Impian yang Kandas

#Rahim_untuk_Suamiku

#Komunikasi

#Dewasa

[18 NOVEL DARK RELIGI]

💖 Jangan Lupa Subscribe dan Follow Ani, yaaa…. Makasiii 😍

Aku membuka mata. Setidaknya aku merasa begitu. Akan tetapi, hanya kegelapan yang melingkupi. Hawa gigil menyergap tanpa ragu hingga tengkuk pun meremang. Aku meraba-raba sekeliling. Aku bahkan tak bisa melihat kedua tanganku sendiri.

Kosong.

Di mana aku? Apa yang terjadi?

Otakku mengais jawaban di antara sel-sel yang mungkin saat ini tak bisa berfungsi dengan baik. Seiring setiap doa yang kupanjatkan, perlahan ingatan kembali datang.

Di mana bayiku?

Kuraba perut yang ternyata sudah rata. Apa aku masih di meja operasi? Apa aku masih belum bisa tersadar? Apa ini semua mimpi? 

Ya, Allah, apa aku akan mati? Jika memang belum waktunya aku mati, tolong sembuhkanlah aku. Jangan sampai aku menjadi beban suami dan kedua orangtuaku.

Jika memang sudah waktuku, aku ikhlas. Engkaulah yang Maha Pemberi Keputusan Terbaik. 

Kupanjatkan doa sepenuh hati pada Sang Maha Pengabul Keinginan. Allah pasti akan menunjukkan jalan untukku.

Kemudian, samar-samar kudengar lantunan Al Quran yang begitu merdu. Suara perempuan yang terdengar familier. Nada khusyuk itu membuat hatiku hangat. Rasa damai melingkupi jiwa yang entah masihkah memiliki raga.

Namun, otakku masih tak bisa berpikir banyak. Semua masih terasa gelap dan tak berbentuk. 

Tiba-tiba, seberkas cahaya putih meluncur dari kejauhan dan langsung melahapku bulat-bulat. Napasku seperti tertarik dengan cepat dan tubuhku diluncurkan ke bawah.

Saat semua guncangan lenyap, aku mulai bisa merasakan tubuhku sendiri. Suara deru mesin yang lembut, cahaya lampu, botol infus, alas tidur yang sedikit keras, dan aroma rumah sakit yang khas memancing semua indraku kembali.

Kali ini, kucoba membuka kelopak mataku. Rasanya berat sekali. Namun, aku yakin mampu. Aku harus mampu! Kuucapkan bismillah dan sekali lagi aku berjuang menggerakkan kelopak mataku ke atas. Akhirnya aku berhasil meski susah payah.

"MasyaAllah! Mbak Asiyah sadar!" Lantunan ayat suci Al Quran terhenti dan digantikan seruan penuh haru.

Masih agak samar kala kulihat sosok wanita berjilbab lebar dan bercadar bangkit untuk menekan tombol di sebelahku. Mungkin memanggil petugas. Gamis hitamnya melambai seiring gerakannya yang gesit untuk menekan beberapa tombol di gawainya.

"Mbak bisa denger Fatimah?" Kali ini dia menggenggam jemariku erat. 

Aku memusatkan pandangan. Wajah dengan kulit hitam manis yang tersembunyi di balik cadar itu adalah adik iparku. Ada air mata haru menetes di kedua mata bulatnya.

Aku ingin menjawab, tapi tenggorokanku terasa begitu kering. Aku hanya memejam dan membuka mata dengan cukup cepat sebagai tanda bahwa aku bisa mendengar suaranya. Genggaman hangatnya pun kubalas. Untuk bisa menggerakkan tangan saja aku sudah cukup susah payah. Rasanya begitu lelah. 

Sesudahnya, semua terjadi begitu cepat ketika para petugas medis datang dan memeriksa kondisiku. Aku ingin menanyakan banyak hal, tapi rasanya aku masih harus bersabar. Banyak beristirahat mungkin adalah yang bisa kulakukan supaya lebih cepat keluar dari rumah sakit ini.

Aku tak tahu berapa lama pemeriksaan padaku dilakukan sebelum akhirnya keluargaku pun masuk ke ruangan. Ibu, ibu mertua, adik ipar, dan juga suamiku telah berdiri di sisi ranjang.

Selang infus masih bergantung. Tidak! Bahkan masih ada kantung darah di atas sana. Ya, Tuhan! Separah itukah kondisiku?

Mas Radi memandangku selintas sebelum akhirnya berkata pada dokter yang menjagaku. "Dok, apa istri saya sudah boleh diberi tahu?"

Jantungku terasa diremas kuat. Apa bayiku meninggal?

Kugigit bibir bawahku cemas sembari membaca zikir berulang dalam hati ketika dokter itu mengangguk.

"Biar dokter yang menjelaskan." Ibu Mertua tersenyum lembut seolah memberiku waktu untuk bersiap. Namun, aku sangat mengerti, aku tidak akan pernah siap.

