Curhat yang Pilu

#Rahim_untuk_Suamiku

#Komunikasi

#Dewasa

[18 NOVEL DARK RELIGI

#Bab4

💖 Jangan Lupa Subscribe dan Follow Ani, yaaa…. Makasiii 😍

⚠️Repost Rahim untuk Suamiku by Shireishou

"Mbak Asiyah kenapa?"

Aku membisu kala kami duduk di atas kasurnya yang terasa keras dan dingin.

 "Mbak ndak gelem cerita? Fatimah ndak isa dipercaya, tha?" Wajahnya melembut, tapi juga tak bisa menyembunyikan kekhawatiran tulus. 

Aku hanya menggeleng lemah. "Ini soal Mas-mu. Aku nggak bisa cerita kalau soal suami, kan? Nanti dosa kalau menjelekkan suami sendiri."

Sejenak Fatimah tak menjawab sebelum berujar, "Mbak butuh pendapat orang lain?"

Seperti ikan yang menggelepar saat ditarik dari sungai dengan jala, aku terjerat. "Mbak nggak tahu lagi harus gimana." Nada suaraku terdengar bergetar.

Tiba-tiba Fatimah merengkuhku erat. "Lek ndak gelem cerita, ndak apa-apa. Cuma, Mbak mesti tahu, lek Fatimah always ready kalau disuruh gebug Mas Radi seandainya Mas jahatin Mbak."

Segala perasaan sentimentilku ambyar mendengar dialog campur-campurnya. Fatimah yang humoris dan selalu mampu membuat hatiku terasa sedikit lebih ringan. Dia pun melepas dekapannya.

"Memang boleh cerita kekurangan suami ke orang lain?" Aku membuang muka tak berani menatap ekspresi yang akan dikeluarkan Fatimah. 

Tiba-tiba tanganku digenggamnya lembut. "Lek untuk menyelesaikan masalah rumah tangga, kenapa tidak? Asal Mbak yakin orang yang Mbak curhatin mampu ngasih solusi dan ora mung bakal dijadiin bahan ghibah sama wong liya."

Kali ini aku menoleh. Kutelan liurku yang selalu terasa pahit setiap mengingat perlakuan Kak Radi kepadaku.

"Mas Radi marah karena rahim Mbak diangkat. Mbak nggak bisa tepati janji saat menikah dulu untuk memberinya anak sepuluh. Mbak gagal jadi istri."

Aku bisa mendengar suara debas cukup keras. "Mas Radi ngomong gitu ke Mbak?"

Aku tidak mengiakan. "Sikapnya jadi dingin. Memang biasanya dia tidak pernah membantu mengurus anak-anak, tapi sikapnya hangat. Sering membawakan oleh-oleh, memijit, kadang mendengarkan Mbak cerita macem-macem." Aku kembali menarik napas berusaha mencegah semua sesak ini meledak hebat. "Tapi sekarang, buat anter ke sini aja nggak mau. Cuma melengos dan balik ngeliat HP-nya sambil bilang 'ndak' dengan juteknya."

Fatimah tiba-tiba menepuk dahinya keras-keras. "Kakangmas-ku satu ituuuuu!" 

Ada kalimat istighfar meluncur di bibir sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Coba apa kurangnya Mbak Asiyah? Cantik, pinter, bisa masak, jago beres-beres, sabar pula! Kok bisa dicuekin gitu? Hmmm." Jemarinya menopang dagu sembari berpikir. "Padahal dulu, ndak ada yang mau sama Mas Radi. Takut mereka. Soalnya Mas Radi selalu njaluk anak sepuluh."

Mau tak mau aku tergelak. Masih segar diingatan bagaimana aku menyetujui akan melahirkan sepuluh anak saat ia melamarku. Kupikir tidak mungkin ada laki-laki yang benar-benar menginginkan sepuluh anak. Tiga atau empat kurasa sudah cukup.

Aku sangat menyukai anak kecil. Terlalu fokus pada pendidikan, membuatku terlambat mencari jodoh. Siapa yang berani melamar gadis berumur 30 tahun, S2 cumlaude dengan tiga gelar, dan berpenghasilan hampir dua puluh lima juta sebulan?

Meski aku tak pernah memamerkan itu, tidak ada yang berani menyatakan cinta padaku. Kecuali Mas Radi yang dulu adalah atasanku dan tanpa basa-basi langsung kuiakan. 

"Mbak masih cinta kan sama Mas Radi?"

Aku langsung membenarkan tanpa berpikir. Justru karena masih cinta, makanya rasanya bisa sesakit ini, bukan?

"Kalau begitu, Fatimah akan bantu doa agar Mas Radi dilembutkan hatinya. Sementara, Mbak pura-pura ndak adaa apa-apa. Terus bersikap seperti biasanya. Mungkin, Mas Radi hanya syok sementara."

Ah, kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Ummi. Apa benar begitu? Sungguhnya hanya karena syok, mas Radi begitu dingin padaku?

Jauh di dalam sudut hatiku yang lain, aku tidak yakin.

"Tapi," bisik Fatimah kemudian. "kalau Mas Radi sampai melakukan KDRT, langsung bilang Fatimah! Kalau itu terjadi, Fatimah akan ikut campur."

