Bab 2
"Siapa? Enggak, kok. Ya sudah, mandi sana cepat dan salat magrib sama Uwak di masjid. Oke?" 


"Oke, Bun." 


Wildan keluar kamar, sementara aku beranjak menuju jendela. Tampak mobil Mas Kai masih ada di sana. Apa ia begitu kekeuh ingin aku kembali? Tapi kenapa? Apa alasan sehingga ia mencari kami setelah sepuluh tahun berlalu? 

--


"Bang," ucapku sambil menghampirinya yang tengah menonton televisi. 


Bang Arman menoleh, lalu mematikan televisi yang tengah ia tonton acaranya itu. Aku duduk di sampingnya, memilin ujung jilbab yang sudah menemaniku selama delapan tahun ini. Usai bercerai dari Mas Kai, aku memutuskan untuk menutup auratku. 



"Kamu tadi sudah dengar omongn Kai, kan?" 


Aku mengangguk. 


"Lalu?" tanyanya. 


"Apanya, Bang?" 


"Kamu, mau kembali sama dia?"


"Ish, jangan bercanda. Aku tak mungkin melakukannya. Lagipula, aku sudah damai hidup begini. Bersama Abang dan juga Wildan. Tapi, aku tak mengapa jika nanti akhirnya harus berdua saja dengan anakku ketika Abang menikah." 


Bang Arman memang masih melajang. Entah apa alasannya, padahal umurnya kini sudah mendekati empat puluh tahun. Usia kami berjarak 7 tahun. Aku berumur tiga puluh dha, sementara Bang Arman tiga puluh sembilan. 


"Abang tak akan menikah, Rin. Cukup hidup sama kalian aja."


"Ish, jangan gitu lah, Bang. Nanti Ayah sedih." 


Kami memang hanya dua bersaudara, sementara Ayah dan Ibu sudah lebih dulu berpulang ke Rahmatullah. Itu sebabnya, aku hanya mempunyai Bang Arman seorang. 



"Abang tahu, kenapa Mas Kai datang lagi?"


"Katanya, dia masih mengharapkanmu dan tadi melamar untuk dijadikan istri kedua." 


"Astaghfirullah. Menjadi istri satu-satunya lagi pun aku tak mau. Apalagi jika harus menjadi istri kedua? Tapi, Abang tolak, kan?" 


"Tentu aja. Masih jelas terbayang pas kamu pulang dari rumah mertuamu setelah bebeeapa bulan tak pernah pulang. Kamu yang dulunya kembang desa, jadi kurus, dekil, bahkan jarimu penuh luka." 



Aku tersenyum kecut. Ya, begitulah keadaanku kala itu. Secara bahagia dalam rumah tangga, aku bahagia. Mas Kai selalu memperlakukanku dengan baik. Tapi tidak dengan keluarganya. 


"Iya, makasih ya, Bang, sudah membantuku tadi." 


"Sama-sama." 


Aku masuk ke dalam kamar, menatap wajah Wildan yang tidur dengan nyenyaknya. Tanpa sadar, air mata turun deras kala tangan ini mengusap lembut pipinya. 


Wildan, anak sekecil ini harus mendapat perlakuan tidak enak oleh tetangga maupun saudara. Tak jarang mereka selalu mengaitkan 'anak haram' jika Wildan melakukan sebuah kesalahan. Kadang aku hanya diam dan mengajaknya pergi, namun sesekali aku pun memarahi mereka. 


Siapa yang tahan jika terus menerus dihina? Dicaci maki? Bahkan, harus menahan sakit karena cemoohan orang? 


"Semoga dewasamu nanti jadi orang sukses, bijak, tegas, dan juga penyayang. Jadilah anak yang menyayangi bunda dan istrimu nanti, Nak." 


--

Pagi hari. 


Usai Wildan berangkat sekolah dan Bang Arman berangkat ke kios, aku melakukan pekerjaan rumah. Lingkungan rumahku memang sepi. Mereka keluar jika sore dan ada tukang sayur saja. Paling hanya anak-anak yang terlihat main bersama. 



"Sayuuur!" 


Kutaruh kemoceng di atas lemari, lalu bergegas ke luar dan menghampiri tukang sayur yang sudah dikerumuni oleh ibu-ibu lain. 



"Belanja apa, Mbak Rindu?" tanya Mang Sardi. 


"Ikan tongkol ada, Mang?" 


"Ada."


"Minta setengah kilo, tempe satu papan, sama  kangkung dua iket." 


Mang Sardi membungkus pesananku dengan cepat. 


"Jadi berapa?" 


"Dua puluh tiga ribu." 


Kuserahkan uang lima puluh ribu dan mengambil kembalian. Setelahnya aku berbalik ke rumah. Sudah menjadi tradisi, jika belanja aku tak pernah menyapa ibu-ibu lain. Begitupun dengan mereka padaku. Namun... 


"Kasihan, ya, masih muda udah jadi janda. Kenapa nggak nikah lagi saja?" 


"Hust, si Mamang. Siapa yang mau? Anaknya aja anak haram. Dia hamil setelah keluar dari rumah itu. Gak menutup kemungkinan dia bakal melakukan hal yang sama, kan?" 


Aku hanya mengelus dada saat mereka mengguncingku. Entah disengaja atau tidak, pasalnya aku bisa mendengar mereka. 


Saat hendak berbelok menuju rumah, sebuah mobil berhenti di halaman. Untuk sementara aku terpaku, hingga akhirnya Mas Kai keluar dari mobil...