Rewang 1
     REWANG
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

      Pagi-pagi sekali aku dan beberapa tetangga lainnya sudah berada di rumah Bu Delima. Beberapa hari kedepan kami memang akan disibukkan oleh adukan dodol, rendang dan beberapa sajian menu lainnya. Bu Delima mengadakan pesta besar-besaran, beliau menikahkan Bacan putra pertamanya. Dan dia meminta kami para tetangganya untuk rewang di rumahnya.

      Dari jam 6 pagi aku membantu segala sesuatu yang bisa aku kerjakan, karena terlalu pagi aku belum sempat sarapan. Tiba-tiba kerongkonganku terasa seret dan haus sekali. Kucoba mencari minuman ataupun kudapan yang biasa disediakan tuan rumah buat para tetangga yang rewang. 

      Setelah beberapa menit mencari apa yang bisa menghilangkan dahagaku, akhirnya aku menemukan air minum kemasan dan kue di dalam kotak tidak jauh dari tumpukan beras.

     Bergegas aku ke sana, kotak yang paling atas sudah terbuka namun isinya masih utuh. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengambil kotak tersebut dan langsung menyantap isinya untuk mengganjal rasa lapar di kampung tengah.

      "Eh kamu kok ngambil makanan di kotak itu!"

     Jlebb... Aku hampir tersedak, Bu Delima melotot ke arahku. Semua mata beralih pandang ke arahku. Malu, tentu saja aku malu, haus ditenggorokanku mendadak hilang, seketika perutku menjadi kenyang.

     "Maaf Bu tenggorokan saya seret banget,  nyari air putih nggak nemu, minta satu ya Bu, pedih ulu hati saya Bu tadi buru-buru ke sini nggak sempat sarapan," kadung malu akupun berujar memberi alasan.
 
    "Lha mau rewang kok nggak sarapan dulu di rumah!" ujar Bu Delima dengan rona keheranan.

      Aku diam saja, pura-pura tidak mendengar kulanjutkan pekerjaanku. Aku lupa kalau aku  sedang tidak berada di kampung , dimana setiap tetangga yang datang rewang, makanan dan minuman pasti sudah tersaji beraneka ragam. Jadi sebelum bekerja, para perewang makan dulu baru bekerja. 

      "By pulang dulu sana, kamu sarapan dulu," ujar Kak Jasper membubarkan lamunanku.

      "Iya Ruby, biar aku saja yang mengaduk rendangnya, kerjaan kita masih banyak lho ini baru jam 12 nunggu makan siang nanti kamu malah pingsan kelaparan," ledek Cempaka tetangga sebelah rumahku.

      "Pulang juga tidak ada yang bisa ku makan, tadi kupikir akan disediakan sarapan atau minimal ada kudapan dan air minumlah untuk para rewang, kalau di kampungku seperti itu, tidak seperti di sini. Dari jam 6 pagi sampe jam 11 ini belum ada kue keluar untuk cemilan kita hanya seceret teh tawar aja," balasku panjang lebar.
      
     Biasanya sebelum rewang, aku tidak perlu repot-repot lagi membuat sarapan dan makan siang , bahkan makan malam pun aku tidak perlu masak. Semua akan di sediakan oleh pemilik hajatan, mereka akan mengantar makanan sebanyak jumlah keluarga yang aku tinggalkan di rumah.

     Menghabiskan waktu dan tenaga dari pagi sampai malam di tempat hajatan tidak menelantarkan anak dan suami dengan hantaran makanan dari yang punya hajatan. Tapi itu tradisi di kampungku bukan di sini, komplek akik yang ku tempati baru 2 bulan ini.

      Meski sedikit kesal, aku tetap melanjutkan pekerjaan dengan sesekali bercanda dengan sesama perewang lainnya, tidak berapa lama seorang bapak-bapak yang rewang membuat pentas menghampiriku.

     "Mbak Ruby minta kopi ya sama kue untuk yang pasang tenda." Aku mengangguk kemudian masuk  menyampaikan pada Bu Delima.

      "Bu, bapak-bapak minta kopi sama kue katanya untuk yang masang tenda," ujarku pada Bu Delima yang lagi asyik ngobrol dengan keluarganya di ruang tamu.

      "Udah berapa kali minta kopi, tadi kan sudah dibuatkan Jasper 1 teko gede kok minta lagi?" Bu Delima berdiri menghampiriku.
  
      "Jangan minta sama saya, cari saja di dapur! Semua sudah saya pasrahin sama kalian yang rewang...," ujarnya ketus seraya menepiskan tangannya memberi isyarat agar aku kembali ke dapur.

      Dari pada malu 2 kali, kuputuskan untuk buru-buru kembali ke dapur tepatnya tenda masak yang berada terpisah dari rumah. Kulanjutkan pekerjaanku, kali ini aku menggoreng ayam untuk dimasak semur sebagai sajian di hari H besok.
     
     Karena perutku terasa begitu lapar, iseng kuambil sepotong paha ayam yang dagingnya sudah tidak utuh. Kupikir tidak mengapa aku menjambal untuk mengganjal kampung tengah yang sudah protes dari tadi.

     Belum selesai aku menghabiskan  ayam goreng tersebut, datang Bu Delima membawa kardus beralaskan koran. Dengan sigap dia memindahkan ayam-ayam yang sudah digoreng ke dalam kardus dan tanpa basa basi membawanya masuk ke dalam rumah. 

     Suara adzan pertanda waktu sholat zuhur telah tiba, membujukku untuk pulang. Pedih di bagian ulu hati semakin terasa menusuk-nusuk. 

      "Yuk kita  pulang dulu sholat dan makan, habis itu kemari lagi menyelesaikan pekerjaan kita," ajak Kak Jasper membuatku tercengang.