Emosi

Ting!

Ponsel Sonya berbunyi tanda ada pesan WA yang masuk. Cepat dia meraih gawai itu, ada harap di hatinya, Firza yang mengirim pesan, untuk meminta maaf barangkali atas pertengkaran semalam atau juga menyesal karena telah bekata keras. Memang bukan sepenuhnya salah Firza, tapi tidak ada salahnya kan kalau dia yang duluan meminta maaf?

Tapi harapan Sonya langsung pupus saat melihat nama yang muncul di layar ponselnya.

Sonya, bisa ke ruangan saya sebentar? Begitu sederet pesan yang Sonya baca. Jelas bukan dari Firza.

“Mati aku, Ren. Bu Leyla manggil ke ruangannya.”

“Wah, mau minta keputusan kamu, hari ini juga?”

Yes, minggu lalu aku minta waktu untuk berpikir. Dan sekarang saatnya untuk kasih tahu Bu Leyla keputusan yang aku ambil.”

“Jadi kamu nerima promosi itu kan, Nya? Sumpah deh aku gak rela kalau sampai Tere yang berangkat.” Reni memberi semangat. Dia bisa membaca keraguan di hati Sonya. "Mending buat aku aja, Nya, kalo kamu gak jadi berangkat. Ngarep dot com nih."

"Hahaha kalo bisa dioper sih dengan senang hati kukasih ke kamu."

"Iya, sayangnya aku gak masuk hitungan bos buat dapet promosi. So, kamu gak boleh mundur. Dah sana cepetan ke tempat Bu Leyla." 

“Duh, kalau masih bisa aku mau minta perpanjangan waktu lagi untuk berpikir.” Sonya berdiri, meraih tablet-nya dan bergegas melangkah.

Good luck ya, Nya…”

“Siip…”

 

Di depan ruangan Bu Leyla, sejenak Sonya berhenti untuk mengatur napasnya, baru kemudian mengetuk pintu.

“Duduk, Nya.” Bu Leyla langsung mengangkat wajahnya dari layar laptop begitu Sonya masuk.“Gimana kabar kamu?” tanyanya sambil tersenyum.

Bu Leyla punya karakter lembut tapi tegas. Senyumnya selalu terasa teduh. Seakan mampu mengatasi masalah kerja yang paling rumit sekalipun. 

Salah satu yang akan membuat Sonya kehilangan, bila menerima promosi dan pindah ke Singapura, adalah Bu Leyla sebagai bos yang oke banget dan Reni, sahabatnya yang ceriwis.

“Yah, begitu deh, Bu. Pusing.”

“Kamu ini dapat tawaran emas kok bukannya happy malah pusing…” tawa kecil Bu Leyla terdengar. Sesungguhnya dia mengerti sekali dilema yang dihadapi Sonya. Bertahun-tahun yang lalu Bu Leyla juga pernah berada dalam posisi Sonya. Sakit kepala mengatur waktu antara keluarga dan pekerjaan.

“Kalau promosinya tetap di Jakarta sih saya gak bakalan pusing, Bu. Atau kalau tawaran naik pangkat ini datang dua tahun yang lalu saat saya belum punya anak, pasti masalahnya jadi beda sekali.”

“Memangnya cuma anak yang kamu pikirkan?” tanya Bu Leyla dengan nada ringan. “Suami enggak?”

Sonya meringis miris. “Ah, kalau suami gak perlu terlalu dipikirkan, Bu. Sudah besar dan bisa mengurus diri sendiri. Masalah anak ini yang bikin berat.”

“Ish... gak boleh gitu dong, Nya. Suami sama anak seharusnya sama pentingnya. Dua-duanya harus dipikirkan.”

“Iya sih, tapi jadi gimana, Bu? Saya harus terima atau nolak promosi ini?”

“Loh kok malah tanya saya?” Bu Leyla tertawa lagi. Tapi lalu wajahnya jadi lebih serius. “Tapi kamu sudah mengambil keputusan kan? Big Boss sudah tanya-tanya terus.”

“Apa bisa saya minta waktu lagi, Bu?”

Wajah Bu Leyla begitu prihatin saat menggeleng. “Sayang sekali kelihatannya gak bisa, Nya. Mereka minta keputusan secepatnya. Gak bisa membiarkan posisi itu terlalu lama kosong. BTW kamu tahu kan siapa yang akan mendapat tawaran ini kalau kamu menolak?”

“Tere ya, Bu?”

Anggukan Bu Leyla menjawab pertanyaan Sonya.

