Cinta Terpaksa
“Apa kolam renangnya sudah dekat?” Radita mengalihkan. Ia tak ingin membahas masa lalu. 

“Sudah dekat belum pah?” Sandy ikut bertanya.

“Sudah. Sebentar lagi sampai.” Haris melirik Radita sekilas. Delapan tahun berlalu Radita masih sama seperti saat kakinya baru di amputasi. Ia masih apatis dan menutup diri. Mungkin kecacatannya membuat Ia kehilangan kepercayaan diri untuk bergaul lagi.

Haris ingin menoleh pada kaki palsu Radita, namun Ia khawatir Radita tersinggung. Kaki palsu Radita sudah terlalu lama dipakai. Kemarin Ia menawarkan pada Rania untuk membelikannya yang baru, namun Rania menanggapinya sinis “Kau mungkin merasa ikut bersalah atas kecelakaan itu. Tapi bukan berarti kau harus memanjakan kakakku. Dia tidak kemana-mana jadi kaki palsunya pasti masih layak untuk digunakan.”

Haris mendesah, ia membelokkan mobil ke area parkir kolam renang dan menurunkan Radita serta Sandy.

“Dit, ini bawa.” Haris memberikan kartu ATM pada Radita.

Radita melongo “Kau tak punya uang cash?”

“Aku khawatir kurang. Sandy suka jajan.” 

Radita tertegun, ragu untuk menerima.

“Aku harus segera menemui pemasok. Please, no pinnya akan ku WA.”

Dengan berat hati Radita menerima “Sandy salim papa.”

Sandy membuka pintu mobil “Dah papa.” Ia mencium papanya.

“Dah sayang. Selamat bersenang-senang” Haris balas mencium kening putranya sebelum mengemudikan mobil pergi.

Dalam perjalanan menuju supermarketnya Haris mengingat kembali peristiwa itu, Ia tengah berada di mall saat kecelakaan terjadi. Sekar menghubunginya dan memberitahukan apa yang dialaminya.

“Kakak, aku kecelakaan.” Sekar terbata menceritakan.

“Kak radita yang kubonceng kakinya hancur.” tangis Sekar pecah diseberang ponsel.
Haris mendengar orang lain mengambil alih ponsel dan mengabarkan lokasinya. Haris menuju kesana namun terlambat. Ambulance lebih dulu datang dan membawa keduanya ke rumah sakit.

Sekar diijinkan pulang karena hanya mengalami lecet. Sementara Radita masih harus menjalani operasi untuk mengamputasi kakinya yang hancur. 

Haris ingat, Ia beberapa kali mencoba menemui Radita selama gadis itu dirawat. Ia ingin meminta maaf mewakili adiknya dan mengetahui kondisi gadis itu pasca operasi. 
Namun Radita menolak menerima kunjungan. Ia meminta orang tuanya untuk tak membiarkan satu orang pun menemuinya. 
Haris pikir mungkin jika gadis itu sudah pulang ke rumah, Radita akan mau menemuinya. Tapi ternyata tidak, Radita mengunci diri dikamar dan tak lagi meneruskan sekolah. Haris merasa bertanggung jawab hingga tak letih untuk datang. Kedatangan yang mengakrabkannya dengan Rania, adik Radita. 

Rania yang anggota cheerleader sekolah sering meminta tolong untuk diantar jemput. Gadis itu tipikal berani dan nekat. Ia tanpa sungkan menyatakan cinta pada Haris.

“Jangan menjawab tidak. Adikmu berhutang pada kakakku." itu ancaman Rania saat Ia ingin menolak dan mengatakan kalau hanya menganggapnya adik.

Rania yang memaksakan hubungan dan membuatnya belajar untuk menerima gadis itu. Demi rasa bersalah yang menggerogoti. Walau Ia tahu, Rania memujanya hanya sebatas fisik dan kekayaan yang keluarganya punya. Rania bukanlah sosok istri yang Ia harapkan, ia wanita karir yang mencintai pekerjaannya sebagai Flight Attendant.


“Siang pak." Manager pengelola menyapa Haris begitu Ia tiba. Haris menyapukan pandang dan melihat kesibukan kasir. Antrian mengular karena panic buying yang terjadi.

“Selain sembako apa ada item lain yang mengalami krisis stok?” Haris menyusur lorong supermarketnya yang khusus menjual grosery dan alat-alat rumah tangga.

“Susu dan pampers termasuk item yang paling banyak dibeli."

Haris mengangguki, ia menoleh ke managernya “Pemasok sudah kau hubungi?”

“Mereka menolak untuk mengirim barang kalau bukan bapak sendiri yang menghubungi.”

“Aku mengerti. Aku sudah menghubungi beberapa pemasok dan mereka mengajukan  termin baru untuk kondisi sekarang. Kau tolong hubungi distributor susu dan pampers untuk datang siang ini.” Haris memerintahkan sambil lalu ke kantornya. Sebuah ruang berukuran lima kali enam meter yang berada disebelah gudang penyimpanan.