Bujukan Ardan
KETIKA ISTRI MENOLAK UANG BULANAN DARI SUAMINYA
Episode_7
Bujukan Ardan

JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN BINTANG LIMA LEBIH DULU. Happy Reading

"Oh ya, satu lagi. Aku punya bukti perselingkuhan kamu dengan seorang pengusaha. Jika suami dan keluargamu tahu, reaksi mereka akan  seperti apa," ujarnya lagi. Detik itu juga mata Rena melotot, ia pikir Resty adalah wanita kampung yang polos. Tetapi justru yang diam seperti itu lebih berbahaya mematikan. 

***

"Jadi bagaimana, Pak?" tanya Resty, jika memang pak Reno tidak mau menerimanya juga tak masalah. Resty bisa mencari pekerjaan yang lain, toh saat ini jualan online yang ia jalankan masih lancar. 

"Kamu tidak perlu menerimanya, dia itu istri Ardan. Sangat mustahil jika kebutuhannya tidak dipenuhi, dia memang sedikit stres, kadang suka menjelek-jelekkan suaminya sendiri." Bukan Reno yang menjawab, melainkan Rena. Karena kesal ia sengaja mengompori Reno untuk tidak menerima Resty bekerja di restorannya itu. 

"Rena kamu yakin kalau .... "

"Baik jika, Bapak lebih percaya dengan dia tidak masalah. Kalau begitu saya permisi, Kak Rena aku mengalah bukan berarti kalah." Resty memotong ucapan pak Reno, setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari restoran tersebut. 

"Rena, kenapa aku merasa kalau yang Resty katakan itu memang benar. Seorang istri tidak akan menentang suaminya, jika suaminya benar-benar memberikan rasa nyaman dan bertanggung jawab," ungkap Reno, mendengar itu Rena bertambah panas. Ia tidak rela jika adik iparnya itu mendapatkan pekerjaan. 

"Terserah, udah aku bantuin bukannya berterima kasih." Setelah mengatakan itu Rena memutuskan untuk pergi. Sementara itu Reno masih terdiam dan berusaha untuk mencerna ucapan demi ucapan yang ia dengar. 

Waktu berjalan begitu cepat, pukul sebelas siang Resty memutuskan untuk pulang. Hari ini ia cukup lelah, bukan hanya tubuhnya tetapi juga pikirannya. Semenjak Resty dikeluarkan dari pekerjaan yang dulu, sekarang ia kesulitan untuk mendaftarkan diri. Karena semua itu ulah Ardan. 

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, kini Resty sudah tiba di rumah. Ia cukup terkejut saat melihat mobil suaminya sudah terparkir di halaman rumah. Bahkan terlihat Ardan sedang menimang Zara. Semenjak lahir baru pertama kali ini Resty melihat Ardan menggendong putrinya. 

"Sudah dapat aku duga, kalau mas Ardan pasti akan mencari kami ke sini," batin Resty, setelah itu ia melangkah menghampiri mereka. 

"Assalamu'alaikum." Resty mengucap salam, mendengar itu seketika Ardan menoleh. Lelaki itu tersenyum, seolah tidak ada masalah antara mereka.

"Wa'alaikumsalam, lihat sayang mama udah pulang." Ardan mencium pipi Zara setelah itu ia berjalan menghampiri istrinya. 

"Kamu sudah pulang, Nak." Rahayu berjalan menghampiri putrinya, yang baru saja mengambil jemuran yang kering. 

"Iya, Bu. Baru saja." Resty mencium punggung tangan ibunya. 

"Ibu ke dalam dulu ya." Rahayu melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Resty memutuskan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. 

"Kamu sudah lama, Mas?" tanya Resty. 

"Ya lumayan, kamu dari mana." Ardan balik bertanya. 

"Oh, aku habis dari rumah Lisa, temen sekolah aku dulu," jawab Resty, mendengar itu Ardan hanya mengangguk. 

"Resty, kedatangan aku ke sini untuk menjemput kalian," ujar Ardan tiba-tiba Resty yang mendengar itu seketika menoleh. Untuk apa Ardan mengajak mereka pulang, bukankah akan lebih nyaman jika Resty dan Zara tidak ada di rumah. 

"Maaf, Mas. Tapi aku tidak bisa, aku ingin tinggal di sini, selain itu aku juga ingin nemenin ibu," ungkap Resty. Rasanya ia tidak sudi lagi untuk kembali ke rumah suaminya. 

