Bab 1

Tulang Punggung Yang Patah




"Ais, sudah keluar gajimu? Fira terus merengek tak mau sekolah karena belum beli buku paket."


Suara Ibu menyambut kedatanganku. Aku tersenyum, meletakkan tas diatas meja lalu memberikan amplop gajiku pada Ibu. 


"Cuma segini Ais? Kok berkurang dari bulan sebelumnya?"


"Aku sakit bulan lalu, Bu. Jadi gak bisa lembur."


"Ck… jangan sering sering sakitlah. Kau tahu kebutuhan kita banyak. SPP Fira dan uang kuliah Fika. Belum si bengal Dion adikmu itu gak henti henti minta uang beli rokok. Pusing kepala Ibu."


Aku memijit pelipis yang tiba tiba terasa pusing mendengar kata kata Ibu.


"Makanya suruh Dion kerja, Bu. Dia sudah dewasa. Ibu terus memanjakannya."


Ibu langsung melotot menatapku.


"Apa kau bilang? Dion kau suruh kerja? Dia itu penyakitan. Mau kerja apa? Bisa bisa mati dia sebelum terima gaji." Ujar Ibu kasar.


"Sudah tahu penyakitan, masih juga Ibu kasih uang rokok." Fika adikku tiba tiba muncul dan ikut menyahut. Membuat Ibuku makin murka.


"Kalian berdua sama saja, suka sekali menentang Ibu. Sudah pergi sana. Ibu mau bayar arisan dulu."


Ibu mengibaskan tangannya. Fika menatapku sambil menggelengkan kepala.


"Bu, sebaiknya Ibu kurangi ikut arisan. Aku tak sanggup lagi membayarnya. Uang kuliah Fika dan SPP Fira lebih penting."


Ibu melengos.


"Halah, jangan pelit. Kalau sudah dapat arisannya akan Ibu ganti." Ujar Ibu sambil masuk ke kamar membawa amplop gajiku.


"Bu, sisakan 500 ribu untuk ongkos kerja ya!" Seruku.


Ibu keluar lagi dari kamar, lalu melemparkan dua lembar uang merah ke arahku.


"Segitu cukup ngisi bensin mu. Jangan boros boros."



***



"Kak Ais, jujurlah pada Ibu. Kenapa Kakak terus menyembunyikannya? Kalau Kakak kenapa Napa gimana?" Fika menatapku sedih. Sepeninggal Ibu yang langsung pergi dengan dandanan cetar, kami masih terduduk diam di kursi makan yang mulai reot. 


Aku tersenyum, menggeleng.


"Jangan Fika, Ibu tak perlu tahu. Fira juga tidak. Biarkan dia sekolah dengan tenang. Kakak hanya berbagi cerita ini denganmu karena kau adikku yang paling mengerti."


Kulihat mata bening itu berkaca kaca.


"Aku berhenti kuliah saja ya, Kak. Aku akan cari kerja supaya beban Kakak tak terlalu berat."


Aku lekas menggeleng. Kuraup wajah cantik itu dengan kedua tanganku.


"Jangan coba coba melakukan itu. Kuliahmu tinggal setahun lagi. Belajarlah yang benar agar mendapat nilai yang bagus dan bisa bekerja di tempat yang baik. Kau dengar."


Fika malah terisak Isak. Dia memasukkan tubuhnya ke dalam pelukanku. Ah, adikku ini, dia sudah tumbuh besar, makin dewasa dan cantik. Tubuhnya lebih tinggi dariku. Tapi di hadapanku, dia kerap kali menangis seperti anak kecil.


"Jangan cengeng. Ayah tidak pernah mengajari kita untuk menyerah. Sekarang bangunlah. Sebentar lagi Fira akan pulang dari mengaji. Dia selalu kelaparan." Aku mengerling, berusaha membuatnya tertawa.


Fika tertawa getir. Dia bangkit dari kursinya dan melangkah ke dapur. Sementara aku menyeret kakiku yang terasa pegal sekali ke dalam kamar. Kuletakkan ranselku di atas meja, lalu duduk dan mengamati wajahku di cermin. 28 tahun usiaku saat ini, tapi wajahku terlihat 5 tahun lebih tua. Aku mengusap mataku yang basah. Perjuangan ini belum boleh berakhir.


Masih kuingat diagnosa dokter enam bulan yang lalu. Fika yang kerapkali melihatku mengeluh sakit kepala, memaksaku memeriksakan diri ke rumah sakit. Setelah serangkaian tes yang panjang dan memakan banyak biaya, aku harus menerima kenyataan pahit ini.


"Ada massa yang menekan otak kecilmu. Masih sangat kecil. Akan segera sembuh jika dioperasi." Dokter begitu optimis.


Tapi aku hanya tersenyum. Operasi? Mendengarnya saja aku sudah takut. Membayangkan biayanya yang entah dari mana itu lebih menyeramkan buatku dibanding operasi itu sendiri.


Fika yang menemaniku ke rumah sakit sesaat ikut shock. Tapi mendengar kata kata dokter, dia ikut optimis.


"Jadi bisa sembuh kan ya, Dok?" 


"Inshaallah bisa. Bukankah semua penyakit itu ada obatnya?"


Dokter Kamal, dokter spesialis penyakit dalam yang masih muda dan tampan itu menatap kami simpati.


"Berapa biayanya, Dok? " Tanya Fika ragu ragu. Ah, aku bahkan tak berani bertanya.


"Kurang lebih 100 juta. Tergantung di mana kalian ingin operasi dilakukan."


Kami berdua saling menatap.


"Uruslah BPJS. Itu akan membantu." Saran Dokter Kamal kemudian.


100 juta. Rabb, itu uang yang banyak sekali. Gajiku setahun saja masih jauh dari  itu. Belum untuk kuliah Fika, SPP Fira. Sementar adikku Dion, tak pernah berpikir bagaimana ada nasi di rumah ini setiap hari. Dia selalu ribut meminta makanan enak dan jatah rokok. Dan yang menyedihkan, Ibu akan membelanya jika aku memarahinya.


"Dia anak lelakiku satu satunya. Kalian ini memang anak perempuan yang tidak becus."


Sesungguhnya hatiku sakit sekali tiap kali mendengar Ibu mengumpat ku. Padahal makanan di rumah ini tersedia berkat keringatku. Bukan aku mengungkit atau tak ikhlas. Hanya saja, sedih rasanya jika pengorbanan mu tak dihargai.


"Bekerjalah lebih keras, Ais. Itu tanggungjawabmu sebagai Kakak tertua."


Selalu itu yang dikatakan Ibu. Dan aku hanya bisa diam karena Ibu akan mengataiku anak durhaka jika membantahnya sedikit saja.


Dan kini, dengan beban penyakit yang tumbuh di kepalaku, masih sanggupkah aku menjadi tulang punggung keluarga ini? Operasi meskipun ditanggung BPJS, aku tentu harus menyiapkan uang yang tak sedikit untuk biaya biaya lain dan tak terduga. Aku tersenyum getir, lupakan saja operasi itu, aku masih punya setahun sampai Fika lulus kuliah dan bisa menerima estafet tanggungjawab ini dariku.


Aku menegakkan punggung. Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupku. Adik adikku, terutama Fika dan Fira membutuhkanku.


Aku. Aisyah. Si tulang punggung yang patah.




***