Bab 2

Tulang Punggung Yang Patah 2




Keesokan paginya aku mendapati Fika termenung di dapur. Biasanya pagi pagi dia sudah sibuk di dapur, menyiapkan sarapan untukku dan Fira yang akan berangkat sekolah. Fika sendiri berangkat kuliah lebih siang. Kadang dia lebih banyak di ruamah karena tinggal menyelesaikan skripsi dan mengatur jadwal bimbingan. Sementara Ibu dan Dion tidak suka sarapan. Mereka hanya minum kopi, tapi harus pula ditemani sepiring gorengan. 


"Kenapa?" Aku menyentuh bahunya.


"Emmm… anu Kak. Beras habis. Sepertinya Ibu belum sempat beli."


Aku tersenyum, mengeluarkan dua lembar uang 100 ribuan dan memberikannya pada Fika.


"Gunakan ini untuk beli beras dan lauk beberapa hari ini ya. Biar yang yang ada di Ibu untuk beli buku paket Fika dan token listrik."


"Loh, ini kan uang bensin Kakak kemarin?"


Aku menggeleng.


"Gaji Kakak yang di Ibu cuma separuh. Sisanya Kakak pegang sendiri. Selama ini Ibu tahunya gaji Kakak cuma segitu." Aku mengedipkan mata. "Kamu jangan khawatir. Kakak tahu kalau sudah di Ibu, akan sulit sekali keluarnya uang itu."


Fika menghembuskan nafas lega. Lalu mulai membagi nasi goreng di dalam wajan ke dalam tiga buah piring. Untukku, Fira, dan dirinya sendiri. Fira masuk dapur tak lama kemudian. Wajahnya cemberut. Adik bungsuku itu masih duduk di kelas 2 SMP. Terpaut cukup jauh dengan Fika si nomor 3. 


"Aku harus beli buku paket, Kak. Susah sekali mengikuti pelajaran kalau tidak punya buku." Keluhnya.


"Loh memangnya Ibu belum kasih?"


Fira menggeleng. Aku mendesah. Entah Ibu lupa atau apa. Padahal hal itu yang pertama disebutnya kemarin ketika meminta uang gajiku.


Aku menyuruh kedua adikku sarapan lebih dulu, lalu menghampiri kamar Ibu yang tertutup. Kuketuk pintunya perlahan. Lama tak terdengar jawaban. Barulah ketika aku mengetuk nya agak keras, kudengar suara Ibu menyahut dengan kasar.


"Kenapa? Ganggu orang tidur saja!'


Aku membuka pintu dan mendapati Ibu masih bergelung dalam selimut.


"Fika mau berangkat sekolah, Bu. Mana uang untuk beli buku paketnya?"


Ibu mendelik.


"Buku paket apa? Kau tiap bulan mengurangi jatah Ibu. Bagaimana mau beli buku paket?"


Hatiku mencelos. Kutatap wanita setengah baya yang bergelar Ibuku ini. Ah, terbuat dari apakah hatinya?


"Aku kasih Ibu 2 juta kemarin Bu. Masa sudah habis?"


"Ibu bayar arisan 500. Cicilan hape 500.  Yang 500 lagi diminta Dion. Yang 200 kan Ibu kasih kamu buat bensin. Nah, masa Ibu gak pegang uang? Bilang Fira bulan depan saja bukunya."


"Kenapa Ibu mencicil hape lagi? Dan Dion? Astaga. Kenapa Ibu kasih dia uang sebanyak itu?"


"Banyak apanya? Itu duit emang cuma sedikit Ais!" Seru Ibu dengan nada kesal.


"Kau tahu hape Ibu sudah ketinggalan zaman. Dari pas keluar hape mata tiga, Ibu gak mampu beli. Sekarang sudah lebih canggih lagi, masa Ibu gak beli juga? Nah, makanya Ibu mencicil."


"Tapi bagaimana dengan uang dapur kita Ibu. Beras? Minyak? Gas? Kita mau makan apa sekarang?"


"Makanya kerja yang rajin. Ambil lembur yang banyak. Kalau perlu kau tak usah libur. Sudah sana keluar!"


Ibu mendorongku keluar, lalu kembali menarik selimut dan bergelung di dalamnya. Aku menarik nafas dalam dalam, mencoba menenangkan hati. Kuambil ransel dari dalam kamar dan menghampiri kedua adikku yang sedang sarapan tanpa bicara.


"Berapa harga buku paketnya, Fira?'


"360 ribu, Kak."


