Tapi dita juga kan ikut andil dalam mencukupi kebutuhan kita berdua.” memang tak banyak penghasilan Radita dari menulis. Tapi Ia selalu menyerahkan pada Ibu seluruh royalti novelnya.

“Royaltimu itu hanya cukup untuk makan hari-hari. Tagihan listrik, air dan BPJS kan tetap Rania yang membayar. bahkan obat pengencer darah Ibu, dia yang menganggarkan tiap bulannya." Ibu membela Rania.

“Bukan berarti aku harus ke rumahnya. Ibu berpikir tidak bagaimana pandangan orang kalau Dita di rumah Haris sementara Rania tidak ada dirumah.” Dita berbalik ke sofa ruang tengah untuk melanjutkan ketikannya.

“Kau cacat. Orang tak akan berpikir macam-macam tentangmu. Mereka akan paham kenapa kau ada disana. Untuk mengurus ponakanmu. Tidak mungkin berburuk sangka padamu.” Ibu berkata tajam. Mengingatkan Radita pada kaki kirinya yang tinggal selutut.

Radita tertegun, menatap Ibu. Tak percaya Ibunya akan mengatakan itu, mengingatkan pada kekurangan fisiknya “Dita memang cacat."

“Dan adikmu yang membantu menutupi cacatmu. Jadi kemasi pakaianmu dan tinggalah disana. Bantu Haris mengurus anaknya.” Ibu beringsut dari sofa ruang tamu dan pergi ke teras seolah ingin mengakhiri pembicaraan agar Radita tak mendebatnya lagi.

Radita memalingkan wajah ke jendela, matanya berembun. Setitik air mata jatuh, Radita buru-buru mengusap dan menutup labtopnya. Ia tahu Ia tak mungkin mendapat keberpihakkan Ibu walau yang dikatakannya benar. Bahwa berada di rumah Haris hanya akan memberi ketidak nyamanan pada mereka berdua. Haris bekas teman sekolahnya, adik Haris yang membonceng Radita saat kecelakaan terjadi dan merengut kakinya. Setelah peristiwa itu, mereka hanya bertegur sapa sebatas kakak dan adik ipar. Itupun hanya saat acara keluarga atau Rania datang mengunjungi Ibu.