Perlahan Sonya mengambil napas dan mengembuskannya perlahan. Dia terdiam dengan tangan menopang dagu.

“Kamu masih tetap ragu soal anak?”

Kali ini Sonya yang menangguk. “Sedikit, Bu.” Sebenarnya Sonya sudah tahu kemana hatinya condong.

“Tenang saja. Saya rasa kamu hanya berpisah sementara saja. Setelah mapan toh nanti kamu bisa mengajak anakmu ke sana.”

Bicara dengan Bu Leyla mampu mengikis keraguan di hati Sonya. “Baik, Bu. Saya putuskan menerima promosi ini.” 

Apa yang akan terjadi, terjadilah, tekad Sonya dalam hati. Dia sudah bekerja keras untuk mendapatkan peluang ini, dia harus menerimanya.

***

Hari itu sengaja Sonya pulang lebih sore. Dia ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya bersama Alea. Mumpung masih sempat, karena bulan depan dia resmi berkantor di Singapura.

“Mam dulu yuuukkkk…” bujuk Sonya pada Alea yang lagi senang melakukan gerakan tutup mulut. Dari tadi baru tiga suap makanan yang berhasil masuk ke mulutnya. Sekarang Alea bahkan menggunakan telapak tangannya untuk menutup mulutnya. Jadi makin sulit bagi Sonya untuk menyuapinya. 

"Eh, ada pesawat terbang nih mau masuk…  Ngeeng…" Sendok di tangan Sonya berputar-putar di sekitar kepala Alea. Mencari celah saat gadis kecil itu lengah, supaya bisa menyusup ke dalam mulutnya. 

Alea terkikik geli. Lalu dengan suka hati membuka mulutnya lebar-lebar. Hap, satu sendok makanan berhasil masuk. Sambil masih tersenyum, Alea mengunyah. Sonya bertepuk tangan senang. 

"Sonya? Tumben kamu sudah pulang?" 

Sonya menoleh dan melihat Firza berdiri di ambang pintu ruang makan. "Jangan sinis gitu deh. Aku sering juga pulang sore. Bukan cuma kali ini." Sonya menjawab tanpa melihat wajah Firza. Dia pura-pura sibuk bermain pesawat terbang dengan Alea. 

Desah kecewa Firza terdengar jelas di telinga Sonya. Sesungguhnya Firza sama sekali tidak bermaksud menyindir. Suasana hati mereka yang masih sama-sama tidak enak yang membuat serba salah.

"Sori, bukan begitu maksudku," katanya sambil membuka sepatu dan kaos kaki. "Aku cuma sedikit heran. Ada apa kamu pulang sore begini." 

"Aku ingin memanfaatkan waktu bersama Alea. Sebentar lagi aku pasti akan sangat merindukannya. 

Rahang Firza mengeras begitu dia mengerti arah kata-kata Sonya. "Jadi kamu ambil tawaran promosi itu?" 

Mata Firza menatap Sonya dengan tajam. Jari-jarinya tergenggam erat di sisi tubuhnya. Jelas dia sedang marah sekali.

“Kalau kamu pergi dari rumah ini, jangan harap bisa bertemu dengan Alea lagi!” ucapnya sangat ketus. Penuh dengan ancaman.

Wajah Sonya langsung pucat. Tidak menyangka Firza akan semarah itu. “Ngaco deh kamu, Za. Ngomong apa sih?! Alea anakku. Dia tumbuh dalam rahimku. Apa hakmu melarang aku menjumpai dia?” gemetar suara Sonya. Pertengkaran ini benar-benar serius. Sonya ngeri membayangkan terpaksa berpisah dengan Alea gara-gara Firza.

“Aku gak main-main, Nya. Ini masalah serius. Kamu sudah mengambil keputusan untuk berangkat ke luar negeri. Berarti Alea gak lagi jadi prioritas buat kamu. Biar aku yang membesarkan dia sendirian. Aku masih mampu.” Firza menggeleng pelan. Dia mundur dua langkah, menambah jarak dengan Sonya, seakan siap berpisah saat itu juga

Sebaliknya Sonya justru bergegas mendekat. Berusaha meredam emosi suaminya. Dia tidak mau Firza berbuat nekad.

“Firza, dengar dong. Aku memang akan berangkat, tapi akan aku usahakan setiap weekend kembali ke sini untuk mengurus Alea. Juga tanggal merah.”

“Hanya akhir minggu dan hari libur? Kamu pikir itu semua cukup buat Alea? Ingat Nya, Alea bukan boneka yang bisa kamu mainkan jika diinginkan saja dan diserahkan pada orang lain waktu kamu sibuk. Punya anak itu komitmen jangka panjang. Dia perlu kasih sayang dan perhatian setiap saat dari orangtuanya.”

