Bab 7

Tulang Punggung Yang Patah 7




Malamnya, tumben sekali Dion ikut bergabung makan malam dengan kami bertiga. Sementara Ibu yang pergi sejak siang tadi belum juga pulang. Tidak mengherankan, Ibu memang biasa begitu. Dia akan bergiliran mengunjungi teman teman dan saudaranya sambil bercerita ngalor ngidul. Sebagian besar tentu menjelek jelekkanku karena biasanya akan ada yang melapor. 


Dion duduk di sebelah Fira, ikut makan dengan telur dadar Padang ala kadarnya yang dibuat Fika. Dia bercerita dengan antusias kalau besok Raka akan mengajaknya ke pabrik dan melamar pekerjaan. Trainingnya hari ini gagal karena dia datang kesiangan.


"Kak Ais sih gak bilang bilang punya teman sekeren itu."


Aihh, giliran gamer saja dia bilang keren.


"Besok bareng aku ya ke pabrik. Aku sekalian ngelamar kerja."


Aku tersenyum. Ada secercah rasa bahagia di hatiku melihat sikap adikku yang sedikit berubah. Bahkan sejak sore menjelang malam ini, tak sekalipun aku melihatnya memegang rokok.


"Kak Ais belum boleh masuk kerja besok. Harus istirahat dulu."


Dion menghentikan makannya. Dia menatapku dengan mimik serius.


"Kakak sakit apa? Kenapa tadi pagi tiba tiba pingsan?"


"Kak Ais sakit parah. Kau seharusnya tahu!" Fika langsung menyela. Aku menggeleng.


"Fika…"


"Dion itu sudah dewasa, Kak. Dia harus tahu. Kalau Ibu sedemikian bebal dan membenci Kakak tanpa sebab, seharusnya Dion sebagai lelaki satu satunya di rumah ini yang menjadi sandaran kita. Bukan malah jadi benalu."


Fika meluapkan perasaannya selama ini yang berusaha dia pendam. Dia bahkan tak peduli Fira ternganga sambil memandangku. Kulihat Dion terdiam, meletakkan sendoknya di atas piring. Agak sedikit mengherankan, karena dia biasanya akan marah dengan perlawanan Fika.


"Kakak sakit apa?" Tuntutnya.


"Tumor otak!"


Lalu hening. Suara Fika seakan bertalu talu di benakku, mungkin juga dalam benak kedua adikku yang lain. Kami terdiam, bahkan seolah tak berani menghembuskan nafas. Tiga pasang mata menatapku tak berkedip. Lalu kulihat Fira meninggalkan kursinya dan berlari memelukku. Dia menangis tersedu sedu. Aku tahu apa yang dipikirkannya. Selama ini, aku telah menjadi Ibu sekaligus Ayah baginya.


"Tumor otak…" Dion mengulangi kosakata itu dengan pandangan menerawang. Dia tampak sangat shock.


"Satu atau dua bulan lagi Kak Ais akan di operasi. Kita tinggal menunggu jadwal dan observasi. Tolong bantu aku Bang. Aku tak bisa menghadapi ini semua sendiri. Kak Ais tak boleh banyak pikiran. Dia harus mempersiapkan fisik dan mentalnya untuk operasi."


Ujar Fika panjang lebar. Dia memanggil Bang untuk menegakkan maksudnya. Biasanya saat sedang marah, Fika langsung memanggil namanya tanpa embel embel Abang.


Suasana di meja makan menjadi muram. Kulepaskan pelukan Fira dan menyuruhnya kembali melanjutkan makan. Tapi Fira menolak. Dia bersikeras duduk di sebelahku.


"Inshallah Kakak akan sembuh, Dek. Kamu hanya perlu mendoakan Kakak." Ujarku padanya. Fira masih terisak Isak.


"Apakah Ibu tahu?" Tanya Dion


"Ibu tidak perlu tahu. Aku tidak siap akan reaksinya." Ujarku cepat.


Dion berdiri, menatapku sangat lama dengan tatapan yang sulit diterjemahkan, lalu berjalan ke kamarnya dengan langkah perlahan. Di pintu tengah dia berhenti karena suara Ibu di depan yang meminta dibukakan pintu terdengar. Dia beralih ke depan dan membuka pintu.


"Kenapa kamu?" Suara Ibu tampak khawatir melihat Dion. Anak kesayangannya itu tampak murung tak seperti biasa. Dia menatap Ibu tajam.


"Tolong Ibu, bersikap baiklah pada Kak Ais mulai saat ini." Ujarnya perlahan, lalu masuk ke kamarnya.


Aku tercekat mendengar permintaan Dion yang sama sekali tak kuduga. Sama terkejutnya dengan Ibu. Ibu langsung melangkah menuju meja makan dan menatap kami bertiga bergantian. Tatapannya berhenti pada Fira yang wajahnya sembab dan masih basah oleh air mata.


"Ada apa ini?" Tanyanya.


Kami semua terdiam. Fika menatapku, meminta izin untuk jujur pada Ibu.