"Resty, ingat kita masih suami istri. Kalau alasan kamu karena ingin menemani ibu, kamu bisa mengajaknya ke rumah untuk tinggal bersama kita," sahut Ardan. Resty terkejut saat suaminya menyuruhnya untuk mengajak ibu tinggal bersama mereka. 

"Kenapa tiba-tiba mas Ardan berubah seperti ini, dan kenapa juga menyuruhku untuk mengajak ibu. Oh, atau ini hanya sebagian dari sandiwaranya, agar mereka dengan mudah menginjak-injak harga diri kami." Resty membatin, ia tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang Ardan katakan. 

"Aku nggak bisa, Mas." Resty menggeleng. 

"Ok, mungkin sekarang kamu menolak. Sekarang aku mau pulang dulu, besok aku ke sini lagi. Dan aku pastikan kamu akan bersedia untuk pulang ke rumah kita. Sayang papa pulang dulu ya, besok papa ke sini lagi." Ardan menciumi pipi putrinya yang chubby itu. 

"Aku pulang dulu, titip salam untuk ibu, assalamu'alaikum." Ardan berpamitan. 

"Iya, wa'alaikumsalam." Setelah berpamitan, Ardan bergegas pergi, sementara itu Resty mengajak putrinya masuk ke dalam rumah. 

"Ardan mana?" tanya Rahayu. 

"Sudah pulang, Bu." Rahayu mengangguk saat mendengar jawaban dari putrinya itu. 

"Itu apa, Bu." Tangan Resty menunjuk kresek putih yang tergeletak di atas meja. 

"Oh, itu susu sama pampers. Ardan yang bawa," jawab Rahayu, mendengar itu Resty semakin yakin jika suaminya memang sengaja melakukan itu. Berharap ia akan luluh dan bersedia ketika ke rumah. 

***

Hari telah berganti, semalam Ardan sengaja mengunap di rumah ibunya, dan pagi ini mereka sedang menikmati sarapan pagi. Hesti memaksa pulang ke rumah, karena merasa bosan berada di rumah sakit. Bukan itu saja, mereka juga sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Resty kembali lagi ke rumah Ardan. 

"Jadi kemarin Resty menolak untuk pulang ke rumah?" tanya Hesti. 

"Iya, Bu." Ardan mengangguk. 

"Ya sudah biarkan saja dia di sana, bertahan sampai kapan dia tanpa kamu," ujar Mita. 

"Kamu benar, atau kamu ceraikan saja dia. Dengan begitu kamu bisa dengan mudah untuk menikah dengan Serly," timpal Hesti. Mendengar itu Ardan mendongak. 

"Enggak bisa gitu dong, Bu. Kalau Ardan menceraikan Resty, sama saja rencana yang kita susun gagal," sahut Ardan. Ia tidak setuju jika harus menceraikan Resty begitu saja. 

"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Hesti. 

"Setelah ini Ardan akan ke sana," jawab Ardan, sementara mereka hanya mengangguk. Setelah itu mereka kembali melanjutkan sarapan pagi bersama. 

Waktu berjalan begitu cepat, pukul delapan pagi Ardan sudah sampai di rumah orang tua Resty. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki berkemeja putih itu beranjak turun, terlihat jika Resty sedang bermain dengan putrinya di teras. Menyadari suaminya datang, Resty mendongak. 

"Assalamu'alaikum." Ardan berjalan menghampiri istrinya, lalu menaruh paper bag berukuran sedang di atas meja. 

"Wa'alaikumsalam." Resty bangkit seraya menggendong putrinya. 

"Selamat pagi, Sayang. Papa kangen." Ardan mencium pipi Zara, lalu menggendongnya. Sementara Zara menepuk-nepuk pipi ayahnya, hal tersebut membuat Ardan tersenyum. 

"Anak papa udah wangi." Ardan menciumi pipi Zara. 

"Resty, bagaimana tentang ajakan aku kemarin?" tanya Ardan. Berharap istrinya bersedia untuk kembali ke rumah. 

"Maaf, Mas. Aku nggak bisa." Resty tetap menolak ajakan suaminya itu, jujur Ardan kecewa dengan jawaban istrinya. 

"Ok, kalau kamu tidak mau pulang ke rumah kita. Maka aku yang akan tinggal di sini, sampai kamu mau kembali ke rumah," ujar Ardan. Sedetik kemudian Resty terkejut, rupanya suaminya itu mempunyai segala cara untuk meluluhkan hatinya. 




Jangan lupa tinggalkan jejak ya. 

Wah, kira-kira rencana keluarga Ardan apa ya? Semoga saja Resty tetap kekeh untuk tidak kembali ke rumah.