Sersan Kusuma
Anindyaswari. 

Pertama kali bertemu, ketika aku diminta menggantikan Anggara, teman satu leting melatih paskibra di tempat ia mengajar. 

Dia sendiri saat itu sedang memberikan bimbingan untuk siswa yang akan mengikuti olimpiade Sains mata pelajaran IPA di sekolahnya. 

Dia memukau dengan segala kesederhaannya saat melintas di depanku, tersenyum sambil sedikit membungkukkan badan. Hatiku begitu saja berdebar.

Senyumnya, entah bagaimana cara menggambarkannya, menyejukkan sekaligus menggemaskan. Pipinya putih, terlihat halus dan kenyal bak squishy. Ingin sekali kuremas-remas gemas hingga putihnya akan memerah. Memandang wajahnya bagaikan candu. Ingin lagi, lagi, dan lagi. 

Aku, Kusuma. Seorang prajurit berpangkat sersan kepala di salah satu batalyon infanteri Pontianak. Telah terpikat pada seorang Anindyaswari sejak pandangan pertama.

Setahun ini, aku sangat merindukan sesosok hawa untuk menemani. Bermanja ketika malam. Berkeluh kesah di saat siang. Satu tahun memang belum lama, tetapi sebagai laki-laki aku tidak munafik bahwa menahan hasrat rindu ini teramat berat. Ditambah kerasnya suasana di tempat kerja membuat rindu semakin menggebu. Rindu pada kelembutan seorang wanita yang menyejukkan mata dan hati. Setia menemani dalam berbagai kondisi.

Pada Anindyaswari, sepertinya kerinduan ini telah tertambat.

Kucari cara agar dapat terus melihatnya. Beberapa kali ikut Anggara ke sekolah meskipun tidak untuk turut melatih. Tentu saja sekedar ingin melihatnya.

“Bosan saja, tidak ada kegiatan,” ucapku memberi alasan. 

Hingga akhirnya, aku mendapatkan informasi bahwa gadis itu juga memberikan les privat. Maka kuatur agar dia mau membimbing Nadin. Tentu saja tanpa menunjukkan aku sedang mencari. Biar dia yang datang. Kusebar informasi melalui Anggara, kujanjikan honor yang lebih besar.

Tidak hanya dia yang datang menawarkan minat. Sebelumnya, banyak sekali mahasiswa semester akhir yang menyatakan bersedia menjadi guru les Nadin. Berbagai alasan dan perjanjian yang memberatkan kuutarakan agar mereka mundur teratur.

“Berminat membimbing anak saya?” tanyaku ketika pertama kali dia datang. Hatiku bersorak girang.

Dia hanya tersenyum dan mengangguk. 

Senyumnya itu ... ingin sekali aku membalasnya. Akan tetapi, tidak. Tidak boleh terlalu menunjukkan suka apalagi cinta. Jaga image. Jangan murahan mengobral rasa. Laki-laki tidak boleh menjadi budak cinta, jika tidak ingin harga diri diinjak.

Wanita terkadang menjadi besar kepala karena merasa terlalu dicintai. Kemudian berlaku sesuka hati. Tidak peduli apakah itu akan menyakiti atau melawan kodrat sebagai istri. Aku sudah mengalaminya. Oleh karena itu jangan sampai hal yang sama berulang.

“Datang setiap hari! Saat sore!” titahku. Dia tersentak. 

“Setiap hari?” Matanya membulat. Aku mengangguk tegas. Sebab, aku memang tidak sedang ingin berkompromi. Melainkan sedang membuat cara agar dia datang ke rumah setiap hari. Tentu menyenangkan mendapati wajah squishy-nya setelah lelah sepulang bekerja.

Hah! Membayangkannya saja kala itu membuatku tersenyum sendiri.

“Tapi ....”

“Mulai besok, ya.” Aku memotong ucapannya. Ekspresi wajahnya bingung dan terlihat lucu sekali. Aku nyaris tertawa melihatnya.

“Terima kasih,” ucapku memutus obrolan. Aku sengaja tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk membantah. Sengaja kuciptakan suasana agar dia menurut pada semua ucapanku. 

Setelahnya aku pamit, meninggalkannya bersama ibu, kemudian berdiri menatapnya dari jauh. Puas memandang pipi squishy-nya yang begitu lembut dan menggemaskan, terlebih saat tertarik akibat sudut bibirnya melengkung.

Setiap sepulang bekerja, hati begitu bahagia mendapati dia bersama Nadin. Mereka tidak seperti sedang belajar melainkan bermain bersama. Aku bahkan membayangkan mereka sebagai ibu dan anak. 

Pada jam-jam mendekati pulang, irama jantung selalu tak menentu. Berdegup lebih cepat, dada berdebar-debar, relung hati bergetar. 

Tak jarang, bibir spontan tersenyum ketika ingat bahwa akan melihat Si Pipi Squishsy itu saat kupulang. Aku selalu tidak sabar untuk segera tiba di rumah. Meskipun akhirnya aku hanya berani berlalu sekilas di depannya, kemudian tersenyum memandang dari jauh.

“Suka?” Tiba-tiba Ibu telah berdiri di sampingku, tersenyum menangkap basah anaknya yang sedang menikmati keindahan seorang mahkluk Tuhan.

“Bagaimana menurut, Ibu?” Aku bertanya tanpa malu-malu.

“Apa mau Ibu lamarkan?” 

“Nanti saja.”

Satu tahun hanya berani menatap dari jauh. Pengecut? Ya. Jujur saja aku memang terlalu takut untuk ditolak. 

Aku lebih senang hidup dalam pengharapan dan tetap bisa menatapnya dari jauh daripada harus buru-buru mengatakannya kemudian ditinggal pergi.

Aku harus pastikan, saat meminta, dia harus bersedia. Aku tidak suka dan rasanya sudah lelah untuk berkompromi. 

Nurin! Begitu aku sangat mencintainya, memberikan banyak kelonggaran sebagai wujud kompromi, tetapi yang ada kelonggaran itu membuatnya jauh tak terikat. 

Anindyaswari. Dia memang Si Squishy yang lembut dan disukai siapa saja terlebih anak-anak. Nadin pun begitu menyukainya. Sedikit-sedikit, Bu Guru.

Seperti hari ini, Nadin begitu ingin dia yang datang menemani perayaan ulang tahunnya di sekolah, menggantikan ketidakhadiranku. Aku diperintahkan standby di batalyon menyambut kunjungan Pangdam.

Tidak kusangka, inilah jalan akhirnya aku dapat memilikinya. Tanpa kompromi. Tanpa bisa dia menolak. Tidak peduli dia mencintaiku atau tidak saat ini. Yang penting aku memilikinya dan dia harus setia.