Operasi yang Menyiksa

#Rahim_untuk_Suamiku

#Komunikasi

#Dewasa

[18 NOVEL DARK RELIGI

#Bab2

💖 Jangan Lupa Subscribe dan Follow Ani, yaaa…. Makasiii 😍

⚠️Repost Rahim untuk Suamiku by Shireishou

Jika kelak enam kamar tidak lagi cukup, Mas Radi bahkan sudah berpikir untuk mencari rumah baru yang lebih besar.

Mengingat itu, hatiku terasa nyeri.

Kali ini, Mas Radi membimbingku ke kamar utama. Tak hanya itu, dia juga membantuku untuk tiduran di kasur.

"Mas, Fatimah pulang dulu, ya. Mas Eka sudah otw sambil bawa anak-anak." Adik iparku masih tampak ceria kala bersalaman dengan Mas Radi. Ternyata suaminya sudah berangkat ke sini sembari mengantar putra-putriku.

Binar mata penuh semangat terpancar kala balik menatapku. "Mbak, istirahat yang banyak, ya! Kalau perlu apa-apa, WA Fatimah aja."

Aku berterima kasih dan merengkuhnya erat. Siapa yang menyangka wanita berusia 38 tahun itu saat ini hamil anak kedelapan dari sepuluh kehamilan. Mobilitasnya sama sekali tak terganggu. Bahkan menurut penuturannya, dia sempat menjagaku di rumah sakit bergantian dengan ibu dan ibu mertua.

Dibanding ketujuh saudara Mas Radi yang sudah terpencar ke penjuru nusantara, rumah keluarga Fatimah kebetulan cukup dekat hingga silaturahmi cukup mudah dilakukan. Bahkan anak-anakku dititipkan ke rumahnya saat aku di rumah sakit.

Memang ada juga adik keempat Mas Radi yang juga tinggal di wilayah Jabodetabek. Namun, aku jarang bertemu karena dia begitu sibuk mengurus anaknya yang berkebutuhan khusus. Ibu mertuaku pun sering datang ke sana untuk menemaninya.

Kadang, ada selisip iri pada kesehatan dan betapa subur kandungan Fatimah. Namun, pikiran buruk itu langsung kutepis dengan istighfar berulang. Aku tak boleh menyebabkan ain pada ipar yang paling kusayang.

"Apa kamu perlu Ummi di sini?" Mas Radi membelai rambutku dengan sabar.

Memikirkan wajah keriput wanita berusia 75 tahun itu membuatku tak tega. "Jangan, Mas. Aku nggak tega. Aku nggak apa-apa, kok." Aku berusaha bangkit, tapi nyeri menghantam perutku. Aku setengah menjerit.

"Sst … tiduran aja." Mas Radi menahan bahuku agar tetap rebahan. "Aku akan minta tolong Ummi. Kasihan anak-anak juga kalau nggak ada yang urus."

"Maaf, aku selalu merepotkan Ummi," bisikku penuh sesal.

Mas Radi menggeleng dan tersenyum. "Ndak apa-apa. Sekarang adikku udah punya perawat khusus buat  anaknya. Ummi bisa diminta ke sini. Beliau pasti maklum."

Aku hanya membisikkan ucapan terima kasih berulang. Aku sesungguhnya tak ingin merepotkan. Apalagi Ummi sebenarnya lebih dibutuhkan di sana karena keponakanku terkena cerebral palsy. Namun, jika Mas Radi berkehendak, aku tak pernah mampu membantah.

"Kuambilkan minum, ya! Tunggu sebentar."

Belum sempat aku mencegah, Mas Radi sudah menghilang dengan cepat. Suasana kembali sunyi. Belum ada tanda-tanda Dik Eka datang membawa anak-anak. Fatimah pasti masih menunggu di teras seperti biasa.

Aku menghela napas panjang. Seandainya Mas Radi sesabar ini untuk urusan kehamilan, mungkin pernikahanku adalah pernikahan paling berbahagia.

Mungkinkah dia sudah berubah setelah menyaksikanku di ambang kematian? Mungkinkah nuraninya tersentuh ketika sadar bahwa aku bertaruh nyawa demi mewujudkan cita-citanya?

Ada rasa lega terasa. Mungkin pengangkatan rahim ini tak seburuk yang kubayangkan. Sikap dinginnya barangkali hanya karena dia kelelahan.

"Minumlah, pelan-pelan." Mas Radi menyodorkan sedotan ke mulutku dan membiarkanku mengisap air suam kuku itu perlahan. Kehangatannya meluruh memenuhi rongga dada.

Setelah selesai minum, Mas Radi menggenggam gelasku dan duduk di sisi ranjang. Dia terlihat begitu tenang. Apakah ini saat yang tepat untuk meminta maaf soal rahimku? Aku merasa menjadi istri yang gagal tak bisa mengabulkan keinginannya.

Jika memang dengan meminta maaf, dia bisa kembali seperti dulu, bersimpuh pun aku rela melakukannya.

"Mas?" Aku menatapnya sembari menggigit bibir bawahku gugup. 

Dia menoleh, tapi tak mengatakan apa pun. 

Kuhela napas panjang dan menatapnya serius. "A-aku minta maaf soal rahimku."

Tiba-tiba dia bangkit. "Jangan omongin itu sekarang! Aku mumet!"

Gelas yang diletakan kasar ke atas nakas, juga langkah lebar saat meninggalkan kamar adalah jawaban yang bisa kudapatkan.

