Nurin
LOVE ME, SERSAN!


“Ayo!” Dia mendahului melangkah keluar. Langkah tegas seorang prajurit, bahkan melangkah biasa pun aku melihatnya seolah sedang gerak jalan. Sepertinya, latihan militer yang ia peroleh benar-benar sudah mendarah daging.

Nadin dan Ibu sudah bersiap, sedang menunggu di teras rumah. Dia sendiri sudah menstarter mobil dan mengarahkannya keluar halaman. Aku tiba di teras bertepatan dengan seorang wanita berusia 30-an memasuki pekarangan.

“Sudah mau berangkat, Bu?” tanya wanita itu pada Ibu. 

“Iya.” Ibu membalas dengan senyum hangat. Aura keibuan jelas terpancar dari wajahnya.

“Oh.” Dia mengangguk mengerti.

“Selamat ulang tahun, Nadin,” ucapnya pada gadis mungil yang saat itu berlari menyongsongku. Wanita itu tersenyum salah tingkah saat aku keluar. 

“Bu guru, pagi-pagi ada di sini?” tanyanya heran. 

Aku tersenyum menganggukkan kepala. Dia Bu Ramlah, ART yang bekerja paruh waktu di rumah ini.

“Bu Ramlah, Nak Anin ini Insya Allah sudah sah secara agama menjadi istri Kusuma.” Ibu yang menjelaskan.

“Oh, ya?” Mata perempuan itu membulat, “kapan?”

“Tadi malam.”

“Tadi malam? Kenapa mendadak?”

“Iya, eksekusinya mendadak. Tapi, sebenarnya Kusuma sudah lama mengutarakan niat untuk menikahinya Nak Anin ini. Hanya saja baru kesampaian sekarang dan waktunya tepat.”

“Oh ….”

Bu Ramlah ber-oh mengerti. Namun, berbeda denganku. Terang saja aku terkejut menyadari fakta yang baru disampaikan ibu. Pasalnya, laki-laki itu tidak pernah bicara denganku sebelumnya kecuali saat pertama aku datang menyatakan berminat membimbing Nadin. Saat dia pulang kerja dan aku masih di rumahnya, dia hanya melintas tanpa menyapa sepatah kata pun.

Spontan aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk di kursi stir. Tidak jauh dari kami berdiri. Netraku menatapnya penuh tanya, apakah benar yang barusan disampaikan ibu barusan? Laki-laki itu hanya mengulas senyum tipis, senyum pelit andalannya. Namun, kali ini ditambah adegan menggoda dengan menaikkan kedua alis.

Aku segera mengalihkan pandangan. Tidak kuat!

Sesaat kemudian dia memainkan klakson, memaksaku kembali menoleh. Ia kembali tersenyum sambil menggerakkan kepala, kode agar kami segera berangkat.

Aku duduk di depan, di sampingnya sembari memangku Nadin. Ia mengarahkan mobil, menuju taman kanak-kanak islami di mana Nadin bersekolah. Ibu duduk sendiri di belakang.

Dalam perjalanan, sesekali aku melirik dia yang fokus ke depan. Entah fokus atau pura-pura fokus. Ingin sebenarnya menanyainya tentang ucapan ibu, tapi aku tahan. Waktunya tidak tepat.

“Ulang tahunnya nanti, gimana, Mas?” Aku memecah kebisuan. Setahuku, yang namanya perayaan ulang tahun, pasti ada kue ulang dan makanan. Namun, tidak ada satu pun yang kami bawa.

“Gimana … bagaimana?” Dia balik bertanya sambil tetap fokus pada stir.

“Mmm, gak ada kue … atau makanan?” 

“Kue, gak ada. Gak ada tiup lilin juga. Gak boleh sama gurunya. Nanti ada doa bersama saja kata mereka, sebagai ungkapan syukur. Saya sudah pesan nasi kuning sama snack untuk bingkisan, nanti diantarkan langsung ke sana sama pihak catering,” jelasnya. Aku hanya mengangguk mengerti. Kemudian kembali diam, mencipta kebisuan dengannya. Malas untuk bicara jika ternyata dia hanya fokus pada stir.

Mobil memasuki pelataran parkir. Sekolah ini memiliki jenjang dari TK hingga SMA dan berada dalam satu kompleks. Sehingga suasana sangat ramai dan cukup padat meskipun waktu masih cukup pagi. 

Setelah memarkirkan kendaraan, kami segera keluar, bersiap menuju kelas Nadin. 

“Ibu bisa ‘kan, sama Anin?” tanyanya sambil menatap ibu ketika kami semua sudah turun dari mobil.

“Bisa, kamu segera berangkat saja. Jangan khawatir,” jawab ibu sambil tersenyum. Mencoba meyakinkan laki-laki itu. 

“Nadiiiiiiiiin ….” Sebuah suara terdengar dari jarak beberapa meter. Memotong pembicaraan di antara kami. Terlihat seorang perempuan berpakaian seragam coklat, setengah berlari mendekati. Kedua tangan direntangkan, seperti posisi ingin memeluk. 

“Bunda ….” Nadin yang semula berdiri di depanku, dengan kedua tangan memegang kedua tanganku, mengurai genggaman dan membalas uluran tangan perempuan itu. Perempuan yang ku taksir berumur mendekati 30 tahun. Terlihat sangat cantik dengan seragam yang pres membungkus tubuh. Menunjukkan bentuk tubuh yang langsing, singsat, terawat. Dia berjongkok di depan gadis mungil suamiku.

Bunda? Aku melirik laki-laki di sampingku. Dia bergeming, menatap lekat pada dua perempuan yang menyatu di dekat kami. Relung hatiku berdesir tidak nyaman. Seperti ada rasa sakit, tidak suka perempuan itu ada di sini, dan lelaki itu menatapnya lekat.

