Mertua yang Baik

#Rahim_untuk_Suamiku

#Komunikasi

#Dewasa

[18 NOVEL DARK RELIGI

#Bab3

💖 Jangan Lupa Subscribe dan Follow Ani, yaaa…. Makasiii 😍

⚠️Repost Rahim untuk Suamiku by Shireishou

Sejak dulu, Mas Radi juga tak pernah memprotes tentang perutku yang bergelambir, selulit yang muncul di paha, atau tubuhku yang menggemuk dibanding biasanya. Dia jugalah yang melepas kaki kasur dan membelikan karpet tebal agar aku tidak perlu khawatir bayi-bayiku jatuh terlalu tinggi.

Akan tetapi, aku tak bisa melenyapkan kegundahan setiap kali Mas Radi menatap perutku dingin seolah itu adalah hal yang menjijikkan. Aku hanya bisa beristighfar.

"Ummi?" Aku membuka pembicaraan siang itu ketika kami berdua memasak bersama di dapur. Rumah terasa sepi ketika anak-anak bermain di halaman depan menanti makan siang. Jika Ummi ada, urusan dapur, akan selalu dipegangnya.

Dapurku sangat besar meski tampilannya disusun minimalis. Semua alat masak kekinian juga tersimpan dengan rapi dan siap digunakan kapan saja. Mas Radi dulu sering menemaniku memasak. Tiba-tiba dia mendekapku dari belakang, lalu membisikkan ucapan terima kasih sudah membuatkan makanan enak untuk keluarga. 

Kini, semua seolah lenyap. Dapur ini terasa dingin tanpa kehadiran pria yang selama ini mengisi hari-hariku. Hanya karena rahim tak lagi berada di tubuh rapuhku.

Ummi menghentikan gerakannya dan menatapku lekat. Salah satu yang aku kagumi dari beliau adalah sikapnya yang selalu memperhatikan setiap perkataan orang lain dengan serius.

Namun, hatiku ragu untuk berucap. Ummi mungkin sadar hal itu karena beliau mendekat dan mengajakku duduk di meja makan.

"Ada masalah? Ummi iso bantu apa?" ujarnya sembari membelai rambut sebahuku dengan lembut.

Hatiku tak tahan lagi. Aku langsung memeluknya dan menumpahkan segala sesak. Tentang sikap dingin Mas Radi, tentang kekhawatiranku, juga tentang ketakutanku akan masa depan rumah tangga kami. 

Ummi pun tak berkata lebih lanjut dan hanya memeluk sembari membelai punggungku berulang.

Entah berapa lama aku membuat bahunya basah, akhirnya aku bisa mengendalikan diri dan kembali duduk tegak di hadapan Ummi.

"Jadi, soal Mas Radi," bisikku kembali mengulang.

Ummi masih menantiku bicara. Tatapannya masih sama. Penuh kesabaran. Inikah alasan beliau berhasil merawat sepuluh anak sendirian?

"Apa Mas Radi beneran marah rahimku diangkat? A-aku ndak bisa melahirkan sepuluh anak seperti Ummi."

Tiba-tiba tubuhku ditarik kembali ke pelukannya. "Oalah, Nduuuk. Ngono kok yo dipikirno." (Ya ampun, Naak. Gitu kok dipikirin)

Bisa kurasakan pelukannya mengerat sebelum kembali dilepaskan. Beliau menggenggam kedua jemariku. Tangan yang keriput itu justru terasa sangat lembut dan hangat.

"Radi paling cuma syok ae, kok. Kamu ndak usah stres," lanjutnya. "Nanti ASI-mu dikit. Kasihan anakmu."

Aku bergeming sejenak. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk berkata, "Ummi bisa bantu ngomong soal itu sama Mas Radi?"

Tiba-tiba Ummi memindahkan tangannya ke pipiku dan membelainya perlahan. "Maaf. Tapi, ndak bisa. Radi iku ngeyelan. Lagipula, kalian wes nikah. Ummi ora bakal ikut campur soal rumah tangga kalian."

Pancaran sinar mata wanita itu meredup. "Ummi yakin, kowe bisa bikin Radi berubah. De'e tresno banget karo kowe, Nduk." (Dia cinta banget sama kamu, Nak)

Aku mengembuskan napas. Jika memang Mas Radi mencintaiku, mengapa dia tak peduli saat nyawaku sudah di ujung tanduk?

Namun, kata-kata itu hanya berani kutelan kembali dan menyebar pahit di tenggorokan.


