Affair Rania
Rania belum pernah merasa hidup semenjak menikah dengan Haris. Kehidupan pernikahan mereka tak semenarik yang Ia bayangkan saat pacaran.

Ia dan Haris pacaran semenjak bangku SMA. Haris meneruskan kuliah dan Ia melamar menjadi pramugari. Mereka jarang bertemu karena pekerjaan Rania yang mengharuskan terbang. Saat pacaran dan berjauhan, Rania merasakan rindu yang menggebu dan berharap saat bertemu mereka bisa bermesraan. Namun Haris berada dalam koridor lurus keluarganya, mereka berpacaran dengan cara kuno yang hanya berpegangan tangan atau berciuman saja. Berbeda dengan teman-teman sesama pramugari yang kebanyakan sudah merasakan lebih dari sekedar ciuman.

Rania mencoba menerima kekurangan Haris dan tetap ingin menikah dengannya karena Haris menjanjikan masa depan financial yang cerah. Haris waktu itu sudah lulus dan bergabung dengan jaringan supermarket milik keluarganya. Ia memegang satu supermarket cabang.

Haris memang mencukupi kebutuhan materinya, namun rumah tangganya benar-benar monoton. Haris lebih suka berkumpul dengan keluarga atau rekan bisnis dibanding bersenang-senang. Ia tak mengenal club malam yang tengah hype atau mau diajak datang ke party-party yang diadakan teman-temannya. Haris berbeda dengan Theo, pilot in command (PIC) yang tiga bulan terakhir menjalin hubungan diam-diam dengannya.

Captain Theo yang awalnya satu schedule dengannnya, sering menggoda dirinya, lalu lambat laun menawarkannya untuk ikut mengeksplore kota yang disinggahi. Dan dalam hitungan beberapa pekan membawanya ke tempat tidur. Membawanya pada kenikmatan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia merasa hidup dan dipuja. Dipuaskan dengan cara yang berbeda dari suaminya. Theo membuatnya ingin terus mereguk apa yang terlarang baginya,  sebuah affair.

“Sudah ada kakakmu dirumah. Jadi apa kau akan tetap ikut schedule?” siang ini Theo berencana melapor ke maskapai untuk penerbangan berikutnya.

“Kalau kau bisa mengaturnya aku akan ikut denganmu. Kemanapun.”  Rania yang tengah dimabuk kasmaran menatap penuh harap.

“Aku bisa mengusahakannya. Kau akan ikut flightku sore ini dengan tujuan Bali. Kita bisa menghabiskan malam di Finns Beach Club setelah mendarat.”

Rania mengulas senyum suka cita dan mendaratkan ciuman di bibir Theo “Kau memang yang terbaik beb.”

Rania benar-benar telah melupakan tanggung jawabnya  sebagai seorang istri dan Ibu yang harus menjaga kehormatan. Benak dan hatinya terlanjur dikuasai hasrat yang menggebu, hasrat yang memperbudaknya untuk melanggar norma dan bertindak diluar batas, berzina dengan suami orang.


Rania tak memikirkan kecanggungan yang harus dilewati Haris dan Radita. Hening diantara keduanya saat Haris mengemudikan mobil untuk mengantar Sandy berenang.

“Tante, apa tante akan menginap?” Sandy tiba tiba bertanya.

“Bagaimana kalau Sandy yang menginap dirumah nenek? Nenek kangen dengan Sandy.”  Radita mungkin bisa membujuk Sandy menginap dirumah Ibunya sehingga tak harus bermalam dirumah Rania. Jika Sandy yang ingin pergi menginap mungkin Rania tak akan menyalahkannya.

“Tidak mau. Rumah nenek tidak ada AC-nya. Sandy nanti kepanasan tidurnya.” Sandy menolak. 

“Enak bobo dirumah kan pah?” Sandy bicara pada ayahnya.

“Iya ” Haris menoleh pada Radita “Jadi kenapa kau menawarkan diri bermalam dirumah jika tak ingin menginap?”

Benak Radita sibuk mencerna apa yang tengah dibicarakan Haris. Ia bisa menyimpulkan kalau Rania mungkin menyampaikan hal berbeda “Aku tidak menawarkan diri. Rania mendesakku untuk bermalam demi Sandy.”

Radita tak mungkin mengatakan karena adiknya mengungkit kaki palsu dan biaya bulanan yang haris tanggung.

“Kau keberatan menginap?” Haris merasakan tusukan tak nyaman.

“Aku tak keberatan menjaga Sandy dan menginap. Aku hanya berpikir kau yang mungkin tak nyaman ada orang lain dirumahmu.”

Haris terangguk pelan “Sebenarnya ya. Aku tak nyaman merepotkanmu. Tapi mencari baby sitter baru juga tak mungkin. Rania memikirkan keselamatan Sandy selama aku pergi bekerja.”

Radita hanya mengangguki. Tak tahu harus berkata apa. Ia tak pernah berbicara akrab dengan adik iparnya. Pun ketika mereka se-angkatan di SMA Ia dan Haris tak pernah satu kelas dan saling menyapa. Ia hanya mengenal Sekar adik Haris yang sama-sama menulis untuk mading sekolah.

Kecelakaan itu yang kemudian membuatnya mengenal Haris,  Haris kerap datang ke rumah setelah Ia menjalani amputasi. Namun kecelakaan itu membuatnya enggan bertemu siapapun. Rania yang kemudian menemani  setiap kali Haris berkunjung. dan dari sana Haris dan Rania kemudian dekat, menjalin hubungan lalu memutuskan menikah.

Radita sendiri meninggalkan bangku sekolah dan mengikuti kejar paket C. setelah lulus Radita tak punya keyakinan untuk melamar kerja. Ia tak yakin ada perusahaan yang mau menerima orang cacat. Sebagai ganti kesibukkannya almarhum Ayah menghadiahi-nya laptop yang membawanya pada kerja sebagai novelis.

“Bagaimana kakimu?” Haris menanyakan. Pertanyaan yang sebenarnya tak ingin Radita dengar. Ia benci harus mengingat dirinya yang tak lagi memiliki dua kaki. Kecacatannya membuat Ia tak ingin kemana-mana, memilih menyepi dari hiruk pikuk pergaulan.

“Kakiku baik-baik saja." Radita menjawab tak nyaman.

“Teman-teman menanyakanmu saat reuni.”

Radita memaksa tersenyum. Itu pasti pertanyaan basa basi. Mereka sama-sama tahu, Radita meninggalkan bangku sekolah dan tak lagi menjalin kontak dengan teman-temannya “Sudah lama sekali. Aku sudah banyak lupa teman-teman SMA.”

“Tapi mereka masih mengingatmu. Mereka ingat puisi-puisi yang kau buat di mading dulu. Mereka masih tak mengira akhirnya kau jadi penulis.” 

Radita meringis. Haris mungkin hanya ingin menghibur. Ia pasti masih merasa bersalah karena peristiwa kecelakaan itu. Sekar yang membonceng Radita tidak mengalami luka berarti. Sementara Radita terlempar ke badan jalan dan satu kakinya terlindas kendaraan yang lewat. Benar-benar ironis.