Membuat Ibu Mertua Jantungan
KETIKA ISTRI MENOLAK UANG BULANAN DARI SUAMINYA
Episode_4
Membuat Ibu Mertua Jantungan

JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN BINTANG LIMA LEBIH DULU. Happy Reading

Jlep, detik itu juga Mita melirik ke arah Ardan, ia cukup bingung dengan ucapan adik iparnya itu. Mungkinkah jika uang yang ia minta pada adiknya, adalah milik Resty, adik iparnya yang telah ia hina. 

***

Sementara itu, Ardan terlihat salah tingkah karena memang ia tidak jujur jika uang yang kakaknya butuhkan itu, ternyata hasil pinjaman pada Resty. Setelah itu Ardan berjalan menghampiri istrinya yang saat ini tengah berdiri di hadapan kakaknya. 

Ardan khawatir jika nanti istrinya itu akan mempermalukan kakaknya, seperti yang pernah Resty lakukan pada dirinya saat berada di kantor. Sementara itu, bisikan mulai terdengar dari tamu undangan yang datang, bahkan tatapan mereka juga terlihat aneh, seakan percaya dengan apa yang Resty katakan. 

"Resty kamu apa-apaan sih, kamu jangan buat malu keluargaku ya." Ardan menarik tangan istrinya dan membawanya untuk menjauh dari mereka. Suasana yang semakin panas membuat Resty semakin gencar untuk membuat mereka malu. 

"Aku pikir kalian sudah tidak punya malu, tapi ternyata masih ada urat malunya ya," ujar Resty dengan nada mengejek, Ardan yang mendengar itu kemarahannya semakin memuncak. Mita yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka seketika beranjak menghampiri adik serta adik iparnya itu. 

"Ardan, apa benar kalau uang yang kakak butuhkan itu .... "

"Benar, uang yang mas Ardan janjikan untuk, Kakak adalah uangku." Resty memotong ucapan kakak iparnya.

"Resty." Ardan membentak Resty, sampai putrinya yang sedang dalam gendongan terkejut mendengar suara ayahnya. 

"Kenapa, Mas. Kamu malu atau takut." Resty menatap mata elang suaminya. Sementara Ardan berusaha untuk menahan emosinya, karena ia sadar jika yang ada di hadapannya adalah istrinya. 

"Apa kamu masih ingat kejadian di mana aku harus kehilangan ayah gara-gara keegoisan yang anda miliki, Pak Ardan yang terhormat," ujar Resty. Sementara itu, Ardan terdiam, begitu juga dengan kakaknya serta yang lain. 

Flashback

"Mas kebetulan kamu sudah pulang, ada yang ingin aku sampaikan," ujar Resty seraya bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri suaminya yang baru saja pulang dari kantor. 

"Memangnya ada apa?" tanya Ardan seraya melepas dasinya yang melingkar di leher. Setelah itu, Ardan melipat lengan kemejanya, tak lupa ia membuka dua kancing kemejanya yang atas. 

"Aku mau pinjam uang untuk biaya operasi ayah, kata dokter hari ini juga ayah harus dioperasi," jawab Resty. Berharap suaminya itu mau meminjamkan uang. Karena Resty sudah tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, jika bukan pada suaminya sendiri. 

"Aku nggak ada uang, soalnya sudah dipinjam sama kak Rena," ujar Ardan. Mendengar itu Resty cukup terkejut, tetapi bukankah suaminya itu seorang bos. 

"Aku mohon, Mas. hanya kamu yang bisa bantu aku." Resty memohon agar suaminya mau membantunya. Namun justru Ardan hanya diam, lelaki itu seperti tidak mempunyai rasa kasihan, terlebih yang membutuhkan ayah mertuanya sendiri. 

"Resty kamu dengar apa nggak sih, aku nggak ada uang, kak Rena itu lebih membutuhkan," ujar Ardan, sebisa mungkin ia menahan amarahnya. 

