Rewang 4
Rewang4
------------------------‐-‐------------------------
     Segarnya kuah soto benar-benar melenakan tenggorokanku. Kak Jasper tampak begitu hikmat mengunyah rendang daging yang diolahnya kemaren pagi.

     "Kerja kok makan aja, hidangan nggak ditutup ya laleran!"

     "Braakk," tutup hidangan diletakan dengan keras oleh Bu Delima.

     Entah sejak kapan dia berada di depan kami. Kak Jasper tersedak saking kagetnya. Baru saja aku ingin menjawab ucapannya yang menurutku tak pantas di ucapkan nya pada kami, bu Delima sudah berlalu menuju meja penyambut tamu.

     "Ini lagi dari tadi kok makan mulu, kadonya dibawa masuk ke kamar pengantin! Ayo bawa masuk!" Ku lihat dua remaja yang menjaga meja tersebut kaget dan buru-buru mengangkat kado-kado yang tak seberapa banyak itu masuk ke dalam rumah bu Delima.

      Bu Delima kembali bergerilya mengelilingi meja hidangan lain, dia tampak tertawa renyah saat berada di depan meja prasmanan yang dijaga oleh keluarganya. Sesekali dia menyapa ramah tamu-tamu yang masih duduk menikmati hidangan. Lalu dia kembali ke depan meja prasmanan di depanku dengan membawa tisu, lalu membersihkan pinggiran tempat prasmanan dari lelehan kuah dan sambal.

      "Ini jangan sampe belepotan, jorok kelihatannya, malu sama tamu, makan aja dari tadi, sampe nggak merhatiin kerjaan lagi!" ujarnya berceloteh membuat geramku tak tertahan lagi.

     "Heh Bu... sopan sedikit ya jadi orang, saya bukan pembantunya sampean ya! Syukur saya mau rewang, itu mulut kok asal jeplak aja ya!" Ku tunjuk mukanya dengan emosi.

     Semua yang hadir tak jauh dari kami menoleh heran. Bu Delima terdiam tak menyangka aku akan membentaknya sekeras itu. Aku tahu Bu Delima masih belum sadar dengan sikapnya, dia diam karena dia malu. Kadung emosi ku lanjutkan saja melampiaskan semua kesal hati ini.

     "Sampean kira saya suka rewang di sini, di tolongin kok mencak-mencak ngelunjak, emang kamu bayar berapa saya dan ibu-ibu komplek sini hah...seenaknya aja main bentak-bentak! Jaga sendiri nih hidangan! Ayo kak kita pulang... ayo ibu-ibu kita pulang!" Ku tarik tangan kak Jasper, ku sepak meja prasmanan hingga bergoyang dan membuat minuman gelas yang tertata rapi tumpah.

     Sengaja ku senggol  bahu Bu Delima saat lewat di depannya. Beberapa tamu melihat dengan heran.

      "Jangan heran ya Bapak Ibu, kami tetangga yang rewang udah dari kemaren emosi sama dia... tuan rumah koyo demit, amit-amit minta tolong kok mulutnya jahat banget, kasar dan pelit!" Ujarku sambil menunjuk muka bu Delima.

     Sengaja ku jelaskan kembali pada setiap mata yang memandang heran padaku. Beberapa ibu-ibu memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan, selepas itu mereka semua ikut pulang. Mereka juga lelah, letih dan merasa sakit hati tidak dihargai oleh Bu Delima. Aku menyesal telah meminta mereka untuk balik lagi ke pesta Bu Delima, kalau tahu begini tak akan ku telpon kak Jasper, Cempaka dan ibu-ibu lainnya.

     Tidak hanya ibu-ibu yang sakit hati oleh perbuatan bu Delima, ternyata bapak-bapak juga banyak yang tersinggung dengan sikapnya. Sesampainya aku di rumah, suami langsung bercerita kalau mereka para bapak-bapak hanya setor muka saja sudah tidak mau kembali lagi ke pesta tersebut. Akhirnya aku bersantai ria di rumah bersama suami dan anak sampai senja menjelma dengan indahnya.

     Suara orgen tunggal yang terdengar begitu semarak tak jua mampu menyembunyikan kekacauan di hajatan bu Delima.
Aku sengaja duduk santai di teras rumah, sambil menikmati secangkir kopi dan singkong goreng. Ku lihat di teras rumah Cempaka yang tak jauh dari rumahku, berkerumun ibu-ibu komplek akik sesekali terdengar cekikikan tawa mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, mungkin kejadian tadi siang enggan saja hatiku untuk menghampiri. 

      Musik tiba-tiba berhenti, hening seketika yang terdengar hanya celotehan ramai ibu-ibu komplek di depan rumah Cempaka. Aku melirik arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangan suami, pukul 19.30 WIB. Mendadak sunyi suara ibu-ibu yang riuh dengan tawanya pun tak terdengar lagi. Penasaran aku mengalihkan pandangan ke arah rumah Cempaka. 

      "Mas, adik ke rumah Cempaka bentar ya? Penasaran kok mendadak hening...," aku pamit pada suami seraya buru-buru ke rumah Cempaka.

      "Ada apa sih kok mendadak sunyi...kayak mengheningkan cipta aja?" Tanyaku heran.

     "Nggak tahu itu kenapa, tiba-tiba musiknya berhenti. Padahal baru aja mulai selepas rehat shalat isya tadi," jawab Cempaka seraya menunjuk rumah Bu Delima yang berada di ujung gang.

     "Ayo kita lihat ke sana!" Ajak kak Jasper penasaran.

     "Ogah ah...kamu aja sana, ntat dikira minta makan malem," jawab ibu-ibu komplek bersamaan.
 
     Kami tertawa mendengarnya, beberapa orang malah memperolok kak Jasper dengan gaya bahasa bu Delima. Berkumpul seperti ini memang sudah biasa bagi kami, biasanya Bu Delima juga ikut kumpul-kumpul seperti ini. Rumah Cempaka memang selalu di jadikan tempat berkumpul dikarenakan Cempaka memiliki warung kecil di depan rumahnya.
 
      Sampai jam 9 malam musik orgen tunggal yang memeriahkan hajatan bu Delima tidak dimainkan kembali. Kami sibuk dengan rumpian kami sampai tak sengaja Cempaka iseng bertanya pada tamu yang lewat di depan kami.

     "Kok sepi Bu, mantennya masih bersanding apa tidak?" 

     "Sudah bubar bu semuanya pada ke rumah sakit," jawab tamu tersebut.

     "Lha... siapa yang sakit?" Tanya kami hampir bersamaan.

     "Kalau udah bubar kenapa ibu baru pulang?" Tanyaku heran.

     "Nggak tahu siapa yang sakit, entah mantennya, entah bapaknya, entah ibunya... saya tadi dimintai bantu-bantu, kasian juga  nggak ada yang bantu, mari Bu...," Tamu tersebut menjawab seraya pamit berlalu dari hadapan kami.

     Kami saling berpandangan, heran bercampur penasaran. Kok bisa tamu yang hadir di sana tidak tahu siapa yang sakit. Kami sepakat melihat dan mencari tahu langsung ke hajatan bu Delima.

     Hajatan itu sudah sunyi, tidak ada tamu ataupun pengantin yang bersanding. Biasanya jam 9 malam pengantin masih bersanding untuk acara potong kue. Yang ada hanya pemain orgen tunggal yang tampak sibuk membereskan pekakas musiknya. 

     "Kok pada bubar ya mas?" Tanyaku penasaran, kulihat kursi-kursi seperti tak beraturan bahkan ada yang terbalik di sana sini.