Sejak saat itu, aku tak berani lagi membicarakan tentang rahimku. Akan kupikirkan cara supaya Mas Radi tidak lagi menekuk wajah yang menghilangkan ketampanannya.

Pukul sepuluh pagi, Ibu mertuaku datang dengan wajah semringah. Mas Radi yang menjemputnya. 

"Assalamualaikum, Ummi." Begitulah aku memanggilnya sekaligus mempermudah membedakan kala aku memanggil ibu kandung dan mertuaku. Aku langsung mencium tangannya sembari menggendong putra bungsuku.

"Eyaaaaaang!" Keempat anakku yang lain langsung berlarian menyambut nenek mereka penuh suka cita. Pelukan demi pelukan langsung menghujani wanita baya itu. Wajahnya semringah dan terlihat sangat bahagia.

Mas Radi tersenyum tipis di belakang tubuh Ummi. Aku mendekat dan mencium tangannya juga. Saat aku hendak membantu menyeret koper Ummi, dia menepisnya halus.

"Ini berat. Kamu gendong Mirza aja." Lengkung sempurna kembali menghias wajahnya. Dia masih tetap tampan dan gagah seperti bertahun-tahun yang lalu.

Aku kembali merasakan debar di dada. Setiap kali Mas Radi tersenyum, hatiku terasa berbunga. Bagaimanapun juga, dia satu-satunya pria yang pernah mengisi hatiku sampai saat ini. Lelaki agam dengan sinar mata penuh perhatian. Kulit sawo matang dan hidung mancungnya punya daya pikat tersendiri.

Belum lagi Mas Radi tipe pria yang gemar berolahraga. Fitnes bukan hal baru baginya. Koper seberat itu pun diangkatnya dengan mudah melewati undakan ke pintu utama. Masih teringat dia memintaku untuk ikut fitnes di tempat khusus akhwat. Mas Radi bersedia mengantar dan menjemputku. Dia pernah berkata tak ingin melihatku diperhatikan lelaki lain jika ikut kelas fitnes campuran. Rasanya aku melayang menembus langit yang berlapis.

Aku yang memiliki darah Sunda-Betawi ini bisa jatuh cinta pada pria Jawa tulen dengan tutur kata halus itu. Sikapnya yang sopan, langsung membuat ibuku setuju saat dia datang melamar lebih dari sepuluh tahun silam.

"Oh, Masmu tuku bolu cokelat kanggo bocah-bocah." (Oh, suamimu beli bolu cokelat buat anak-anak) Ummi berkata padaku sembari bergerak ke dapur. "Kita potong bolu, ya!" Beliau langsung memberi aba-aba pada anak-anak.

Sorak-sorai terdengar riuh. Ummi selalu mampu membuat suasana rumahku menjadi ceria. Penampilannya sederhana. Jilbab instan hingga siku dan daster batik panjang selalu menjadi andalannya. Kalau di rumah, Ummi hanya menggelung rambut yang nyaris memutih sempurna itu ke atas. 

Aku hendak mengikuti mereka ke dapur, tapi Mirza malah merengek minta susu.

"Sana, susui dulu. Mesakno deweke." ( Kasihan anakmu ).

Aku mengangguk dan berpamitan seraya mengingatkan anak-anakku agar tidak terlalu merepotkan Eyang mereka. Langkahku terhenti di depan pintu ketika Mas Radi baru saja keluar dari kamar depan.

Jika Ummi datang, kamar itu berubah menjadi kamar beliau. Ranjangnya sangat besar bahkan jika ditempati oleh aku dan kelima anakku yang masih kecil-kecil.

Karena itu, aku dan dua anak terkrcilku akan menempati kamar di dekat kolam renang yang sedikit lebih kecil. Meski dibilang lebih kecil, tapi di dalamnya ada satu kasur king size.

"Kamu lapar?"

Belum sempat aku angkat bicara, suara perut yang berdendang lebih dulu menjawab. Aku menunduk malu kala melihatnya tertawa kecil. 

"Aku siapkan kue tiramisunya. Kamu kan ndak suka cokelat."

Lagi-lagi aku kalah. Perhatian kecilnya selalu membuatku memaafkan apa pun kesalahan yang dilakukan. Aku selalu luruh setiap dia dengan sabar menyuapiku kala aku menyusui. Agar asupan giziku cukup, katanya. Membelikanku apa pun yang kuinginkan. 

Sejak dulu, Mas Radi juga tak pernah memprotes tentang perutku yang bergelambir, selulit yang muncul di paha, atau tubuhku yang menggemuk dibanding biasanya. Dia jugalah yang melepas kaki kasur dan membelikan karpet tebal agar aku tidak perlu khawatir bayi-bayiku jatuh terlalu tinggi.

Akan tetapi, aku tak bisa melenyapkan kegundahan setiap kali Mas Radi menatap perutku dingin seolah itu adalah hal yang menjijikkan. Aku hanya bisa beristighfar.

💔💔💔

3 July 2021

Yak, entry kedua untuk lomba inspiring story. Semoga banyak yang mendapat inspirasi setelah membaca ini.

Semoga kali ini bisa masuk KBM 7. Gagal mulu euy dah 3x ekakakak

Yang mau melampiaskan skill sumpah serapah, bisa baca cerita-cerita Ani. Wkakaka Bercandaaaa…. 

Akan tetapi, semoga semua bisa memetik hikmah.

Siap-siap 10 bab hari ini sekaligus. heheheh