Mempermalukan Suami
KETIKA ISTRI MENOLAK UANG BULANAN DARI SUAMINYA
Episode_1
Mempermalukan Suami

JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN BINTANG LIMA LEBIH DULU. Happy Reading

"Res, ini uang bulanan kamu, seperti biasa." Ardan meletakkan lima lembar seratus ribuan di atas meja. Resty hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus membuat susu untuk putrinya yang kini usianya enam bulan. 

"Kamu simpan saja, Mas. Atau kamu kasih ke ibu," sahut Resty, mendengar itu Ardan sedikit terkejut. 

"Memangnya uang bulan kemarin masih?" tanya Ardan. Karena sangat mustahil jika uang bulan kemarin masih tersisa.

"Alhamdulillah masih, Mas." Resty mengangguk. Selesai membuat susu, wanita berdaster itu berjalan menghampiri putrinya yang kini tengah berada di atas karpet dengan beberapa mainannya. 

"Mustahil uang bulan kemarin masih ada, sedangkan aku memberinya hanya lima ratus ribu untuk sebulan. Dan itu sudah kepotong untuk beli susu sama pampers," batin Ardan. Lelaki berkemeja biru itu menatap istrinya yang sedang asyik memberikan susu untuk putri mereka. 

Setelah itu Ardan beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru saja Ardan masuk, tiba-tiba ponselnya berdering. Awalnya Resty hanya diam, tetapi benda pipih milik suaminya itu terus menjerit-jerit. Alhasil dengan terpaksa Resty mengangkatnya. 

[Dan, uangnya jangan lupa ya, ini ibu sama kakakmu sudah dalam perjalanan]

[Mas Ardan lagi mandi, Bu]

[Oh ini kamu, bilang sama Ardan. Sekarang ibu sama kakaknya sedang dalam perjalanan]

[Iya, Bu. Nanti aku sampaikan]

Tiba-tiba saja panggilan terputus, selang beberapa menit Ardan keluar dari kamar mandi. Terlihat jika lelaki yang usianya sudah menginjak dua puluh delapan tahun itu tengah sibuk mencari baju. Karena memang Resty belum sempat menyiapkan baju. 

"Mas, tadi ibu nelpon," ucap Resty. Mendengar itu Ardan menghentikan pergerakan tangannya. 

"Nelpon, ngomong apa?" tanya Ardan. 

"Katanya ibu sama kak Mita sedang dalam perjalanan. Kalau boleh tahu, memangnya ibu mau ngadain acara ya, kok .... "

"Bukan ibu, tapi kak Mita. Senin besok kan Lala ulang tahun. Itu sebabnya kak Mita memintaku untuk menyiapkan uang untuk biaya ulang tahunnya nanti." Ardan memotong ucapan istrinya, seketika Resty terdiam. 

"Setiap kali keluarga kamu mengadakan acara, selalu kamu yang menyiapkan dana. Tapi giliran keluargaku yang ada acara, jangankan menyumbang dana. Pinjam saja tidak pernah dikasih, kamu memang egois mas. Aku memang terlahir dari keluarga tidak mampu, tapi aku masih punya harga diri." Resty membatin. 

Hatinya sakit saat mengingat ibunya meminjam uang untuk biaya operasi ayahnya. Namun Ardan mengatakan jika uangnya sudah dipakai kakaknya untuk biaya ulang tahun anak pertamanya. Bukan itu saja, Resty juga dituntut untuk mengganti biaya operasi caesar dirinya saat melahirkan putri pertamanya. 

Padahal itu sudah menjadi kewajiban suaminya, tetapi dengan enteng ibu mertuanya menagih uang tersebut, pasca selesai operasi. Hal tersebut, lantaran uang yang Ardan gunakan adalah uang bulanan yang setiap bulan diberikan untuk ibunya. 

***

Hari telah berganti, pukul tujuh pagi Ardan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Sementara Resty masih sibuk mengurus putrinya, usai sarapan Ardan bergegas untuk pergi, karena pagi ini ada meeting. 

"Aku pergi sekarang." Ardan berpamitan.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," sahut Resty. Setelah itu Ardan bergegas pergi, sementara setelah ini Resty juga akan bersiap untuk pergi bekerja.

Pukul setengah delapan Resty sudah siap untuk pergi, selama ia bekerja. Zara ia titipkan ke ibunya, dengan begitu Resty bisa bekerja dengan tenang. Selesai mengantar Zara, Resty bergegas pergi ke tempat kerjanya. 

Sampai di tempat kerja, Resty langsung mendapatkan tugas untuk ikut mengantarkan pesanan makanan. Awalnya Resty ragu, karena ia merupakan karyawan baru, tetapi mau tidak mau Resty harus menurut apa kata bos. 

Tepat jam makan siang, kini Resty dan dua orang teman kerjanya tiba di sebuah perusahaan yang memesan makanan. Setelah mobil terparkir di halaman depan, Resty ikut turun, setelah itu ia membantu temannya itu membawa makanan tersebut ke dalam. 

Sementara itu, saat ini Ardan masih sibuk dengan beberapa pekerjaannya. Namun tiba-tiba pintu ruangan terbuka, seorang lelaki berjalan menghampiri Ardan dengan sedikit terburu-buru. Ardan yang menyadari itu seketika menoleh, tetapi ia kembali fokus pada layar laptopnya. 

"Dan, tadi di bawah aku lihat istri kamu. Memangnya istri kamu kerja di .... "

"Jangan ngaco kamu, Resty itu di rumah, lagi ngurusin Zara. Paling kalau pergi ke rumah ibunya doang." Ardan memotong ucapan Romi, teman kerjanya. 

"Aku serius, aku benar-benar lihat Resty ikut bawa makanan yang kantor kita pesan. Kalau kamu nggak percaya, ikut aku sekarang." Romi menarik tangan Ardan. Alhasil Ardan memilih untuk menurut, ia bangkit dan mengikuti langkah Romi. 

Setibanya di bawah, mata Ardan menangkap sosok wanita yang sangat ia kenal. Dan detik itu juga kemarahan Ardan memuncak saat mengetahui istrinya bekerja sebagai pengantar makanan yang biasanya bekerja di rumah makan catering. 

"Resty, kamu benar-benar memalukan, bisa-bisanya kamu bekerja seperti ini. Apa kurang uang yang setiap bulan aku berikan." Ardan menarik tangan Resty, hingga makanan yang ada di tangannya jatuh ke lantai. Seketika mereka terkejut dengan kejadian yang terjadi. 

Resty menoleh ke arah suaminya. "Untuk apa malu, karena pekerjaan yang aku kerjakan itu halal. Seharusnya kamu tanya pada dirimu sendiri, pak Ardan yang terhormat. Jika uang yang kamu berikan itu cukup untuk biaya hidup istri dan anakmu, maka istrimu tidak akan pernah melakukan pekerjaan ini."

Detik itu juga Ardan bungkam, malu itu yang ia rasakan, bagaimana tidak malu. Karena ucapan istrinya memang benar adanya, dan kini semua karyawan di kantor tahu jika bosnya telah menelantarkan istri serta anaknya. 




Jangan lupa tinggalkan jejak ya.