Ipar yang Baik

#Rahim_untuk_Suamiku

#Komunikasi

#Dewasa

[18 NOVEL DARK RELIGI

#Bab4

💖 Jangan Lupa Subscribe dan Follow Ani, yaaa…. Makasiii 😍

⚠️Repost Rahim untuk Suamiku by Shireishou

"Mas, mau ikut ke rumah Fatimah? Seru kayaknya kalau…."

"Ndak!" potongnya cepat. Tak ada kata berikutnya ketika dengan sedikit kasar ditaruh gawainya ke atas meja dan mulai menyendok sarapannya.

Lagi-lagi aku menarik napas panjang berharap tidak akan ada tetes air yang jatuh di hadapan anak tertuaku.

Mobil yang dikemudikan Eka meluncur perlahan di jalanan sempit. Kendaraan dengan AC yang nyaris tidak bisa mendinginkan satu ruangan ini berjalan berguncang-guncang di jalanan berbatu. Seingatku, dibeli bekas secara tunai beberapa tahun yang lalu. Mungkin usianya tahun ini hampir lima belas.

Namun, Eka tidak pernah malu menawarkan menjemput Fatimah dan Ummi dari mana pun, kapan pun ia bisa. Meski kadang benda ini harus terseok atau bahkan mogok. Kalau benar pembatasan usia mobil akan berlaku beberapa tahun lagi, pasti benda ini akan langsung masuk museum.

Aku mengerti penghasilan Eka memang jauh di bawah Mas Radi. Bahkan tidak sampai seperdelapannya. Apalagi dengan tujuh anak dan akan segera delapan, tentu bukan perkara mudah melakukan pengaturan pos-pos pengeluaran. Lamunanku terhenti ketika kami tiba di rumah Fatimah.

"Wa'alaikumsalam! Masuuuuk!" Fatimah dengan nada yang selalu ceria menyambut kami. Gamis hitam panjang berkibar seiring langkahnya yang riang untuk memeluk anak-anakku. Mata lebarnya tampak antusias di sela cadar yang dikenakan. Akan tetapi, begitu masuk, helai kain yang menutupi wajah manisnya itu dilepas, walau tetap berjilbab.

"Eh, Bulek udah bikinin bakwan goreeeeng! Sapa sing geleeeem?" Fatimah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Dengan pembawaan seperti itu, kurasa dia cocok sekali jika menjadi guru TK atau SD untuk membantu ekonomi keluarga. Apalagi dia lulusan S1. Sayangnya dia lebih memilih fokus menjadi ibu rumah tangga. 

Ah, aku pun begitu.

"Wah, jadi ngerepotin, Mbak," ujarnya saat aku membantu menghidangkan camilan yang sudah kubuat tadi. Tidak ada piring-piring keramik yang besar dan cantik. Mereka hanya punya piring melamin dalam satu ukuran. Ada beberapa piring kaca hadiah sabun detergen untuk alas gorengan.

Aku pernah ingin membelikan satu set alat makan keramik yang cantik. Namun, langsung ditolak mentah-mentah. Sayang, nanti pecah katanya.

Tak kurasakan kalimat basa-basi di sana. Fatimah selalu tulus jika mengucapkan apa pun. "Enggak repot. Biar tambah meriah makanannya."

Kulihat Fatimah mengelus perutnya yang sudah cukup membesar. "Aku kalau makan masakan Mbak Asiyah terus, bisa tambah jadi kayak gajah!" guraunya.

"Jadi gajah juga tetep ayu, kok!" Eka menimpali sambil mengangkat lengannya ke atas, sementara dua anaknya yang berusia dua dan empat tahun bergelayutan di sana sambil tertawa-tawa.

"Halah, duwe bojo kok gombale puoool!" (Halah, punya suami kok gombalnya maksimal)

Kami pun tertawa bersama.


Brak


Suara benda jatuh yang langsung diiringi jerit tangis terdengar keras. Bagas kini telungkup di lantai. Fatimah langsung datang menghampiri anak keduaku itu. Refleksku bahkan kalah cepat. Mungkin karena aku masih menggendong Mirza.

"Aduh, maafkan Bulek, belum bisa nambal lubangnya. Bagas sakit? Ada yang berdarah?" 

Bahkan Eka langsung mengangkat Bagas dan menggendongnya sementara Fatima mengelus bagian yang kira-kira sakit.

Dalam sekejap, keduanya berhasil membuat Bagas berhenti menangis.

Pandanganku tertuju pada lubang cukup dalam di lantai yang hanya disemen ini. Rumah Fatimah tidak terletak di kompleks seperti milikku. Dia tinggal di perkampungan dengan dinding masih bata yang belum disemen semuanya. Hanya ruang tamu dan kamar yang diplester juga dicat biru. Dapurnya masih bebatuan serta atapnya pun banyak yang bocor jika hujan.

