Rewang 7 Pov Delima

Rewang 8
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


    Aku meluruskan pinggang dengan lega, sepulang menjenguk bu Delima entah mengapa terasa lelah badan ini.

    "Bu... sudah tidur?" Tanya Mas Joko suamiku.

    "Belum mas, baru rebahan aja," jawabku seraya bangkit dan duduk di sisi ranjang.

    "Sudah dapat kabar Bu?" Tanya mas Joko.

     "Kabar apa Mas? Ah jangan bikin Ibu penasaran," desakku.

     "Pak Jatmiko meninggal dunia Bu," jawab Mas Joko datar seraya duduk di sebelahku.
    "Innalillahiwainnailaihirojiun...kapan Mas? Ibu baru aja pulang dari rumah mereka lho," tanyaku heran.

     "Baru aja pak RT mengabari mas, pak RT datang ke rumah-rumah katanya kalau diumumkan di masjid takut membahayakan kondisi bu Delima," cerita mas Joko.

    "Ya Allah...jadi sampai sekarang dia tak tahu suaminya meninggal mas?"

    "Entahlah Dik... Mas ke sana dulu ya," pamit mas Joko seraya mengenakan jaket dan peci.

    "Ikutlah...," aku bergegas bangkit dan bersiap-siap pergi ta'ziah ke rumah Bu Delima.

    Dengan perasaan yang kacau balau, aku melangkah beriringan
dengan mas Joko. Sesampainya di halaman rumah Bu Delima tampak beberapa bapak-bapak menggelar karpet dan memasang tenda.

     Ibu-ibunya pun sudah ramai membantu para bapak. Ku lihat kak Jasper dan Cempaka sudah ada bersama ibu-ibu yang lain.

    "Mendadak aja ya?" Tanyaku setelah bergabung dengan mereka.

    "Pas kita pulang mereka dapat telpon dari rumah sakit," jawab Cempaka.

    "Kenapa berdiri di sini? kok nggak masuk?" Tanyaku dengan nada sedikit meledek.

    "Hust... Kamu ini, orang lagi berduka," sergah kak Jasper.

    "Iya By... Kasian Bu Delima dia belum tahu itu," bisik Cempaka.

    Aku melongok ke arah pintu, mengintip ke dalam rumah. Tampak dari jauh bu Delima terbaring lemah. Sepertinya dia tertidur, sementara keluarganya di ruangan yang berbeda menenangkan Bacan yang tersedu menangisi kepergian ayahnya.

    "Sebentar lagi jenazah akan tiba," ujar pak RT memberi kabar.

    Tampak Bacan dan istrinya beranjak ke luar rumah bersama keluarga lainnya.

    Ninu...ninuu...ninuuu...

    Suara ambulance mengaung keras menyayat hati. Tiba-tiba sedih menyeruak dalam hatiku. Terbayang wajah pak Jatmiko yang selama ini ku kenal sebagai sosok bapak yang berwibawa dan baik.

    Bacan berhambur mengejar ambulance, dia berteriak histeris memeluk jenazah ayahnya yang terbujur kaku dalam ambulance. Beberapa orang menenangkan Bacan agar bisa membawa jenazah turun dari ambulance.

    Kami yang hadir ikut menangis, sedih mendengar ratapan haru Bacan.

    "Kenapa begitu cepat Bapak meninggalkan kami, ya Allah Pak... jangan tinggalkan Bacan sama Ibu Pak...," tangisnya pilu.