Sebutan Kedua
#Putri_Kedua_Kyai
#Nisrina
Part 1
Sebutan Kedua

Keluarga, adalah tempat kita mencari kehangatan. Memijat kaki kedua orang tua kita dan bercengkrama dengan saudara. Benar, kan? Namun, tidak bagiku. Sejak kecil, aku selalu melihat senyum kebahagiaan sebuah keluarga dari mata saudara-saudaraku tapi tidak denganku. Setiap kali mereka bahagia dapat bergelayut manja di kedua lengan Abah, tapi tidak denganku.

Seperti pagi ini. Kulihat Abah mencium kening Kak Saphira di ruang tamu ndalem. Sebuah hal yang belum sekalipun dilakukannya kepadaku.

"Assalamualaikum," ucapku di ambang pintu. Meskipun aku sudah tinggal di rumah ini selama lima belas tahun tapi rikuh selalu singgah di hatiku seperti seorang tamu yang tidak akan masuk sebelum dipersilahkan.

"Waalaikum salam warahmatullahi wa barakatuh." Suara Abah yang khas mampu membius siapa saja yang mendengar tapi tidak dengan telingaku.

"Kau sudah pulang, Nisrina?" sapanya ramah. Rambut putih di kepalanya terlihat mulai penuh mengalahkan rambut hitam yang tersisa.

"Sini, beri selamat Saphira. Dia diterima jadi dosen di perguruan tinggi favorit di Surabaya."

Kak Saphira menghadapku dengan enggan. Jika bukan karena Abah, kukira dia tidak akan mau menatapku langsung.

"Selamat ya, Kak." Kuulurkan tangan dan kami berjabat sebentar. Hanya sepersekian detik. Kerudungnya berkibar mengenai wajahku saat dia berbalik.

Matanya kemudian memandangku seolah berkata, 'hei, cepat masuk sana' dengan sangat halus. Cara Kak Saphira tidak suka denganku bukanlah dengan berkacak pinggang dan memakiku ala drama tetapi dia tak pernah menunjukkan kepada siapapun kalau aku adalah adiknya. Yah, kecuali orang-orang yang memang sudah tahu siapa aku di lingkungan persekawanannya. Itupun bukan karena dia yang memperkenalkan.

Merasa tak enak hati, kulangkahkan kakiku masuk ke dalam ndalem. Namun langkahku terhenti.

Abah memanggilku.

Kenapa begitu special? Bukankah sangat lazim jika seorang ayah memanggil putrinya?

Tidak denganku. Hanya ada dua alasan Abah memanggilku. Pertama, karena hanya ada aku di sana dan dia sudah sangat membutuhkan bantuan. Kedua, dan aku khawatir jika panggilan ini adalah panggilan yang kedua. Yaitu, Abah sedang akan memarahiku.

Demi rasa hormatku, aku menoleh ke arahnya dan duduk di bawahnya sementara Kak Saphira duduk bergelayut mesra di lengan Abah.

"Berapa usiamu?"

Sudah kuduga. Abah tak pernah tahu umurku. Padahal, setiap putra putrinya yang lain abah dengan hapal merunutnya di depan semua orang.

'Ah, putri Hanan seumuran dengan Ahmad, putraku. Tiga puluh tahun, kan sekarang.'

Kali lain. 'Oh ya, Syamsiyah putri Nyai Manaf. Sepantaran dengan Saphira putriku. Dua puluhan ya.'

Namun, tak pernah terucap hal seperti itu tentangku.

"Dua puluh lima, Bah."

"Oh, berarti sudah pantas menikah, ya?" Pernikahan.

Benar, pernikahan mungkin cara yang sangat halus dan baik untuk mengusirku pelan-pelan dari rumah ini.

"Abah, ih. Bagaimana sih. Pokoknya Saphira gak mau dilangkahi." Aku melirik wajah Saphira yang pura-pura cemberut. Tak tahan terlalu lama di sana bisa-bisa berubah drama maka aku pamit undur diri.

"Saya istirahat dulu, Bah. Capek."

Tetap saja, Abah tak mendengar pamitku. Dia sibuk menenangkan putri kesayangannya.

****

Gusar. Tiba-tiba perasaanku tak menentu. Pertanyaan sekaligus pertanyaan menggelitik abah tadi membuatku tergugu lama di dekat jendela. Ramai santri putra yang bermain bola di sekitar asrama membuatku merasa sedikit tenang. Jendela dalam kamar memang dibuat gelap. Meskipun tanpa tirai, kita tetap bisa melihat suasana luar dan tidak tembus pandang dari luar. Aku pun bersyukur, ditempatkannya diriku di kamar paling belakang dari ndalem Abah membuatku bisa melihat dan memandang anak-anak itu. Termasuk sosok paling besar diantara mereka. 

Mas Jamal. Aku ingat, dulu ... saat aku sering menangis di lorong panjang sekolah putri, Mas Jamal selalu sigap menghiburku di balik dinding. Dia mendongengkan tentang Yuyu Kangkang atau sosok lain dari Bawang Merah yang tak pernah disinggung orang lain.

Mas Jamal pula lah yang membuatku menolak pesona banyak lelaki semasa kuliah. Padahal mereka dengan sangat baik menawarkan berpuluh-puluh lipat persahabatan demi bisa menembus lorong hatiku. Salah satu yang membuat Kak Saphira uring-uringan adalah banyak orang yang lebih tertarik padaku daripada kepadanya.

Namun, semua yang selalu dipandang kedua kali adalah lawan yabg pertama kali.

Semua bermula dari masuknya Ibu ke dalam rumah tangga abah dan Bunyai Maryam. Dua puluh enam tahun yang lalu.

Bersambung ....

Tester tester uhuuyyy

Monggo dibaca dan share ya gaes ???

Beberapa cerbung on going saya yang lain bisa dilihat di sini ya ?