Akan tetapi, tak satu pun kemurungan terasa di rumah ini. Semua terasa bersih dan rapi. Bahkan, rasanya seperti tengah makan di restoran mewah meski siang itu hanya terhidang nasi, sayur bayam, dan bakwan. Aroma sambel ulek buatan Fatimah pun menambah nafsu makan. 

Sungguh berbeda dengan anak-anakku yang kadang minta makanan cepat saji atau akan terjadi gerakan tutup mulut. Namun, kini mereka tunduk di bawah masakan adik iparku. Aku mendesah.

Mas Radi memang tak pernah protes pada masakanku, tapi dia cukup sering mengeluhkan masalah keengganan anak-anak kami untuk makan.

"Dek, gimana sih biar anak-anak mau makan?" tanyaku saat Mirza sudah tidur dan kubantu Fatimah mencuci di belakang. "Anakku suka pilih-pilih makanan. Hari ini mau perkedel, besok bosen. Kadang udah minta lele, dibuatin malah nggak dimakan."

"Enggak ada cara khusus, Mbak." Tangannya begitu cekatan menggosok dan membilas. "Anak-anak harus makan yang disediakan atau ya … kelaparan." Fatimah terkekeh. 

Aku terdiam sejenak. "Enggak pernah minta ayam goreng tepung?" Aku teringat menu sejuta umat untuk anak-anak itu.

Fatimah menggeleng. "Kalau ada rezeki, mending bikin sendiri. Satu potong ayam, dicacah, campur sama bawang, garam, telur, tahu, tepung, dan sedikit penyedap. Bisa jadi banyak. Kriuk juga." Senyum itu tak pernah lepas menghias wajah.

Aku mengeratkan gerahamku. Betapa santai dan tanpa bebannya hidup Fatimah. Bahkan aku sering melihatnya menerima hantaran makanan dari tetangga-tetangga. Kata mereka "mengembalikan piring". Berarti Fatimah lah yang lebih dulu memberi. Bagaimana dia masih sering berbagi padahal ekonominya saja mepet begini? 

Sementara aku, untuk mengeluarkan donasi di luar jatah zakat dan sedekah bulanan saja harus berpikir berulang kali. Mas Radi memang tidak membatasi pengeluaranku sama sekali. Dulu, dia bahkan langsung mentransfer semua gajinya padaku sebelum aku menolaknya. Akhirnya dia memberi tahu aku semua PIN ATM dan i-banking-nya.

Namun, sejak melahirkan Mirza, dia hanya mengirimiku beberapa juta setiap bulan. Aku tak berani bertanya. Toh, itu masih cukup untuk kehidupan sehari-hari. Biasanya sisa gaji akan kusimpan ke bank syariah dan akan kugunakan membeli emas batangan 10-20 gram secara tunai setiap uangnya cukup. Aku lebih suka menabung dalam bentuk emas daripada uang. Mas Radi pun tidak pernah protes akan hal itu.

Tampaknya Fatimah menyadari kegundahanku karena tiba-tiba menghentikan gerakannya. "Mbak lagi ada masalah?"

Aku menarik napas berusaha menahan kata-kata yang mungkin terlontar. Aku tak mungkin menceritakan hal buruk tentang kakak kandungnya, bukan? Bukankah menutup aib suami adalah kewajiban seorang istri?

Ataukah … memang perlu?

Kalau keraguanku serupa asap, mungkin rumah Fatimah akan terlihat mengalami kebakaran hebat. Untungnya, keraguan hanya bisa dipendam dalam diam. Kemudian, ketika tarikan napas menjejalkan oksigen ke dada, maka ketidakyakinan mungkin akan terdesak dan tenggelam. 

Akan tetapi, Fatimah seperti pemburu asap yang siap menangkap setiap liuk kabut tak kasatmata yang menguar dari jiwa seseorang. Dia menatap lekat-lekat seolah wajahku begitu karut-marut tak berbentuk.

Fatimah mengajakku ke kamarnya dan meminta Eka mengajak anak-anakku main di lapangan bersama ketujuh anaknya. Jika ada anak perempuan dan laki-laki bermain bola bersama pukul tiga sore, pasti meriah. 

"Mbak Asiyah kenapa?"

Aku membisu kala kami duduk di atas kasurnya yang terasa keras dan dingin. 

💔💔💔

3 July 2021

Masalah rumah tangga ga selamanya bisa diselesaikan sendiri.

Mencari tempat untuk mendapatkan solusi juga bagus.

Manusia kan makhluk sosial dan butuh sandaran.

Btw, jarang2 dua kategori yang Ani ikutin muncul di beranda barengan. Akibatnya BALAS DENDAM ISTRI TAJIR dan SUAMIKU PREMAN BERTATO masuk di beranda barengan.

Semoga bisa banyak unlock. Aamiin aamiin 

Makasih sudah membaca sejauh ini.