"Tidak ada apa apa." Aku yang akhirnya menjawab. Jarak yang membentang demikian jauh antara aku dan Ibu, yang telah tercipta semenjak aku masih kecil, membuatku merasa aman menyimpan semua darinya. Kudengar Fika mendesah kesal mendengar jawabanku. 


"Jangan kebanyakan akting Ais. Bilang ada apa ini?"


"Apa maksud Ibu?"


"Apa yang kau katakan pada Dion sehingga dia berubah?"


Perubahan sikap Dion ternyata jauh lebih penting baginya daripada airmata Fira.


"Seharusnya Ibu bertanya, kenapa Kak Ais pingsan tadi pagi. Itu lebih penting." Sinis Fika. Rupanya dia tak tahan melihat sikap Ibu.


Ibu melengos.


"Jangan coba coba mempengaruhi Dion."


Ibu lalu beranjak ke kamarnya. Langkahnya lebar dan panjang menandakan hatinya sedang kesal. Aku hempas. Ibu bahkan tak bertanya keadaanku meski jelas jelas aku pingsan di hadapannya tadi pagi. Beliau juga tahu Fika mengajakku ke dokter. Mungkin memang aku tak berarti apapun baginya selain sebagai mesin pencari uang.



***



"Kau jangan aneh aneh ya. Bukannya kau sering batuk batuk? Mau kerja tempat Ais? di sana banyak debu! Biar saja Ais yang kerja!"


Suara Ibu memecah keheningan pagi. Aku yang tengah bersiap siap minum obat, dikejutkan oleh suara langkah Ibu yang kasar, lalu pintu kamarku menjeblak terbuka.


"Kau menyuruh Dion kerja? Kenapa rupanya? Sudah bosan ngasih makan kami?"


Aku meletakkan gelas, berusaha mengabaikan kepalaku yang makin berdenyut mendengar suara Ibu yang menggelegar.


"Bukan Kak Ais. Tapi aku mau sendiri, Bu. Aku batuk batuk karena kebanyakan merokok. Cuma itu.  Aku sudah besar. Tak mungkin selamanya bergantung pada Kak Ais. Seharusnya Kak Ais sudah menikah dari dulu."


Dion yang menjawab pertanyaan Ibu. Dia muncul dari balik bahu Ibu, menatapku penuh arti. Dadaku menghangat mendapat perhatian dari adikku yang lain. Dia satu satunya lelaki di rumah ini. Kalau kami saudara perempuannya menikah, dialah yang berhak menjadi wali kami.


"Menikah? Cih, siapa yang mau dengan perawan tua sepertinya."


Nyuttt… dadaku berdenyut nyeri mendengar kata kata Ibu. Perawan tua. Tidakkah dia sadar selama ini dia yang melarangku menikah? Bahkan jika ada lelaki yang ingin mendekati pun, Ibu langsung memberi ultimatum.


Lelaki itu harus membiayai hidup kami berlima. Atau aku tak perlu menikah sama sekali.


"Ibu!"


Dion dan Fika berteriak bersamaan. Mereka sama terkejut mendengar kata kata Ibu yang kejam.


"Kenapa Ibu tega sekali padaku? Apa salahku pada Ibu?" 


Suaraku bergetar. Selama ini aku bertahan dimaki dan dihinanya. Bertahun tahun menerima siksaan fisik. Pukulan dan cambukan yang banyak menimbulkan bekas di sekujur tubuhku. Aku diam dan menerima semuanya sebagai penebus kesalahan yang dilakukan Ayah, meski tahu itu bukan salahku. Aku ingin Ibu sadar bahwa aku anaknya, yang tak pernah melawan dan membantah. Tapi rupanya itu tak sedikitpun meluluhkan hatinya yang batu.


"Kau masih bertanya apa salahmu? Coba kau tanya pada Ayahmu di neraka sana!"


Ujarnya kejam, lalu berlalu pergi menuju kamar. Dia tak peduli pada sorot marah Fika dan Dion. Juga Fira yang berdiri gemetar di belakang kakaknya. Aku memejamkan mata. Suasana rumah ini sungguh tak sehat bagi perkembangan mental Fira. Haruskah aku pergi membawa adikku keluar dari rumah ini? Lalu bagaimana dengan Ibu? Benarkah tak ada surga yang bisa kutemukan di kakinya?


Suara klakson motor Raka membuyarkan keheningan pagi setelah keributan tadi. Baru kusadari Dion telah berpakaian rapi. Rupanya dia bersungguh sungguh dengan niatnya bekerja. Ah, betapa mudah bagi Allah membolak balikkan hati hambaNya. Sejenak, aku melupakan insiden tadi. Kutatap adik lelakiku satu satunya, yang di hari hari kemarin selalu membuatku suram menatap masa depan.


"Maafkan aku selama ini telah terlalu banyak merepotkanmu, Kak. Kalian benar, aku hanya benalu. Tapi Kakak lihat aku akan bekerja keras menebus semuanya."



***