"Kak Rena kan punya suami, Mas. Ya Allah, Mas hanya kamu yang bisa bantu aku, tolong pinjamkan .... "

"Resty! Kamu itu istri aku. Seharusnya kamu itu tahu tanpa harus aku menjelaskannya. Kak Rena lebih membutuhkan untuk biaya khitanan anaknya." Ardan memotong ucapan istrinya, mendengar itu Resty menggelengkan kepala tak percaya. 

Tiba-tiba saja ponsel Resty berdering, dengan segera ia mengangkatnya. Sedetik kemudian tangis Resty pecah saat mendengar kabar jika ayahnya meninggal. Jika saja suaminya mau meminta uang, mungkin hal buruk ini tidak akan terjadi. Resty pernah menyinggung perihal biaya operasi ayahnya, tetapi Ardan sama sekali tidak meresponnya, dan sekarang Resty menanyakan lagi berharap ada belas kasih dari suaminya. 

"Kenapa." Ardan menghampiri istrinya yang tiba-tiba menangis. 

"Ayah, ayah meninggal." Tubuh Resty hampir saja ambruk jika Ardan tidak langsung menahannya. Jujur, hati Ardan ikut merasa sedih saat mendengar kenyataan itu. 

"Mas tolong antar aku ke rumah sakit sekarang, aku ingin melihat ayah untuk yang terakhir kali." Restu mencoba untuk berdiri walaupun sesungguhnya tubuhnya bergetar hebat. 

"Enggak, kamu akan tetap di rumah. Ingat kamu itu sedang hamil besar." Ardan melarang istrinya untuk datang ke rumah sakit, mendengar itu Resty menatap suaminya. Ia tidak percaya jika lelaki yang menikahinya tega melarangnya bertemu dengan ayahnya untuk yang terakhir kali. 

"Astaghfirullah, Mas. Dia ayah aku, coba kalau kamu ada di posisi aku, apa yang akan kamu lakukan," ujar Resty yang mulai tersulut emosi. 

"Iya aku tahu, tapi sekarang aku suami kamu. Sebagai istri kamu harus menurut pada suami, mengerti. Jika nanti sampai terjadi sesuatu pada kandunganmu siapa yang akan tanggung jawab." Setelah mengatakan itu, Ardan keluar dari kamar dan mengunci istrinya di dalam. 

"Mas tolong buka pintunya, Mas." Resty menggedor pintu kamarnya, tetapi Ardan sama sekali tidak peduli dengan teriakan istrinya itu. 

Dor, seketika mereka tersadar dari lamunannya saat mendengar balon yang meletus. Detik itu juga Ardan teringat tentang kejadian itu, seketika wajahnya menjadi pucat. Ardan khawatir jika Resty akan mengusut penyebab ayahnya kecelakaan. 

"Sudah, sudah, ini masalah keluarga, jangan sampai orang lain tahu," ujar Hesti yang tidak ingin orang lain tahu tentang kebusukan mereka. Akan sangat berbahaya jika sampai orang lain mengetahuinya. 

"Ibu, takut." Resty menatap ibu mertuanya itu. "Ibu takut kalau orang lain tahu, jika ibu sering menagih biaya operasi caesar-ku dulu, serta yang aku ceritakan tadi."

"Resty." Ardan mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk melayangkan tamparannya saat mendengar putrinya menangis. 

"Terima kasih untuk semuanya, oya untuk uangnya aku bawa pulang lagi ya. Karena ternyata aku juga butuh, kalian kan orang kaya, jadi tidak butuh uang orang miskin sepertiku." Setelah mengatakan itu Resty beranjak meninggalkan keluarga tak berakhlaq itu. Rasanya seperti dalam neraka jika tetap berada di sana. 

"Resty tunggu." Ardan yang hendak mengejar istrinya seketika terhenti saat melihat ibunya jatuh pingsan. Suasana pun menjadi panik dan juga tidak tenang. Sementara itu Resty terus melangkahkan kakinya, tanpa memperpedulikan mereka. 




Jangan lupa tinggalkan jejak ya