***


Perasaanku bersetai-setai setelah malam ini Mas Radi menolak untuk memelukku. Biasanya, jika aku bermimpi buruk dan mengigau, dia akan membangunkanku, kemudian mendekap hingga aku tak lagi gemetaran.

Kali ini, dia hanya membangunkanku dan menyuruh berwudu. Setelahnya dia kembali berkutat dengan laptopnya. Pandangannya begitu dingin ke layar monitor yang bersinar kebiruan.

Kini aku menggigil di kamar mandi. Tindakannya sedingin air yang kini membasuh wajah. Mataku menghangat sebelum bisa kurasakan ada aliran lain menyusuri wajah dari sudut-sudutnya.

Aku sadar betul, mimpi hanyalah bunga tidur. Seburuk apa pun mimpi hanyalah proyeksi ketakutan juga kepedihan kita di hari sebelumnya. Akan tetapi, sejak pulang dari rumah sakit, mimpi bahwa Mas Radi meninggalkanku dengan wanita lain semakin sering terlihat. Sikap tak acuhnya pun semakin kentara. Mau tak mau ada secuil ketakutan bahwa mimpi burukku akan menjadi kenyataan.

Sejak Ummi datang, Mas Radi yang biasanya terkadang masih membantuku turun dari tempat tidur akibat nyeri operasi yang masih terasa, kini tak dilakukannya lagi. Entah karena ada Ummi, atau karena ini sudah satu bulan paska kelahiran. Aku tak mengerti.

Apakah Mas Radi benar-benar tak sudi lagi mendampingiku?


***


"Mama!" Andre si Sulung memanggilku riang Sabtu pagi itu. Aku baru saja keluar dari dapur usai menyiapkan sarapan. "Siang nanti, aku boleh main sama Hafidz?" Matanya berbinar kala menatapku penuh permohonan.

Aku menahan tawa. Tahun depan, dia akan naik kelas delapan, tapi sikapnya masih polos dan ceria seperti bocah kecil.

"Sendirian?" tanyaku sembari membelai kepalanya. Meski cukup dekat jika ditempuh dengan motor, aku tetap saja was-was karena harus melewati jalan besar.

"Sama Ummi. Nanti dijemput Eka." Suara lembut ibu mertuaku terdengar. "Ummi juga mau nengok cucu-cucu."

Ada selisip iri merasuk yang langsung kutepis dengan istighfar. Hafidz adalah anak keempat Fatimah. Sahabat bermainnya Andre.

Berbeda denganku yang baru menikah di usia 31, Fatimah sudah menikah melangkahi Mas Radi di usianya yang kedua puluh. Biasanya orang Jawa tidak mengizinkan ada adik yang melangkahi kakaknya menikah. Setidaknya harus diberi uang pelangkah. Namun, Ummi dan Mas Radi terlihat tak peduli. Selama Fatimah bahagia, kenapa harus menunda pernikahan demi sang kakak yang entah kapan akan menikah?

"Asiyah boleh ikut?" bisikku ragu.

"Asiiik!" Andre bersorak. "Bawa adik-adik semua, ya!"

Aku terkekeh dan ingin menggodanya. "Waduh, ramai dong nanti. Bikin rusuh, nggak?"

Ummi mengelapkan tangan yang berlumur tepung ke celemek. "Ndak opo-opo. Fatimah pasti seneng digeruduk ponakane." Kerut di wajah beliau bertambah kala tertawa, tapi hanya aura kedamaian yang terpancar di sana.

"Ya udah, mumpung adek Mirza bobo, Mama bikinin bola tahu udang kesukaan kamu sama Hafidz, ya!"

Andre melompat-lompat kegirangan dan langsung memelukku serta Ummi bergantian.

Ummi melirikku sejenak. Kepalanya bergerak halus ke arah Mas Radi yang duduk di meja makan sembari bermain gawai. Sejak tadi dia mendiamkan nasi goreng yang sudah kubuat lima belas menit lalu.

Aku tanggap. Ummi memintaku juga mengajak Mas Radi pergi. Aku menarik napas menenangkan diri.

"Mas, mau ikut ke rumah Fatimah? Seru kayaknya kalau…."

"Ndak!" potongnya cepat. Tak ada kata berikutnya ketika dengan sedikit kasar ditaruh gawainya ke atas meja dan mulai menyendok sarapannya.

Lagi-lagi aku menarik napas panjang berharap tidak akan ada tetes air yang jatuh di hadapan anak tertuaku.

💔💔💔

3 July 2021

Kadang heran sama suami yang ngomongnya irit banget. Kan mengkhawatirkan, ya?

Semoga kita dijauhkan dari prasangka negatif antarpasangan. Aamiin