“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap perempuan berambut panjang itu sambil menyerahkan sebuah boneka berwarna pink kepada Nadin.

“Terima kasih, Bunda,” balas gadis kecil itu semringah menerima hadiah yang diberikan padanya. Aku melengos. Tidak suka. 

“Nadin suka?”

“Suka, Bunda.”

“Nadin minta hadiah apa lagi? Nanti Bunda belikan.” Dia berulang kali mencium dan memeluk gadis kecil itu. Terlihat Nadin menatap Mas Kusuma, yang ditatap hanya tersenyum penuh makna. Sesaat kemudian bocah lima tahun itu menggeleng.

“Ini saja, Bunda,” ucapnya tetap tersenyum.

“Mas.” Perempuan itu mengalihkan pandangan pada laki-laki di sampingku. Laki-laki itu tersenyum. Huh! Aku merutuk, kesal. Tidak suka perempuan itu menyapanya. Tidak suka dia memberikan senyuman manis pada perempuan itu. 

“Maaf, aku tidak bisa datang lagi nanti,” lanjutnya.

“Tidak apa. Ada Anin,” balas laki-laki itu sambil merangkul bahuku. Aku melirik sekilas. 

Deg!

Jantungku bagai kesetrum ketika ternyata dia juga sedang menatapku. Mata kami beradu. Segera kualihkan pandangan, menggigit bibir sambil mencoba menetralkan jantung yang tiba-tiba melompat-lompat.

“Anin?”

“Iya!”

Perempuan itu menatapku. Pun aku tahu dia tidak suka dengan keberadaanku di sini. 

“Oh, ya, sudah,” ucapnya pelan. Penuh kecewa dan amarah. Aku dapat menangkap aura itu. Kemudian dia segera berbalik. Melangkah sedikit tergesa menuju mobil Ayla merah menyala yang terparkir beberapa meter dari tempat kami berdiri.

Kusuma menarik pundakku. Memposisikan agar aku menghadap padanya. 

“Titip Nadin, ya,” ucapnya. Aku hanya membalas dengan mengangguk.

“Nanti saya gak bisa jemput. Kalian naik taksi online saja. Saya sampai sore.” Dia melepaskan rangkulannya. Merogoh saku untuk mengambil dompet. 

“Tadi pagi saya lupa.” Dia menyerahkan dua kartu ATM padaku. Aku hanya menatap dua benda itu dengan kening mengernyit.

“Mulai sekarang, kamu yang pegang dan atur. Ini gaji sama profit usaha. Untuk tunjangan remunerasi, saya yang pegang,” jelasnya. Aku meraih dua kartu itu agak ragu. 

“Di sana ada ATM.” Aku mengikuti arah telunjuknya pada salah satu sudut kompleks sekolah ini. 

“Catering kemarin hanya dibayar sebagian. Nanti kamu lunasi.” Aku menangguk mengerti. 

“Terima kasih,” ucapnya sembari tersenyum menepuk sebelah pundakku, kemudian berbalik untuk masuk mobil kembali.

“Mas,” panggilku menahan langkahnya.

“Hmm?”

“Nanti siang, sepulang dari sini, aku boleh ke sekolah?”

“Ngapain?”

“Mmm ….”

“Kamu masih mau ngajar?” tanyanya dengan pandangan tidak suka.

“Mmm, ‘kan tidak bisa menghilang begitu saja kalau mau mundur. Aku harus bicara dengan kepala sekolah,” sahutku.

“Besok saja, saya antar,” balasnya seraya masuk mobil dan berlalu meninggalkan kami. Tidak memberiku kesempatan lagi untuk bicara.

Setelah dia menjauh, aku segera menggandeng Nadin dan merapat kepada Ibu. 

“Kelasnya di mana, Bu?”

“Ayo, kita ke sana,” balasnya sambil menggamit tanganku. Kami berjalan beriringan. Sebenarnya sekolah ini tidak mengijinkan orang tua masuk ke kelas. Namun, karena ini spesial dan sudah meminta ijin, jadi kami diperbolehkan masuk.

“Mmm, Bu. Tadi, bundanya Nadin?” tanyaku ragu. Sebenarnya tidak ingin bertanya. Akan tetapi, dorongan dari rasa penasaran di hati memaksa.

“Iya. Namanya Nurin. PNS di kantor Pemda sini.”

“O … cantik ya, Bu.”

“Betul. Cantik. Sampai Kusuma tergila-gila,” sahutnya membuat hatiku kembali nyeri. Aku mencuri tatap perempuan lembut yang berjalan di sampingku itu. Ada luka di matanya.

Entah apa yang terjadi antara Nurin dengan suamiku di masa lalu sehingga mereka berpisah. Melihat rupa perempuan masa lalu laki-lakiku itu, ada rasa takut di hati. Apakah dia masih menyimpan rasa?

“Nurin, apa sudah menikah, Bu?” tanyaku hati-hati. Kembali rasa penasaran memaksaku untuk bertanya.

“Sudah, tapi sudah cerai lagi.”

Jadi sekarang perempuan itu single lagi?

Huft!

Aku menghela napas. Mencoba membuang sesak yang tiba-tiba hadir karena memikirkan hal ini. Berusaha untuk membuang jauh rasa tidak nyaman yang tiba-tiba hadir. Masa iya pernikahan baru satu malam harus sudah dibebani hal sangat tidak mengenakkan ini? 

Tanganku menggapai ponsel di dalam tas yang tiba-tiba bergetar.

[Terima kasih. Nanti pulang hati-hati]

Pesan darinya diikuti gift hati merah marun muda yang berdetak. Aku menarik kedua sudut bibir.