“Aku juga gak pernah menganggap Alea boneka. Aku cuma minta pengertian dari kamu, supaya bisa membantuku membagi waktu dengan baik antara rumah dan keluarga. Toh yang aku lakukan selama ini untuk keluarga juga. Aku bekerja keras supaya bisa membeli rumah yang kita tinggali, mobil yang kita pakai-”

Wajah Firza makin suram mendengar kata-kata Sonya. Urusan gaji selalu jadi hal yang sensitif bagi Firza. “Aku gak suka kalau kamu mulai mengungkit-ungkit soal harta. Aku tahu gajiku gak besar tapi aku rasa cukup kalau gaya hidup kamu biasa-biasa aja. Gak sok mewah.”

Perbantahan mereka sudah melebar kemana-mana.

“Mewah apanya, Za. Memangnya salah kalau kau ingin tinggal di rumah yang bersih dan sehat? Salah kalau aku mau punya kendaraan yang nyaman untuk membawa Alea jalan-jalan?”

“Gak salah. Semua keinginan itu gak salah.  Kamu memang tidak pernah salah, Nya. Kamu selalu merasa benar. Gak pernah mau dikritik atau menerima saran. Sudahlah, aku capek.” Firza menyambar jaket dan kunci motornya. Dengan langkah lebar dia pergi keluar rumah.

“Za, kamu mau kemana? Jangan pergi! Kita belum selesai bicara!” Setengah berlari Sonya mengikuit langkah Firza hingga di carport di bagian depan rumahnya.

“Percuma juga bicara.” Jawab Firza ketus sambil memakai helm. “Bicara menurut kamu adalah didengarkan bukan mendengarkan. Dan aku sudah bosan jadi pendengar setiamu. Pikirkan kata-kataku. Kalau kamu pergi, jangan harap bisa bertemu lagi dengan Alea.”

Motor Firza berderum memekakkan telinga. Dia sengaja memainkan mesin untuk menyalurkan emosinya. Bibir Sonya sudah terbuka tapi terlambat untuk berkata-kata. Firza sudah melesat dengan motornya. Lalu menghilang di sudut jalan. Meninggalkan Sonya yang bersandar lemas di pilar rumahnya.

***

Firza memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Emosi sedang menguasai hati dan pikirannya. Dia tidak habis pikir dengan keputusan Sonya menerima pekerjaan di luar negeri. Okelah bila ingin mengejar karir, tapi bisa dilakukan di Jakarta kan? Begitu banyak peluang yang tersedia di sini. Tidak kalah juga dengan Singapura.

“Arrgghhh….! Teriakan Firza teredam helmnya yang tertutup. Karena pikirannya melayang, konsentrasinya lenyap sesaat. Nyaris saja dia menabrak seorang ibu yang sedang menyeberang jalan. Untuk rem motornya bekerja dengan baik, meski Firza harus setengah mati berusaha menyeimbangkan motornya yang oleng ke kanan dan kiri.

Setelah motor berhenti di pinggir jalan, Firza langsung membuka kaca helmnya. Sejenak memejamkan mata dan bersyukur dia dan ibu itu selamat tidak kurang satu apapun. Firza merinding memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.

Firza menghirup oksigen banyak-banyak. Memenuhi paru-parunya dengan udara segar supaya bisa berpikir lebih jernih. Firza memaksa dirinya untuk bersikap dan mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Kasihan Alea. Sebentar lagi dia akan kehilangan kasih sayang ibunya, jangan sampai Alea juga kehilangan ayahnya.

Firza merasakan getaran ponselnya. Cepat dia mengambil gawai itu dari dalam saku celana. Wajahnya jadi sedikit cerah saat melihat nama peneleponnya.

“Halo…”

“Za, bisa kita bicara sebentar? Penting nih…” suara lembut terdengar di seberang sambungan ponsel.

Tanpa ragu Firza menjawab. “Bisa. Kita ketemu dimana?”

Setelah membaca alamat resto yang dikirim wanita yang meneleponnya, Firza menutup telepon dan  kembali memacu motornya. Kali ini tidak terlalu cepat. Dia tidak ingin mengundang celaka.

***

Haii… silakan baca juga cerita yang lain ya…

Cinta Rahasia Suamiku

Suami Perebut Warisan

Pembalasan Isteri Setelah Dipenjara

Happy Reading…


Komentar

Login untuk melihat komentar!