Aku mengeluarkan dompet, memberikan uang sejumlah yang disebutkan tadi. Berikut selembar 5 ribuan jatah jajannya. Harusnya jatah jajan Fira ada dalam post pengeluaran Ibu. Tapi melihat gelagatnya, Ibu tak mau lagi mengeluarkan uang jajan untuk adikku ini. 


Fika menatapku tak berkedip. Aku tahu dia khawatir dengan kondisi keuanganku. Setelah setengah gajiku dirampas Ibu, harusnya Ibu ikut membantu memikirkan kebutuhan rumah. Bukannya malah foya foya menghamburkan uang yang tak seberapa.


"Kalian tenang saja. Kakak masih bisa dapat tambahan uang lain kok. Yang penting Fira belajar yang rajin supaya bisa sekolah tinggi seperti Kak Fika ya." Adikku memgangguk kuat kuat. Wajahnya berbinar setelah menerima uang itu. Ah, tentu sulit sekali mengikuti pelajaran tanpa buku paket di zaman sekarang ini. Beda dengan zamanku dulu yang banyak mencatat materi pelajaran.


"Dan kamu, Fika? Kapan lagi ada bayaran uang kuliah?" 


Fika menggeleng. "Tinggal bayar uang wisuda saja, Kak. Sewa baju dan toga. Tapi kalau skripsiku ditolak terus, mungkin aku harus bayar satu semester lagi." Ujarnya pelan, merasa bersalah.


Aku mengangguk. Kalau sudah tahu begini, aku akan punya persiapan. Fika anak yang cerdas. Uang semester nya sudah banyak di pangkas Beasiswa dari kampus. Bahkan uang bangunan hanya bayar setengah saja. 


"Tidak apa apa. Yang penting kau bisa lulus ya. Jangan banyak pikiran. Fokus pada skripsimu."


Aku tahu dia memikirkanku. Penyakitku yang hanya diobati ala kadarnya. Fika mengangguk pelan.


"Mana kopiku?"


Dion tiba tiba muncul dari dalam kamar. Masih belum mandi dan cuci muka. Tangannya seolah tak bisa lepas dari ponsel. Fika berdiri, menyeduh kopi yang sudah dia siapkan dan meletakkannya di atas meja.


"Gorengannya mana?"


"Gak ada, Bang. Ibu gak kasih uang." Jawab Fika.


"Loh, kan Kak Ais baru kemarin gajian?" Tuntutnya. Aku menatapnya tajam. 


"Gajiku semua diambil Ibu. Dan bukankah kau ikut merampasnya dari Ibu? Belilah makanan untukmu sendiri."


"Ah, Kakak pelit sekali. Aku cuma minta 500 ribu. Gaji Kakak kan banyak."


"Kau ini benar benar tak tahu diri ya. Gajiku hanya dua juta. Kau pikir aku ini lulusan sarjana yang jadi manager di kantor? Aku ini hanya buruh pabrik Dion. Dan kau sebagai lelaki harusnya mikir buat kerja. Bukan hanya makan tidur!"


Emosiku meledak. Kulihat Dion menundukkan kepala. Meski bengal, dia takut padaku. 


"Kalian ini kenapa ribut sepagi ini?" Ibu muncul. Aku mengeluh dalam hati. Kalau sudah ada Ibu, Dion biasanya akan berani menentangku.


"Kak Ais menyuruhku kerja. Padahal Ibu tahh sendiri aku ini sering batuk batuk." Dan dia langsung batuk batuk, yang kuyakini cuma akting. 


"Kau ini Ais. Sudah Ibu bilang tak usah paksa Dion kerja. Kalau dia sakit bagaimana?" Ibu lekas memberikan segelas air putih pada anak kesayangannya itu.


Kutarik tangan Fira yang terdiam setelah menyelesaikan sarapan. Mengajaknya berangkat sekolah. Berdebat dengan Ibu hanya akan membuang waktu. Fika ikut beranjak pergi dari meja makan. Kasihan adik adikku. Entah setan mana yang menghasut Ibu sehingga tak mampu bersikap layaknya Ibu bagi adik adik perempuanku. Aku sudah ikhlas dia jadikan sapi perah, tapi kalau kebutuhan adik adikku juga dikorupsi, rasanya aku tak rela.


"Fikaaaa! Mana gorengannya?!"


Masih kudengar teriakan Ibu ketika aku mengeluarkan sepeda motor jadulku. Aku menghela nafas. Fika tahu bagaimana menghadapi Ibu dan Dion. Di belakangku, Fira termenung. Ada beban yang nampak di wajahnya, yang seharusnya tak muncul di raut wajah anak sekecil itu.


"Kak, kenapa kita punya Ibu seperti itu?"



***