Rewang 3

     Satu persatu tetangga yang rewang pamit pulang dengan alasan mandi dan ganti baju. Tinggallah aku dan anggota keluarga Bu Delima. Dalam rapat panitia minggu lalu aku ditunjuk sebagai anggota pagar ayu atau penjaga hidangan, bersama kak Jasper, Cempaka dan 7 orang tetangga lainnya. 

     Sekarang jam menunjukan pukul 11 lewat 15, tamu sudah mulai berdatangan. Tetapi teman-teman penjaga hidangan belum juga nampak batang hidungnya. Bu Delima mondar-mandir dengan gelisah, wajahnya tampak cemas sekali. Satu persatu tamu mulai berdatangan. Tak tega dengan suasana ini aku merendahkan egoku dengan kembali membantu menjaga hidangan bersama beberapa keluarga Bu Delima.

"Aduh yang rewang kok nggak bertanggung jawab gini sih Tante, kita kan tamu kok malah kita ikutan jaga  hidangan," kudengar salah satu keluarga Bu Delima berujar dengan kesal pada Bu Delima. 

"Iya kasian bibi bolak balik turun panggung nyambut tamu, kok seperti tidak ada panitianya padahal pesta pernikahan bukan wirid," balas yang di sebelahnya.
     
     Pias sendu menerpa wajah Bu Delima, aku yang selama ini mengenalnya sebagai sosok yang dituakan merasa iba melihatnya. Ku telpon Kak Jasper dan Cempaka agar segera kembali. Jika membantu sendirian rasanya aku tak mampu, namun untuk pulang tentu saja aku tak tega. Aku masih punya perasaan, toh tidak setiap hari juga membantu Bu Delima. Nanti kalau sudah berlalu ini akan menjadi kenangan yang lucu dan menggemaskan untuk di ceritakan kembali.

      Ini adalah pesta pertama yang diadakan Bu Delima. Sebelum hajatan, kami mengenal Bu Delima sebagai sosok yang baik dan ramah. Sungguh kami tidak menyangka kalau prilakunya berubah 37 derajat dari yang selama ini kami kenal. Di komplek Akik ini Bu Delima bisa dikatakan yang lebih tua. Sehingga kami semua menghormati Bu Delima sebagai sosok yang dituakan.

"Ruby... sini! Yuk makan barengan kita," Kak Jasper yang baru datang melambaikan tangan setengah berteriak memanggilku dari arah meja soto.

     Kulirik arloji yang melingkar di tanganku, tak terasa sudah hampir jam 2 aku berjalan pelan menghampiri Kak Jasper, sebenarnya aku masih kenyang karna sudah makan banyak di rumah. Melihat soto terhidang dengan aroma yang begitu seger, aku pun memilih makan soto bersama kak Jasper.

"Mumpung sepi kita makan dulu, kamu dah shalat By," tanya Kak Jasper sambil mengunyah makanannya.

"Sudah," jawabku singkat.

"Duduk disana aja yuk, bisa sekalian makan nasi dan jaga-jaga kalau ada tamu," Kak Jasper menunjuk meja prasmanan yang tidak berpenunggu.

     Ada dua meja prasmanan yang menyajikan nasi dan lauk pauk, 1 meja soto dan satunya lagi meja aneka kue dan buah. 1 Meja prasmanan, meja soto dan aneka buah dijaga oleh keluarga Bu Delima. Sedangkan meja prasmanan yang satunya lagi tidak ada yang menjaga.  Duduk lah kami berdua kak Jasper dibelakang meja tersebut.

"Seger, enak banget sotonya siapa yang masak Kak?" tanyaku .

"Ya sama-sama kemaren, Bu Naning yang ngeresepi," jawab Kak Jasper seraya mengambil nasi dan lauk di meja prasmanan yang berada di depan kami.

     Plok...plok...plok... 
     Tak sengaja aku melihat Bu Delima bertepuk tangan dari pelaminan, dia memberi kode pada kami berdua. Saat beradu pandang denganku, tangannya menunjuk-nunjuk ke arah kami berdua. Tak ingin ambil pusing, ku alihkan pandanganku pada biduanita yang lagi asyik bergoyang di pentas tak jauh dari kedua mempelai bersanding. 

"Kenapa tu Bu Delima manggil-manggil kita?" Kak Jasper sedikit panik.

"Bodo amat," kulanjutkan saja menikmati soto tanpa peduli dengan teriakan Bu Delima yang kalah kenceng sama suara orgen.