1
"Lihat apa Dik?"

Wanita muda yang mengintip lewat jendela KUA sepasang pengantin di dalam sana, terkejut saat mendengar suara seseorang. Menggeleng, wanita itu menjauh dari orang tersebut. Ia berlari kencang dan menangis dalam diam sepanjang jalan.

Tidak dekat, wanita muda itu harus menempuh perjalanan sepuluh kilometer dengan berjalan kaki hingga tiba di  KUA desa Sukamarga, tempat di mana seorang lelaki sedang melangsungkan pernikahan.

Dia Nur Medina, gadis yang dikenal bisu di tempat tinggalnya.

"Sah!"

Akad tersebut telah usai, dan Medina tahu akan seperti apa masa depannya. Tidak bersuami tapi keperawanannya telah direnggut paksa oleh seorang lelaki.

Janji tinggallah janji karena Medina tidak akan tahu pada siapa ia akan mengadu.

"Aku akan menikahimu, tenang saja." begitu kata lelaki itu setelah mereguk nikmatnya mahkota Medina.

Sebulan setelah kejadian itu, laki-laki yang tak lain adalah anak kepala desa tempat Medina tinggal datang dan mengatakan jika ia akan menikah dengan salah satu gadis pilihan orang tuanya yang merupakan anak kepala dusun Sukamarga.

Lantas bagaimana dengan dirinya? Pada siapakah wanita itu menuntut? Medina sakit, terluka dan terpuruk. Adakah yang tahu? Apakah ia harus datang pada kepala desanya dengan selembar kertas yang menjelaskan jika anak orang nomor satu di desanya itu telah memperkosanya?

Tiba di rumah, Medina melihat neneknya terbaring lemah di atas kasur lusuh. Semua keluh yang ingin dikisahkan ditelan bulat-bulat oleh Medina.

Dilahirkan untuk ditinggalkan, bukankah sudah cukup pahit hidupnya? Seharusnya, orang tuanya tidak perlu repot-repot memberikan nama untuknya. 

Nur adalah cahaya. Yang dirasakan Medina adalah gelap.