Ditariknya tubuhku dalam pelukannya. "Saat ini, Fatimah hanya bisa mendoakan agar Mbak Asiyah diberi Allah kesabaran. Kalau mau curhat, Fatimah siap kapan saja. Ndak usah ragu buat WA atau telepon. Oke?"

Aku mengangguk dan mempererat dekapan. Kutemukan tempat membagi sedikit beban. Mungkin tidak akan memperbaiki masalah, tapi setidaknya membuat hatiku sedikit lega.

Saat itulah gawaiku bergetar. Kubuka pesan WhatsApp yang masuk. Dari Mas Radi.

"Pulang naik GoCar aja. Aku males jemput."

Saat itu juga aku meneteskan air mata.

Semua keceriaan yang terjadi di rumah Fatimah seolah lenyap ketika Mas Radi tak mau menjemputku pulang. Apa pekerjaannya begitu penting hingga tak lagi peduli padaku? Padahal dulu Mas Radi selalu siap mengantarku ke mana pun. 

Malam ini, aku duduk termangu menatap TV berlangganan yang kunyalakan asal-asalan. Saluran tentang binatang yang biasa ditonton anak-anakku. Penyu-penyu yang biasa terlihat lucu di mataku, kini berubah sendu. Aku justru iri pada kerumunan bayi-bayi yang bergerak bersamaan ke bibir pantai. Pasti senang kalau aku bisa memberikan begitu banyak anak seperti induk penyu itu. Mas Radi pun tak perlu lagi membenciku.

"Belum tidur?" Suara berat, tapi lembut itu menyentakku. Mas Radi bergerak dan langsung duduk ke arahku. 

"Belum, Mas." Sedang memikirkanmu, lanjutku dalam hati.

"Aku kangen." Mas Radi merengkuh bahuku erat. 

Jantungku melompat-lompat tak keruan mendengar kalimat sederhana itu. Apa Mas Radi sudah menyadari kesalahannya selama ini? Apa mulai sekarang dia akan memaafkan ketidakmampuanku memberikan anak untuknya?

Tiba-tiba dia mengecup pipiku dan bergerak mendekapku erat beberapa saat. Aku terbeliak ketika dia bangkit dan mengajakku untuk masuk kamar. Malam itu, tiga bulan bulan paska operasi, Mas Radi bertanya apa kami boleh tidur bersama lagi? Aku pun mengangguk penuh haru.

🍁🍁🍁🍁

Pukul empat, ketika aku terbangun, aku tak melihat Mas radi di sisiku. Aroma tubuhnya masih terhidu dengan jelas, tapi sosoknya sudah menghilang tanpa pamit. Ke mana?

Aku bergegas mandi besar dan menunaikan salat Subuh. Syukurlah Mirza tidur dengan lelap tanpa terbangun semalam. Atau mungkinkah sebenarnya bangun, hanya saja Ummi mampu menidurkannya kembali?

Tak menunggu lama, aku langsung keluar menuju kamar anak-anakku. Pintu kamar terbuka sedikit memperlihatkan keempatnya sedang tidur dengan damai. 

“Ssst, Andrea dan Bagas baru tidur lagi habis salat Subuh. Kalau adik-adiknya memang masih bubu. Ayuk, jangan diganggu.” Ummi berbisik dan menarik lenganku menjauh dari pintu kamar.

Di dapur, Ummi memintaku membantunya menyiapkan sarapan nasi goreng telur sosis. 

“Mas Radi belum pulang dari masjid?” Aku bertanya kala sepuluh menit kemudian, batang hidung suamiku itu tidak muncul juga.

Ummi mengerutkan kening heran. “Dia ndak pamit? Tadi pamitnya mau langsung ngantor. Ada masalah katanya.”

Aku terdiam. Mas Radi langsung ke kantor tanpa pamit padaku? Entah kenapa hatiku terasa sedikit nyeri. Kulirik gawaiku. Kukirimkan pesan singkat yang menanyakan apakah ada masalah di kantor hingga dia harus berangkat pagi-pagi. Tak lupa doa supaya masalah apa pun yang terjadi agar lekas teratasi.


Terkirim.

Dibaca. 


Bermenit kemudian, tidak ada balasan. Aku mengeluarkan debasan pedih. Sikapnya kembali dingin. Padahal malam tadi rasanya semua kembali seperti biasa. Mas Radi yang penuh cinta, Mas Radi yang selalu menjaga dan menyayangiku sepenuh hati. Aku berusaha menahan tangis.

“Ono opo?”

“Mas Radi ndak bales chat Asiyah. Mungkin bener-bener sibuk.” Aku berusaha tersenyum seolah tidak ada sesuatu yang penting terjadi.

Persiapan memasak nasi goreng akhirnya telah siap. Ummi sengaja tidak memasaknya langsung dan menunggu anak-anak bangun terlebih dahulu. Sebagai gantinya, aku mencuci piring dan ulekan yang kotor.

“Ummi, maaf kalau tidak sopan. Tapi, Ummi ndak balik ke rumah?”


💔💔💔

3 July 2021

Piye kok mertua malah diusiiiir….. puyeng kaliii.

Maaf kalau dihantam terus sampe 10 bab, yaaa