Mas Radi hanya mengangguk dan mempersilakan dokter menjelaskan.

"Alhamdulillah, meski melalui proses persalinan yang sulit, bayi Ibu selamat. Bahkan sudah dibawa pulang karena dinyatakan sehat dua hari lalu." Senyum penuh kesabaran itu kembali terpancang.

Dua hari lalu? Aku membeliak. Jantungku berdebar tak karuan membayangkan dua hari anakku tanpa ibunya. "Sa-saya tidak sadar berapa lama, Dok?"

"Ibu sempat koma lima hari. Alhamdulillah saat ini kondisi vital Ibu sangat baik. Kalau stabil, besok sudah boleh pulang." Dokter kandungan paruh baya itu masih tersenyum lembut. Namun, wajah itu sedikit berubah ketika hendak mengatakan kalimat berikutnya.

Ada tarikan napas panjang sebelum akhirnya bibirnya kembali terbuka. "Akan tetapi, demi keselamatan, kami terpaksa mengangkat rahim ibu."

Seolah dihantam palu raksasa, dadaku terasa sangat nyeri. Aku memang takut hamil lagi, tapi pengangkatan rahim sungguh di luar dugaan. Bagaimana reaksi Mas Radi nanti?

Dengan takut-takut, kulirik Mas Radi. Hanya wajah sekaku karang dan tatapan sedingin es yang kudapatkan kala dia balas memandangku.

Ah, aku tahu dia kecewa atau bahkan mungkin marah. Suami yang selalu mengharapkan memiliki banyak anak, kini harus menerima istrinya tak lagi memiliki rahim.

Tanpa sadar, air mataku pun jatuh.

🍁🍁🍁

Nyeri di perutku sangat dahsyat. Sakitnya jauh lebih mengerikan dibandingkan kelahiran putri keempatku. Aku berusaha berlatih sendiri di waktu sendiri. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.

Alhamdulillah, kondisiku dinyatakan sehat. Banyak makan, tidak takut bergerak, dan terus berdoa mungkin adalah penyebabnya. Siang itu, aku resmi keluar dari rumah sakit.

"Pelan-pelan aja."

Suara Mas Radi masih lembut seperti biasa kala membimbingku berpindah dari mobil ke kursi roda. Lengan kukuhnya menopangku penuh kesabaran. Jemarinya yang panjang menggengam tanganku hangat.

Sudah berapa lama ya kami tidak bergandengan menikmati secangkir teh sembari membicarakan apa saja di depan televisi yang sebenarnya tidak ditonton? Sudah berapa lama aku tak bersandar di bahu bidangnya dan mendekap lengan kukuh yang selalu membuatku nyaman?

Entah sejak kapan, aku hanya berjibaku untuk mengurus anak-anak. Tak ada lagi waktu untuk kembali bersantai seperti dulu. Namun, bagaimanapun aku telah menjadi seorang ibu. Bukan sekadar ibu, tapi ibu bagi kelima anakku.

"Sudah siap?" Ada senyum tipis yang kurindukan bertahta di wajahnya.

Hanya anggukan yang bisa kuberikan ketika akhirnya Mas Radi mendorong kursi rodaku dengan lembut masuk ke rumah.

Rumah besar di perumahan elit Jakarta Selatan. Mas Radi yang membelikannya untukku saat aku melahirkan anak ketiga. Rezeki anak, katanya. Kehidupan yang begitu menyenangkan. Yah, meski karena itu, kami sempat kehabisan uang setelah menguras semua aset dan tabungan untuk membeli rumah ini secara tunai. 

Senyum tipis terkembang saat mengingat bagaimana kami masih bisa tertawa saat tak punya beras padahal gajian masih seminggu lagi.

Hingga anak keempatku lahir.

Rumah besar dengan enam kamar ini terasa begitu dingin. Aku menempati kamar depan bersama dua anakku yang terkecil. Anak pertama, Andre sudah punya kamar sendiri di lantai dua. Bagas dan Yoyok tidur berdua di sebelah kamar Andre.

Sementara Mas Radi di kamar utama yang berada di tengah jika sedang tak ingin diganggu. Mas Radi ingin banyak kamar untuk banyak anak-anaknya kelak. Bahkan dia juga membuat aneka ruang serba guna. Ruang kerja, dapur, ruang makan, kolam renang, ruang baca, ruang salat, juga ruang bersantai.

Jika kelak enam kamar tidak lagi cukup, Mas Radi bahkan sudah berpikir untuk mencari rumah baru yang lebih besar.

Mengingat itu, hatiku terasa nyeri.

💔💔💔

3 July 2021

Dengan bodohnya, Ani lupa masukin bab 1. Pantes kok jumlah bab nya ga cocook (kayang)
MAAF, YAA... Sudah diurutkan...