Hobi memahami diri (6)

Sebagai seorang introvert saya ngga bisa dengan bebas bercerita pada orang lain, maka dari itu saya menulis untuk bercerita. Saya menulis apa aja, entah puisi, diary, blog, bahkan cerita bersambung, semuanya tentang apa yang saya rasakan yang nggak bisa saya ungkapkan secara lisan.

Sering kali saat benar-benar merasa jatuh dan ingin banget menyerah, saya mencoba untuk bicara pada diri saya sendiri melalui tulisan.

"Aku tahu betapa lelahnya menjadi dirimu, kamu harus bangkit, melepas masa lalumu, dan berjuang untuk sembuh dari semua luka yang terus bertumbuh. Berjuang untuk mengubah diri dari sosok yang tidak pernah kamu ingini. Aku tahu sulit rasanya menjadi dirimu, tapi kamu tahu? Kamu hebat, sepahit, semenyakitkan apapun masa lalumu, dan semua hal yang kini kamu hadapi, kamu tetap bisa untuk terus bertahan. Walaupun berulang kali kamu ingin menyerah, tapi kamu masih terus bertahan, dan masih ada sampai saat ini. Terima kasih sudah berjuang untuk kita. Saat dunia terasa kejam menghimpitmu, menangislah. Saat semua orang menyakitimu, bertahanlah, karena siapa lagi yang akan menguatkanmu selain dirimu sendiri. Terima kasih untuk tetap ada, dan terus berjuang untuk bisa menyayangi dirimu. Setelah ini ayo kita sama-sama pergi, meninggalkan semuanya di belakang, dan memulai perjalanan yang baru. Setelah ini, ayo kita sama-sama pergi dan membahagiakan dirimu sendiri”.

Menulis seperti itu membantu saya untuk bersikap baik sama diri dan perasaan saya sendiri, karena  satu-satunya yang akan selalu ada buat saya ya cuma diri saya sendiri. Walau saya memang masih belum bisa sepenuhnya mencintai dan menyayangi diri saya sendiri, bahkan lebih sering menyakiti diri sendiri, tapi setidaknya ada masa di mana saya bisa menolong diri saya sendiri. Mungkin ini yang dinamakan dengan memperlakukan diri seperti seseorang yang ingin di tolong, dijelasin di salah satu videonya Satu Persen.

Sepertinya bukan hanya saya yang mengalami hal ini, banyak teman-teman di luar sana bahkan teman-teman saya sekalipun mengalami hal ini, merasa nggak berharga dan nggak ada artinya.

Overthinking tentang penyesalan, tentang kehidupan di masa depan, apakah saya bisa menjadi orang yang sukses? Apakah saya nanti bisa hidup bahagia dan berkecukupan? Untuk apa sih sebenarnya saya hidup? Kenapa hidup saya gini-gini aja? Berjuta-juta pertanyaan yang ternyata jawabannya ada pada diri sendiri, tapi karena belum bisa berdamai dengan diri sendiri, maka semua pertanyaan itu hanya akan tetap berakhir dengan tanda tanya tanpa jawaban.