6
Karena tidak enak, Medina pamit pada neneknya sebentar mengunjungi rumah bu Wira. Medina akan kembali ke rumah sakit sebelum adzan Maghrib. 

Hanya setengah jam waktu perjalanan, jika tidak macet. Karena Medina pergi setelah waktu Ashar, jadinya harus terjebak macet dan tiba di desanya setelah satu jam perjalanan.

Karena acara hajatan digelar besok, sore ini kediaman bu Wira diramaikan oleh tetangga dan sanak saudara. 

Bukan dari depan Medina masuk, melainkan dari belakang. Di sapa tetangganya, wanita itu tersenyum ramah. Berbaur dengan tetangganya, Medina mulai menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dengan bu Wira, Medina belum bertemu, nanti Medina akan mencarinya. Yang pasti Mediana tahu jika bu Wira pasti sedang sibuk.

"Nur, bawakan ini ke ruang tamu," titah bu Kasma pada Medina.

Sebuah nampan yang tidak begitu besar berisi empat gelas air dibawa Medina ke depan. Ada empat orang yang tidak dikenali Medina mungkin tamunya keluarga bu Wira.

Usai mengantar nampan itu, Medina kembali ke dapur. Banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum wanita itu kembali ke rumah sakit.

Tidak ada yang melihat ketika seseorang menarik Medina. Berteriak? Medina tidak bisa melakukan itu.

Medina takut saat mengetahui Raffi-lah yang menarik tangannya. Raut Medina memperingati Raffi agar tidak melakukan hal itu lagi.

"Saya hanya ingin berbicara." Raffi mengambil selembar kertas dan pena.

"Saya mau keluar." cepat Medina menuliskan tanggapannya.

"Dengar dan jawab saya, oke?" bukan hanya Medina. Raffi sendiri takut jika ada yang melihat mereka berduaan di kamar.

Setelah memastikan Medina menurut pada ucapannya, Raffi berbicara.

"Saya telah melakukan kesalahan, dan berjanji akan bertanggung jawab. Kamu ingat kan?"

Medina tidak menjawab. 

"Saya memang telah menikah, dan apakah saya salah jika saya juga menikahimu?"

"Lupakan." Medina meletakan kertas berikut pena yang diberikan Raffi setelah memberikan jawabannya. Bukan ini yang diinginkan Medina. Jauh sebelum akad bersama wanita yang dijodohkan, Medina ingin Raffi memberitahu orang tua. 

Memang Medina tidak bisa memastikan bagaimana masa depan wanita itu setelah mahkotanya direnggut Raffi tapi setidaknya cukup ia yang merasakan kecewa jangan sampai dirinya menyakiti perasaan orang lain, apalagi sesama wanita.

"Nur!"

Medina menghempaskan tangan Raffi. Wanita itu marah. "Sudah cukup mas Raffi membuat saya seperti ini. Cukup saya, jangan terulang lagi."

Dingin wajah Medina menyempurnakan amarahnya. Kali ini bukan di atas meja, melainkan lantai kertas itu dilempar oleh Medina.

"Kamu menolak hari ini, kamu akan menyesal Nur." karena Raffi tidak ingin dihantui rasa bersalahnya. Kendati tidak cinta, Raffi bisa menikahi Medina.

Jikalaupun akan menyesal, Medina tidak akan mengadu, cukup hati yang merasakan. Dari segi apapun yang dilakukan Raffi, Medina tidak siap. Yang dirasakan Medina adalah Raffi telah merampas harga dirinya.

"Saya mohon pikirkanlah." Raffi berharap penuh pada Medina. Tangan Medina berada dalam genggamannya. 

Tidak akan luruh, meski Medina melihat kesungguhan di manik Raffi. Medina belum dewasa tapi ia tahu seperti apa rasa sakit saat diduakan. Wanita itu memang tidak pernah menikah, tapi sakit saat melihat Raffi mengakad wanita lain sementara Raffi telah menyentuhnya.

"Sedang apa kalian?"